OUR NETWORK

Bagaimana Memahami Tagar #2019GantiPresiden?

Terdapat banyak nama-nama beken yang dianggap menjadi sosok kuat selain Mardani selaku pencetus tagar yang membuat suasana perpolitikan nasional 2019 mendatang menjadi kian memanas.

Tahun 2019 sudah berada di depan mata. Hal ini mendorong banyak bermunculan nama-nama yang diprediksikan dapat menjadi penantang Joko Widodo. Salah satunya adalah Mardani Alisera, nama yang masuk sebagai kandidat calon Presiden dan calon Wakil Presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Nama Mardani mulai meramaikan jagat media sosial dengan meluncurkan kampanye ‘2019 Ganti Presiden’, dengan sejumlah program yang dipercaya dapat mengungguli program-program pemerintah selama ini. Tak butuh waktu yang lama tagar ini pun kian ramai diperbincangkan dan menjadi ‘viral’ merujuk pada istilah tren yang paling sering diperbincangkan dalam ranah sosial media.

Sayangnya berdasarkan pemantauan pribadi penulis, narasi yang beredar di dunia maya tidak menunjukkan nama Mardani sebagai figur tunggal sebagai pengusung tagar tersebut. Terdapat banyak nama-nama beken yang dianggap menjadi sosok kuat selain Mardani selaku pencetus tagar yang membuat suasana perpolitikan nasional 2019 mendatang menjadi kian memanas.

Tagar #2019GantiPresiden yang merujuk pada kampanye 2019 ganti Presiden, justru menjadi batu loncatan bagi elit politik nasional yang memiliki ambisi menjadi penantang Jokowi. Dengan dukungan kelompok-kelompok yang memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah selama ini serta ketidakpuasan atas kinerja pemerintahan menjadikan tagar tersebut kian menghangat.

Wacana omong kosong

Foucalt mendefinisikan wacana bukan hanya sebagai sebuah rangkatan kata atau proposisi dalam teks, melainkan sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain. Pada konteks tagar #2019GantiPresiden ramainya perbincangan yang berisikan makna eksplisit, menginginkan seorang presiden yang baru. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak nama-nama yang dapat menggantikan petahana tersebut.

Sejarah mencatat wacana digunakan sebagai alat bagi kepentingan kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya, dan ilmu pengetahuan. Pada konteks ini wacana dominan yang muncul adalah #2019GantiPresiden merupakan bentuk wacana yang didukung oleh kelompok oposisi pemerintahan Jokowi sehingga dapat menghasilkan sebuah wacana yang ramai diperbincangkan. Dengan harapan, kelompok merekalah yang nantikan akan mengisi pucuk pimpinan tertinggi negara tersebut.

Sayangnya wacana tersebut berpotensi menjadi sebuah omong kosong dan terpinggirkan. Foucalt membagi wacana menjadi dua bagian. Pertama adalah wacana dominan yang didukung oleh kekuasaan dalam artian sosial media saat ini tengah ramai oleh para kader serta simpatisan dari partai oposisi pemerintah. Kedua adalah wacana yag terpinggirkan dari wacana dominan tersebut, sebuah pemimpin potensial yang memiliki kualitas menandingi nama Jokowi untuk berkompetisi pada Pilpres 2019 mendatang.

Pada tataran substansi menurut hemat penulis yang terkandung dalam wacana yang terpinggirkan tersebut sudah sepatutnya menjadi sebuah wacana dominan ketimbang terus menggaungkan wacana dominan selama ini. Mengganti Presiden namun tak kunjung menunjukkan nama yang pantas untuk menggantikannya.

Jika hal ini terus dibiarkan, wacana dominan tersebut akan menggiring pada sebuah omong kosong yang berujung kesia-siaan. Bahkan yang lebih membahayakan dari wacana dominan saat ini adalah penggunaan isu sara untuk melegitimasi wacana yang dibawa tersebut tanpa melihat poin pokok pada substansinya.

Hal ini tentu akan kontraproduktif bagi kondisi sosial politik di Indonesia yang secara langsung berdampak pada iklim investasi di Indonesia. Tentunya para investor akan melihat bagaimana Indonesia menjalankan demokrasinya pada tahun-tahun penting seperti Pilpres 2019. Baik pemerintah maupun oposisi mempunyai tugas utama ketimbang memajukan hasrat politiknya untuk meraih kekuasaan, menjaga roda ekonomi negara ini.

Demokrasi adalah kompetisi

Sistem demokrasi yang Indonesia anut menuntut adanya sebuah kompetisi untuk menduduki posisi politis di Negara ini. Di tambah lagi aturan Undang-Undang Dasar 45 1945 yang juga membuka seluas-luasnya peluang bagi siapapun untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin negara juga bangsa.

Wacana mengganti presiden pada tahun 2019 melalui tagar #2019GantiPresiden adalah sebuah buah dari sistem demokrasi yang kita anut selama ini. Hal ini dapat dikategorikan sebagai salah satu mekanisme kompetisi yang pada nantinya menghasilkan satu nama untuk menjadi penantang Jokowi pada pilpres 2019 mendatang.

Sayangnya seperti yang sudah penulis jabarkan, akan lebih baik bagi para pegiat tagar tersebut untuk mulai mencari nama yang memang betul-betul bisa mengungguli kelebihan yang dimiliki oleh petahana serta dapat memahami lebih jauh persoalan kelemahan yang saat ini gagal dipenuhi oleh petahan.

Bila itu semua sudah dilakukan, niscaya tagar tersebut tidak ada keraguan dapat benar-benar menjadi kenyataan. Itu pun jika dilakukan secara ideal. Namun dalam politik apapun bisa terjadi dan kita semua akan menantikan hasil dari tagar tersebut pada 2019 mendatang.

Merupakan sarjana Kriminologi Universitas Indonesia pada bidang Kejahatan Transnasional. Tengah bekerja sebagai asisten peneliti di Center For Detention Studies (CDS). Menyukai isu-isu seputar terorisme, kebebasan beragama atau berkeyakinan, dan isu pemenjaraan. Selain aktif dalam dunia penelitian, ia juga gemar melakukan advokasi terkait isu perkotaaan, khususnya tentang kota kelahirannya. Dapat dihubungi melalui Rinaldi.ikhsan@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.