OUR NETWORK

Bahasa Indonesia: Malapetaka yang Mulai Luntur Jati Dirinya

Seperti pada kasus pidana Ahok setelah beliau menggunakan bahasa yang kontroversial di mata sekelompok golongan

Ada apa dengan bahasa hari ini? Setelah rentetan bahasa digunakan sebagai alat menjatuhkan lawannya. Seperti yang kita lihat pada saat ini, banyaknya berita-berita hoaks yang bertebaran di mana-mana. Tak lain adalah hasil dari sebuah bahasa yang dijadikan alat dalam berita hoaks.

Contoh-contoh lainnya adalah bahasa dijadikan bukti dalam persidangan untuk memidana lawannya. Seperti pada kasus pidana Ahok setelah beliau menggunakan bahasa yang kontroversial di mata sekelompok golongan. Atau seperti puisi Sukmawati yang kontroversial bagi sekelompok golongan, setelah beliau menggunakan bahasa pilihan dalam puisinya. Terlepas dari itu, bahasa saat ini menjadi sangat berharga atau bahkan sebagai senjata. Mungkin pepatah “Mulutmu harimaumu” adalah yang cocok pada penggunaan bahasa hari ini.

Terciptanya Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia lahir saat Kongres Pemuda Pertama pada tanggal 2 Mei 1926. Tidak banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Bahkan tidak banyak orang mengetahui siapa pencipta dari bahasa Indonesia. Kridalaksana, dalam Seminar Internasional Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia tahun 2017 lalu menyampaikan siapa pencipta bahasa Indonesia. Muhammad Tabrani, wartawan pelopor yang juga pencetus kongres pemuda saat itu adalah yang mengusulkan nama bahasa Indonesia.

Dalam kongres pemuda pertama, Tabrani menentang rumusan M. Yamin tentang butir ketiga pada ikrar sumpah pemuda. Baginya, bahasa persatuan yang dimaksud dalam rumusan itu seharusnya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Sebab baginya lagi, pada butir pertama dan kedua mempersatukan nusantara dengan menyebut “Tanah Indonesia” dan “Bangsa Indonesia”, tapi kenapa dalam bahasa malah menggunakan bahasa Melayu, bukan Indonesia.

Walaupun ditentang oleh Yamin kalau bahasa Indonesia itu tidak ada, tapi Tabrani tetap pada pendiriannya. Terakhir, Tabrani mengusulkan untuk dilahirkan bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda Pertama. Akhirnya kongres pertama ditunda, sampai kongres kedua yang dilaksanakan dua tahun setelahnya.

Bahasa Indonesia Menjadi Malapetaka

Berkembangnya bahasa Indonesia di seluruh nusantara menjadi awal persatuan bangsa. Para pemuda mulai menyuarakan penggunaan bahasa Indonesia di muka umum. Sedikit demi sedikit kaum-kaum pribumi terpelajar mulai meninggalkan bahasa Belanda yang sering digunakan.

Bahasa Indonesia menjadi superpower. Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa ia layak disebut mempersatukan. Ketika antarsuku yang saling tidak mengerti bahasa dari lawan bicara, maka mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ia mempersatukan pembicaraan antarsuku, dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote.

Tidak sampai sana, bahasa Indonesia didukung oleh politik lainnya. Undang-undang Republik Indonesia Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan menjadi pelindung bahasa Indonesia. Salah satunya adalah pada pasal 29 poin (1), “Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional”.

Semua tingkatan pendidikan di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Baik itu pendidikan formal seperti sekolah resmi, maupun pendidikan non formal seperti les. Artinya, selama sekolah itu berada di Indonesia, mulai dari barat sampai timur, utara sampai selatan wajib menggunakan bahasa Indonesia. Tidak peduli mereka bahasa di daerahnya apa, pendidikan tersebut wajib memakai bahasa Indonesia.

