Rabu, Januari 20, 2021

Bagaimana Nasib Piala Dunia 2022 Pasca-Krisis Qatar?

Menggugat Nalar, Membangkitkan Fungsi Intelektual

Nalar pernah menjadi dewa maha perkasa dunia manusia. Otoritasnya yang termanifestasi melalui proses Rennaissance dan Aufklarung telah melengserkan referensi kebenaran manusia Eropa kala itu...

Film Kim Ji Young, Born 1982 dan Kultur Patriarki

Kim Ji Young, Born 1982, film asal Korea Selatan besutan sutradara Kim Do Young yang dirilis pada tanggal 20 November 2019 itu sempat menuai...

Menyoal Pin Emas

Menduduki posisi penting dalam tatanan negara sejatinya memiliki 2 (dua) sisi. Di satu sisi, seseorang yang mendapat amanah akan memiliki kesempatan untuk lebih banyak...

Kritik terhadap Media Massa

Sejak reformasi bergulir tahun 1998 lalu, pers telah mengalami suatu tahapan metamorphosis yang luar biasa. Institusi ini telah menemukan wahana kebebasan, terutama setelah diluncurkannya...
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola

People shout slogans as they hold Turkish and Qatari flags during a demonstration in favour of Qatar in central Istanbul, Turkey, late June 7, 2017. REUTERS/Murad Sezer *** Local Caption *** Warga menyerukan slogan sambil membawa bendera Turki dan Qatar dalam aksi demo mendukung Qatar di pusat kota Istanbul, Turki, Rabu (7/6). ANTARA FOTO/REUTERS/Murad Sezer/djo/17

Ketegangan politik regional menerpa kawasan Teluk. Qatar beberapa waktu lalu secara sepihak diputuskan hubungan diplomatiknya oleh Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Libya, Yaman, dan Maladewa. Kejadian ini diprediksikan akan memukul beberapa sektor dalam jangka pendek. Sektor terdampak antara lain pangan, penerbangan, investasi, harga minyak, hingga sepakbola.

Negara-negara di atas tidak sekadar memutuskan hubungan diplomatiknya. Aksi di lapangan dilanjutkan dengan penutupan perbatasan darat dan akses udara. Aksi saling menarik diplomat dan warga negara juga terjadi.

Qatar dan  Sepakbola

Qatar memang bukanlah negara yang besar dalam urusan sepakbola. Namun akhir-akhir ini cukup gencar mempromosikan sepakbola negaranya. Liga Qatar banyak dilirik para pemain besar Eropa yang sudah mulai meredup. Iming-iming gaji tinggi cukup menggiurkan dan mengalahkan pesona liga tua lainnya.

Beberapa pemain tersebut antara lain Xavi Hernandez  (eks Barcelona), Raul Gonzales (eks Real Madrid), Romario (eks Barcelona), Fernando Hierro (eks AC Milan), Stefan Effenberg, Frank dan Ronald de Boer, Marcel Desailly, Sonny Anderson, Gabriel Batistuta, Josep Guardiola, dan lainnya.

Timnas Qatar sendiri kini sedang berjuang di babak kualifikasi pra Piala Dunia 2018. Kompetisi sedang dijalani di Rusia dan berada di posisi terbawah grup. Qatar baru mengumpulkan empat poin dari tujuh pertandingan. Sisa pertandingan adalah  melawan Korea Selatan, Suriah dan China.

Perusahaan Qatar juga rajin mensponsori sepakbola. Qatar Airways tercatat pernah menjadi sponsor dari klub sepak bola paling terkenal di dunia, yaitu Barcelona. Perusahaan besar ini juga nyaris menjadi sponsor tim sepak bola besar Arab Saudi, Al-Ahli. Kesepakatan dibatalkan jelang pemutusan hubungan diplomatik terjadi.

Atas upaya-upaya dan potensi ekonomi besar yang dimiliki, FIFA telah ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Krisi diplomatik tentu akan mengkhawatirkan bagi persiapan dan kepastian pesta olah raga terbesar sejagad ersebut.

