Sabtu, Maret 6, 2021

Bagaimana Komunitas Kristen Armenia Hidup di Iran?

Perbedaan Makna antara Jihad dan Teror dari Khairul Ghazali

Jihad, kata tersebut selalu dilingkupi oleh ketakutan bagi siapapun yang mendengarnya. Terutama kalangan awam akan menganggap pekikan Takbir dan penggunaan kata Jihad sebagai slogan...

Meredam Hoaks ala Negeri Hitler

Perkembangan hoaks melalui dunia siber saat ini dinilai sebagai ancaman baru bagi stabilitas keamanan negara. Bahkan belakangan muncul wacana untuk menjerat penyebar hoaks dengan...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Sadarkah Makanan Kita Menjadi Sampah

Saat ini ada sebuah kebiasaan yang mungkin secara sengaja atau tidak pada suatu acara atau di tempat makan untuk tidak menghabiskan makanan yang kita...
Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional

Bangsa Armenia di manapun mereka berada seringnya dikenal sebagai penganut agama Kristen yang taat. Misalnya saja di Iran, mengutip World Population Review, pada tahun 2020, sebagian besar dari 250 ribu warga Kristen di sana berasal dari bangsa itu.

Karenanya, Iran termasuk salah satu negara yang banyak didiami bangsa Armenia. Terlebih, bila menelisik sejarahnya, bangsa Armenia, tak terkecuali yang beragama kristen, memang sudah sejak lama mendiami Iran dari masa kerajaan Persia. Hingga sekarangpun, sejak Republik Islam Iran berdiri, pemukiman komunitas Kristen Armenia tetap ada dan hidup rukun bersama warga muslim lainnya.

Bangsa Armenia

Diperkirakan, jumlah bangsa Armenia kini di seluruh berbagai belahan dunia ada sekitar 11 hingga 12 juta jiwa. Sebagai salah satu bangsa tertua, bangsa ini memiliki akar sejarah yang panjang. Sarkis Papajian dalam bukunya berjudul “A Brief History of Armenia” menyebutkan, menurut kepercayaan bangsa Armenia, leluhur mereka adalah Nabi Nuh.

Wilayah asal mereka yang sekarang menjadi negara Armenia dulunya bernama Hayq atau Hayastan, diambil dari nama suku Haik, suku dari keturunan Nabi Nuh yang mendiami wilayah tersebut. Konon, suku Haik nenek moyang mereka ini juga dikenal sebagai pembuat kapal besar Nabi Nuh.

Sejak tahun 40 masehi, ajaran Kristen Nasrani mulai masuk ke bangsa Armenia. Saking eratnya hubungan bangsa Armenia dengan agama Kristen, wilayah asal bangsa Armenia dipercaya sebagai wilayah suci dalam keyakinan Kristen. Disebutkan dalam buku “Sociological History of Christian Worship”, karangan Martin D. Stringer, jauh sebelum Kekaisaran Romawi, Armenia adalah negara pertama di dunia yang mengakui Kristen sebagai agama resmi negara pada tahun 301 Masehi.

Kristen Armenia Iran

Parisa Bakhtiari dalam tulisannya berjudul “The Armenian Quarter of Isfahan” menyebutkan, kedatangan bangsa Armenia ke Iran dimulai pada awal abad 20. Mereka melarikan dari tanah airnya karena serangan Turki Ottoman.

Mengutip Atlas Obscura, pada tahun 1603 Masehi, Sheikh Abbas I dari Dinasti Safavi kemudian menempatkan 150 ribu Kristen Armenia dari Jugha ke New Jolfa yang terletak di pinggir Isfahan. Dalam pemindahan itu, Sheikh Abbas I mengeluarkan dekrit hukuman mati bagi mereka yang menolak. Hal itu terpaksa dilakukan karena ancaman serangan Turki Ottoman yang membahayakan mereka.

