OUR NETWORK

Bahasa Daerahku Dilupakan, Budayaku Ditinggalkan

Mengherankan

Sangat mengherankan, ketika akhir-akhir ini ada segelintir kelompok atau individu yang gemar sekali membenturkan pendidikan, budaya, dan agama. Tradisi sekaten, larung laut, wayang, tari-tarian (terutama tari Jawa dan Bali), dan sebagainya dianggap ‘klenik’ dan bisa mengikis keimanan.

Ironisnya, institusi pendidikan yang seharusnya bisa menangkal ‘virus’ ini malah ikut andil. Justru dari dalam gedung sekolah, ‘virus’ ini bisa menyebar dengan cepat, melalui guru, kajian keagamaan, dan organisasi ekstra kurikuler.

Awalnya saya pikir kelompok yang getol menyebarkan pemikiran ‘anti budaya’ adalah mereka yang berpendidikan rendah, yang tak paham nilai dari sebuah budaya. Tapi saya salah. Justru kebanyakan mereka merupakan alumni kampus negara-negara Arab, sehingga diberi ‘label’ ustadz, baik karena menjadi guru atau pun pendakwah.

Mereka mengambil mentah-mentah apa yang mereka lihat dan pelajari, lalu menyebarkan paham puritanisme tanpa tedeng aling-aling, sehingga membuat kekacauan di tengah masyarakat.

Eits, tak semua alumni negara Arab seperti itu, banyak pula yang moderat, meski banyak juga yang bertanya-tanya, benarkah kampus-kampus di Arab mengajarkan mahasiswanya melupakan budayanya? Jawabannya: tidak sama sekali! malah berkebalikan. Orang Arab bahkan sangat fanatik dan bangga terhadap budayanya.

Hasil budaya yang lahir sejak masa pra-Islam hingga kini masih dilestarikan adalah seni sastra syi’ir (syair). Dari saking bangganya, syi’ir ini wajib dipelajari sejak sekolah  tingkat dasar hingga perguruan tinggi, baik mahasiswa lokal, maupun mahasiswa asing. Syiir tak hanya dipelari tapi juga dihafal!

Di kampus saya sendiri (di Libya), syiir menjadi mata kuliah wajib dari semester 1 hingga 8, apapun jurusannya! Tak hanya dipelajari secara akademik, syiir sampai saat ini tetap dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Arab.

Oleh sebab itu saya heran, bagaimana bisa mereka yang belajar jauh-jauh di tanah Arab, mempelajari budaya milik bangsa lain sampai ke akar-akarnya, lalu pulang ke tanah air dengan dada busung menjelekkan, merendahkan, bahkan mau menghapus budaya bangsa sendiri? Padahal karena percampuran berbagai suku, budaya bangsa kita lebih berwarna daripada Arab. Tak hanya sastra, bahasa, tarian, seni pertunjukan, hingga makanan, antara daerah satu dan daerah lainnya berbeda.

Lalu,bagaimana dengan pendidikan budaya kita? Bisakah pendidikan kita meniru negara lain yang mewajibkan anak didiknya mempelajari budaya sejak dini? Sejak kapan kita mengalami degradasi budaya sehingga kehilangan identitas bangsa? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dan berusaha dikaji. Tapi hingga hari ini krisis budaya malah semakin memprihatinkan.

Kalau kita melihat ke belakang, artinya kalau mau belajar dari sejarah, kita akan melihat bahwa kesalahan sistem pendidikan sudah terjadi sejak awal pembentukan negara, yaitu ketika pemerintah melanjutkan sistem persekolahan untuk golongan pribumi sebagai sekolah nasional.

Seperti yang ditulis oleh Ajip Rosidi dalam buku Korupsi dan Kebudayaan (2004), bahwa pada masa penjajahan, pemerintah Hindia Belanda mempunyai dua macam sekolah:

Pertama, sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Belanda, seperti HIS, ELS,MULO, AMS, HBS, dan Gymnasium. Di sekolah-sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda itu, sejak awal murid-murid diwajibkan mempelajari kebudayaan, sumber budaya Belanda khususnya dan budaya Eropa umumnya, baik yang klasik maupun yang modern.

