OUR NETWORK

Bagaimana Sih Orang Kerja Bisa Cari Muka?

Menulis membuat saya amat menikmati dengan apa yang telah saya jalani.

Dulu, seingat saya, awal-awal SMA, facebook kerap saya gunakan sebagai semacam media dailybook/buku harian. Dengan menulis di status, saya melaporkan setiap kejadian yang saya alami. Hampir setiap hari. Saya belajar melakukan pemberian makna sehari-hari melalui itu. Kendati faktor pubertas tertentu, ia tak luput juga menjadi sekadar ajang curhat atau pengakuan dosa.

Awalnya, setiap saya menuliskan sesuatu, saya tak terlalu perduli dengan apa komentar dan berapa banyak like yang nyantol di setiap status. Entah ada yang like atau tidak sama sekali tak menjadi perhatian saya. Pokoknya, saya suka dan terus menulis.

Menulis membuat saya amat menikmati dengan apa yang telah saya jalani. Merasakan asiknya belajar memberi makna terhadap apa yang telah saya alami. Membuat saya mudah bersukur dengan apa yang telah terjadi.  Dan terbukti melatih kepekaan terhadap hal-hal yang sedang dialami.

Hingga saya mengalami momen dimana tulisan itu lambat laun menuai like dan komentar yang positif, dari situ semangat saya semakin berlipat. Entah karena tulisan itu mewakili perasaan pembaca atau mungkin karena pembaca mengalami kejadian serupa dengan yang saya tulis. Namun kemudian saya memergoki ternyata saya lupa diri. Mungkin lebih tepatnya tak tahu diri. Bahwa tulisan itu selalu lepas nasibnya dari si penulis. Ia semacam jejak atau tanda bahwa si penulis pernah ‘ada’ disana.

Akibat tidak waspada atas nasib sebuah karya itulah yang memerosotkan saya menjadi pribadi yang lemah. Betapa tersipunya dan terpengaruhnya saya setiap kali tulisan itu menuai banyak like. Menulis tidak lagi untuk menulis itu sendiri. Menulis sebagai upaya awal pemberian makna perlahan mengalami pergeseran menjadi; menulis demi mendapat banyak keplok. Alias carmuk! Cari Muka. Kenikmatan dan kepuasan batin dalam menulis tiba-tiba lenyap terampas oleh kerendahan nilai semacam itu.

Sebabnya, yang menjadi “majikan” saya dalam menulis bukan lagi kepuasan batin diri sendiri, tapi keplokan dari orang lain. Ketika saya menulis dan tulisan itu tak mendapat respon, maka saya kecewa. Sebaliknya, jika tulisan itu mendapat banyak pujian, saya amat senang. Meski saya tak bermaksud mengatakan bahwa merasa senang mendapat pujian adalah hal yang keliru.

Pergeseran tadi menimbulkan semacam disorientasi aktualitas kedirian. Agaknya, keadaan demikian sebetulnya merugikan. Setidaknya menimbulkan dua kerugian yang beruntut. Pertama, aktualisasi diri menjadi terhambat oleh ketergantungan atas hal yang di luar diri.

Kedua, karena ketergantungan itulah yang akhirnya menuntut untuk berpamrih dan bahkan mengemis. Secara pendidikan mental, jika keadaan seperti ini terulang dan tidak segera dimaintenence maka mental menjadi amat ringkih. Anda boleh tak percaya. Tapi, saya pernah cukup merasakan penderitaan memiliki mental semacam ini.

Dalam konteks tertentu, memang tak diperbolehkan semena-mena menghilangkan eksistensi Yang Liyan dalam setiap pertimbangan keputusan melakukan sesuatu. Namun di sisi lain, betapa terlalu menghiraukan orang lain atas apa yang kita lakukan juga menciptakan kerentanan. Terutama terhadap hal-hal manis sebentuk tipu daya.

Nah, seiring dengan apa yang sedang saya kerjakan hari-hari belakangan, saya menjumpai bahwa dalam banyak bidang, ternyata saya tidak menjadi “majikan” atas diri sendiri. Itulah sumber dari sumber masalahnya. Membuat saya mudah mengeluh dengan apapun yang saya kerjakan. Darisinilah keluhan berasal. Bagaimanapun hasilnya, terasa sukar mensyukurinya.

Padahal, kesadaran bermajikan atas kepuasan batin ini adalah pintu keberkahan. Tidak perlu menunggu menjadi pengusaha atau boss untuk merengkuh kesadaran ini. Biarpun seorang karyawan, tapi jika majikannya adalah kepuasan batin dirinya sendiri, maka kemonceran kariernya bukanlah suatu keniscayaan. Sebaliknya, biarpun ia adalah Boss tapi yang menjadi majikan bukan kepuasan batinnya sendiri melainkan keplok dari orang lain niscaya ia mudah stress.

Bagi karyawan yang kesadaran bermajikan batinnya tumbuh, maka ia bekerja tidak lagi untuk dilihat si Boss, melainkan secara total untuk pekerjaan itu sendiri. Bekerja benar-benar terasa menjadi ajang aktualisasi diri. Dengan begitu, bekerja terasa menyenangkan. Setiap tanggungan (dalam pekerjaan) ia jawab dengan penuh gairah semata demi ongkos kepuasan batin. Otomatis kepuasan batin itulah yang akan membimbingnya untuk lebih disiplin, kreatif, dan produktif. Jadi, imperatif sebuah pekerjaan idaman ternyata tak hanya mensyaratkan betapa sukanya kita atas pekerjaan itu tapi juga kesadaran bermajikan.

Saya bertemu banyak pribadi yang teguh nan mengagumkan yang mereka telah menjadi majikan atas diri mereka sendiri. Hidupnya begitu mengalir dan mengesankan ‘tak dibuat-buat’. Tak jarang juga pribadi macam ini kerap menjadi sumur kebijaksanaan bagi banyak orang. Lalu, bagaimana dengan yang tidak atau belum bermajikan atas batin masing-masing? Hmm mungkin memang tak menderita. Hanya saja akan menjalani cara hidup yang tidak cukup baik.

Sebentuk catatan harian. Daripada endak nulis. Hehehe

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…