Di sisi lain, komunitas Kristen Armenia juga terlibat membantu Sheikh Abbas I dalam perdagangan dan administrasi selama pemerintahannya, serta menyediakan tentara bayaran dalam peperangan melawan Turki Ottoman selama 1603-1618 Masehi. Karena kepatuhannya, kemudian Sheikh Abbas dan raja-raja Persia setelahnya, selalu melindungi kristen Armenia. Tak ketinggalan, pada masa puncak kejayaan Dinasti Safavi pada tahun 1655 Masehi, ketika Sheikh Abbas II mendirikan bangunan-bangunan megah, ia juga membuatkannya untuk komunitas Kristen Armenia.

Kristen Armenia sendiri, sejatinya memiliki sumbangsih yang besar terhadap perkembangan budaya iran. Mereka dianggap sebagai pelopor seni di Iran, mulai dari fotografi dan teater serta bioskop. Misalnya, Alex Sahinyan, orang Armenia yang mendirikan bioskop pertama di Iran pada tahun 1916. Bioskop tersebut memutar berbagai film Rusia dan Eropa.

New Jolfa: Pemukiman Terbesar Komunitas Kristen Armenia

Dimukimkannya komunitas Kristen Armenia di New Jolfa, Isfahan, menjadikannya daerah pusat pemukiman komunitas Kristen Armenia di Iran. Lalu, dalam perkembangannya, pusat pemukiman komunitas Kristen Armenia di Iran terbagi menjadi 3, diantaranya Isfahan untuk wilayah selatan, Tabriz wilayah utara dan kemudian Teheran.

Mengutip Iran Front Page News, di New Jolfa, seiring berjalannya waktu, dibangun Katedral Vank pada 1606 Masehi. Nama Vank sendiri diambil dari bahasa Armenia yang artinya “biara”. Katedral itu dibangun oleh komunitas Kristen Armenia pada masa Sheikh Abbas I. Di bawah pengawasan Uskup Agung David pada tahun 1655-1664 Masehi, Katedral ini sempat mengalami pemugaran besar-besaran sehingga menjadi megah seperti sekarang.

Meski sebagai tempat ibadah umat Kristiani, tetapi bentuk bangunannya justru banyak dipengaruhi arsitektur Islam. Dengan lukisan dan ornamen-ornamen yang menghiasi dinding katedral. Hiasan ini pun kemudian menjadi ciri khas gereja-gereja yang ada di Iran. Winny Marlina, travel blogger, dalam lawatannya kesana berdecak kagum melihat keindahan itu.

“Gereja Vank Isfahan merupakan gereja pertama terunik yang pernah aku kunjungi”, terang Winny. Katanya, dari luar katedral itu tampak seperti masjid, tetapi ketika memasukinya justru lukisan-lukisan memenuhi dinding katedral serta terdapat lonceng seperti dekorasi gereja pada umumnya. Balutan warna biru dan emas membuat katedral ini kuat dengan ciri khas Persia. Lalu, dinding katedral yang berwarna emas menjadi ciri khas gereja di Eropa. “Benar-benar campuran gaya Islam dan Kristen!”, jelas Winny.

Damai di New Jolfa

“New Jolfa, masih menjadi salah satu pusat pemukiman komunitas Kristen Armenia paling populer dengan 16 gereja”, kata Parisa dalam tulisannya. Meski, komunitas Kristen Armenia adalah minoritas di Iran. Akan tetapi, kerukunan antar umat beragama disana sangat erat. Bahkan, New Jolfa, khususnya Katedral Venk juga menjadi salah satu destinasi wisata warga Iran, baik dari kalangan kristiani maupun non kristiani.

Berbeda dengan komunitas Kristen Armenia di negara lain yang didiskriminasi karena minoritas. Di Iran, justru mereka mendapatkan tempat disana. Selain memiliki memiliki ikatan sejarah yang kuat, kesadaran akan perbedaan adalah kunci untuk sesama umat beragama disana saling memahami dan mengasihi. Khususnya, New Jolfa, suasana tenangnya justru menjadi daya tariknya bagi para wisatawan.

Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.