Akan tetapi, pada perkembangan bahasa Indonesia yang berhasil menjadi bahasa persatuan, munculah suatu masalah baru. Bahasa ibu atau bahasa daerah mulai mengkhawatirkan setelah lama-kelamaan ditinggalkan. Hal ini menjadi malapetaka dari penggunaan bahasa persatuan tersebut. Sebab sedari kecil, anak-anak Indonesia yang memasuki jenjang pendidikan mulai dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia. Hingga pada akhirnya bahasa Indonesia melekat erat dalam penggunaannya setiap hari.

Belum lagi, faktor dari keluarga, semisal pernikahan dengan latar belakang perbedaan bahasa. Ketika keluarga ini mempunyai anak, otomatis keluarga ini akan mencari jalan tengah dalam perbedaan kedua bahasa untuk anaknya nanti, yaitu bahasa Indonesia. Hal tersebut adalah contoh malapetaka bahasa Indonesia, yang mengancam matinya bahasa daerah, walaupun penggunanya hari ini masih banyak.

Tapi itupun tidak semua bahasa daerah masih mempunyai banyak penuturnya, seperti bahasa Sunda, Jawa, Batak, Bugis, atau Ambon. Lalu bagaimana dengan bahasa Lampung yang diprediksi akan punah sekitar 60 tahun lagi. Bahasa Lampung bisa menjadi santapan bahasa Indonesia di kemudian hari, lalu hilang ditelan zaman.

Eksistensi Bahasa Indonesia Tersaingi

Jika hari ini kita melihat penggunaan bahasa Indonesia, bisa dikatakan derajat penggunaannya berada di posisi kedua di atas bahasa daerah. Atau jika dibuat sebuah piramida, penggunaan bahasa daerah berada di bawah walaupun masih banyak penuturnya. Sedangkan di atas pucuk piramida adalah bahasa asing.

Mengapa bahasa asing berada di paling atas, padahal bahasa Indonesia meluas di semua belahan bumi nusantara. Tidak lain adalah hilang jati diri bahasa Indonesia di beberapa penuturnya. Bahasa asing dianggap lebih keren daripada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dianggap kaku, membosankan, hanya terpaku pada pelajaran di kelas. Banyak yang menganggap bahwa sedari kecil sudah menggunakan bahasa Indonesia, dan mengapa harus dipelajari lagi.

Di era globalisasi saat ini kebudayaan-kebudayaan asing masuk dengan sangat mudah, tidak terkecuali bahasanya. Bahasa-bahasa asing mulai merambah ke semua sudut lapisan masyarakat Indonesia. Mulai dari pemangku kebijakan negara sampai ke rakyat jelata.

Generasi milenial salah satu yang terkena dampak dari era globalisasi ini, hingga pada akhirnya muncul istilah bahasa Jaksel. Bahasa perpaduan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Kasus tersebut adalah salah satu faktor luntur jati diri bangsa, yaitu bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mulai tersaingi oleh bahasa asing. Superpower bahasa Indonesia tidak berlaku jika berhadapan dengan bahasa asing yang dianggap lebih modern dan tidak kuno. Seberapa kuat bahasa Indonesia yang didukung undang-undang tidak membuat bahasa asing menjadi tunduk. Eksistensi bahasa Indonesia tersaingi oleh bahasa asing.

Merenungi bahasa Indonesia

Sejatinya, bahasa Indonesia lahir dari keinginan pemuda-pemuda yang ingin mempersatukan bangsanya saat masa penjajahan. Ketika itu pemuda-pemuda berkeinginan untuk meninggalkan dan membuang bahasa Belanda yang melekat di mana-mana. Pemuda-pemuda dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia yang merupakan jati diri bangsanya.

Namun, hari ini semangat itu telah luntur, jati diri bangsa yang dibangun mulai retak. Bahasa Indonesia mulai tersaingi oleh bahasa asing. Dahulu Bahasa asing sangat tidak diinginkan keberadaannya, namun kini keberadaannya diagung-agungkan. Pemuda-pemuda hari ini seperti menyia-nyiakan semangat perjuangan pemuda-pemuda pada saat Sumpah Pemuda.

Mahasiswa yang sering mendapatkan inspirasi dari lamunan. Bersekolah di Universitas Pendidikan Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…