Dengan demikian ketika lulus sekolah menengah, ia sudah menjadi ahli waris kebudayaan Eropa yang matang, tahu akan karya-karya klasik Yunani dan Latin, dan mengenal karya-karya modern dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis atau Jerman.

Jenis sekolah yang kedua ialah, sekolah untuk kaum pribumi (si terjajah), yang didirikan hanya untuk memenuhi kebutuhan penjajah akan tenaga murah guna eksploitasi kolonialnya. Karena itu, di sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Melayu atau bahasa daerah  tersebut hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, dengan sedikit ilmu bumi dan ilmu alam sekadarnya.

Sama sekali tidak ada pelajaran yang menghubungkan si murid dengan sumber budayanya sendiri. Memang ada pelajaran bahasa daerah dan Balai Pustaka sebagai penerbit pemerintah yang bertugas menyediakan buku-buku dalam bahasa daerah tersebut, tapi kalau kita teliti, buku-buku terbitan Balai Pustaka waktu itu  kebanyakan saduran atau terjemahan dari bahasa Belanda.

Karena pembentukan sekolah untuk pribumi itu tujuannya hanya memenuhi kebutuhan rezim kolonial akan tenaga murah, maka lulusan sekolah tersebut dipersiapkan dan diserap sebagai pegawai rendah. Mentalitas mengharap menjadi pegawai setelah lulus itu melekat pada sistemnya sampai sekarang. Mereka tidak disiapkan untuk menjadi manusia mandiri, karena mereka tidak mengenal kehidupan masyarakat dan budayanya sendiri.

Celakanya, sistem sekolah untuk kaum pribumi inilah yang dipilih oleh pemerintah Republik Indonesia untuk dilanjutkan dalam negara yang baru diproklamasikan. Kita bisa mengerti mengapa tidak memilih sistem sekolah yang satu lagi, yang mempergunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Hal itu karena meluapnya semangat kebangsaan anti penjajah Belanda waktu itu, sehingga anti terhadap sesuatu yang berbau Belanda. Tetapi pilihan itu mempunyai akibat yang fatal  dan merugikan bagi pendidikan dan perkembangan bangsa kita.

Padahal kita dapat melihat yang lebih inti, yaitu sistem sekolah dengan pengantar bahasa Belanda tersebut merupakan lembaga pendidikan yang mewariskan kebudayaan kepada anak didiknya. Tentu saja, kalau kita melanjutkan sistem tersebut, bukan dengan mewariskan budaya Belanda atau Eropa, melainkan mewariskan budaya kita sendiri. Sistemnya diambil, isinya diubah. Dimanapun di dunia, lembaga pendidikan harusnya menjadi agen pewarisan budaya bangsa.

Selain itu, pemerintah harus mengubah mindset kebudayaaan hanya sekedar komoditas yang dapat dijual melalui pariwisata, tapi harus disadari bahwa kebudayaan merupakan proses yang harus dilalui dalam pembentukan bangsa. Oleh sebab itu kita harus mengapresiasi kini kebudayaan digabung dengan pendidikan, dan bukan lagi menjadi bagian dari Kementrian Pariwisata.

Tapi, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Memang kini bahasa daerah mulai ditinggalkan.  Padahal peranan bahasa daerah sangat penting, dalam kehidupan kesenian dan adat istiadat setempat. Karena itu kalau bahasa daerah lenyap, maka kesenian  dan adat istiadat daerah akan lenyap pula.

Oleh sebab itu, di samping diperkenalkan dengan karya-karya nasional dalam segala bidang, anak didik harus diperkenalkan dengan kebudayaan tradisi daerahnya. Meski begitu banyak pihak yang meragukan apakah pelestarian bahasa daerah bisa berjalan, sebab kurikulum bahasa daerah kini diserahkan ke Pemda.

Di beberapa sekolah (terutama Jakarta dan Tangerang), bahasa daerah tidak diajarkan, malah diganti dengan pelajaran bahasa Jepang atau Mandarin. Penanganan atas masalah ini harus disegerakan, jangan sampai kita baru tersadar setelah bahasa dan kesenian itu telah lenyap dan tak dapat ditolong lagi.

Mommy yang hobi nulis

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…