Implikasi dan Antisipasi

Persiapan terbesar Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah pembangunan stadion. Pembangunan delapan stadion untuk Piala Dunia 2022 menjadi proyek konstruksi besar yang sedang digarap Qatar sekarang ini.

Krisi diplomatik berpotensi menghambat pembangunan stadion. Bahan-bahan konstruksi, seperti beton dan baja sebagian diangkut melalui darat dari Arab Saudi. Penutupan perbatasan tentu akan mengalihkan rute dan pembelian. Implikasinya mendorong membengkaknya harga dan berpotensi menunda  target penyelesaian. Permasalahan lain akan muncul jika terjadi penarikan tenaga kerja. Mesir misalnya memasok banyak tenaga kerja besar di bidang konstruksi.

FIFA dan AFC sendiri massih tertutup sikapnya pascakrisis diplomatik. Rilis yang dikeluarkan hanya menyebutkan terus terjadi komunikasi intensif dengan Panitia Penyelenggara Qatar 2022 dan Supreme Committee for Delivery and Legacy untuk menangani masalah terkait Piala Dunia 2022.

Jerman dan AS mendukung tindaklanjut pencabutan. Gribdel (2017) selaku Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyebutkan turnamen utama semestinya tidak boleh dimainkan di negara yang secara aktif mendukung aksi teror. Solusi politis diusulkan dicari daripada memboikot Piala Dunia di Qatar. AS sendiri menyatakan bahwa FIFA seharusnya sejak lama mencabut status Qatar untuk 2022.

Implikasi lain jika krisi berkepanjangan adalah tim, pejabat atau penonton yang berkepentingan dengan Piala Dunia 2022 harus menempuh waktu tempuh yang lebih lama. Hal ini dikarenakan tidak bisa lagi transit di negeri sekitar Qatar. Kondisi ini tentu akan menimbulkan biaya tinggi dan keterlambatan.

FIFA penting melakukan kajian dan terus intens menunggu perkembangan kondisi mutakhir. Pilihan yang tepat akan menentukan nasib penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Sepakbola semestinya memang tidak boleh mengikuti kepentingan politik.

Namun jika krisis sescara serius memberikan ancaman, maka pilihan pahit mesti diantisipasi sejak dini. Keputusan harus dilakukan tahun ini, antara tetap atau membatalkan dan mencari alternatif negara lain.

FIFA mesti benar-benar profesional dna independen tidak terpengaruh dan berhubungan dengan pusaran politik konflik. Qatar dapat diminta menyiapkan langkah cepat antisipasi dalam hal penyelesaian pembangunan stadion dan fasilitas. Selain itu juga diminta menyiapkan langkah dalam hal transportasi udara yang tidak menyulitkan dan membebani peserta Piala Dunia nantinya.

Pilihannya hanya ada dua lanjut atau berganti. Pertimbangan lanjut ditentukan oleh kondisi Qatar dalam hal progress persiapan dan strategi antisipasi implikasi krisis. Akhir tahun mestinya menjadi deadline penentuannya. Penentuan mesti melalui studi dan diskusi multi pihak berwenang dan tanpa pemutusan sepihak. Koordinasi dan komunikasi dengan pihak panitia Qatar menjadi kuncinya.

Pilihan berganti adalah pilihan pahit. Sidang FIFA mesti dilakukan segera akhir tahun ini jika kesimpulan memang mengharuskan demikian. Demi menjaga stabilitas, maka penting alternatif pengganti bukan dari negara terlibat konflik, seperti negara Teluk atau Timur Tengah. Pilihan dapat bergeser ke kawasan Asia lainnya. Waktu yang sempit dapat dipertimbangkan untuk pemilihan tuan rumah bersama.

Jika muncul opsi alternatif, maka Indonesia ada asa mengajukan diri kembali. Pilihan logisnya sesuai kemampuan adalah mengandeng negara tetangga untuk tuan rumah bersama. Namun demikain, kemampuan finansial penyiapannya mesti dipertimbangkan seksama.

Sepakbola adalah simbol pemersatu dan perdamaian. Konflik diplomatik Qatar dan negara tetangganya mestinya tidak mempengaruhi dinamika sepakbola. Sepakbola bahkan dapat menjadi pilihan media resolusi konflik mereka.

Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.