Sabtu, Januari 16, 2021

Bagaimana Empati Bekerja

Karya Nyata untuk Pelajar Indonesia (Refleksi 57 Tahun IPM)

Semua orang yang pernah singgah di muka bumi pasti mempunyai cerita masa lalu. Entah itu menyenangkan, menyedihkan, maupun seabrek perasaan lainnya. Pasti dirasakan oleh...

Menyoal UU MD3 DPR, Mengerikan?

Sudah dua hari belakangan ini rumah Pak Widjojo terlihat sepi tak berpenghuni. Lima puluh meter arah timur dari rumah Pak Widjojo - ada sebuah...

Memilih Diam dalam Pemilihan

Sistem politik yang sedang kita hadapi sekarang ini bernama “demokrasi”. Saya artikan demokrasi ini sebagai kebebasan dalam menyalurkan kekuasaan dari rakyat untuk rakyat. Sedapatnya...

Fenomena Kekerasan terhadap Perempuan dan Filantropi Bernegara

Fenomena kekerasan terhadap perempuan, sepertinya tak lekang oleh zaman. Hal ini dahulu juga dialami oleh perempuan keturunan bangsawan  abad ke 19, seperti Raden Ayu...
bima aditiawan
little person with big heart, and full of hesitation

Jika kamu merasa kasihan terhadap peminta-minta di jalan, sehingga ada keinginanmu untuk memberi sedikit uang, kemudian hidupmu berlanjut dengan biasa saja, bahkan terkadang kau menyembunyikan sekepal rasa bangga karena dari kesuksesanmu kamu dapat memberi dan berlaku dermawan, itu bukan empati rasanya, tetapi hanya rasa belas kasihan dengan bumbu sedikit kepedulian.

Belas kasih yang melahirkan sifat filantropis di antara sesama membuat solidaritas antar manusia semakin menipis. Filantropis semakin popular karena semakin menjadinya ketimpangan kaya-miskin yang dilahirkan oleh praktik industri global dalam bingkai pasar bebas dan globalisasi.

Empati, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Orang bisa mengernyitan dahi ataupun menangis untuk menyatakan empati. Empati adalah sikap paling lunak dari peduli. Jika kamu menangisi tragedi yang terjadi pada manusia, maka kamu sedang berempati. Jika kamu menangisi satu tragedi yang terjadi pada kelompokmu sendiri tetapi tidak mampu menangisi tragedi yang sama yang terjadi pada kelompok lain diluar dirimu, maka kamu hanya berempati dengan kelompokmu, tapi tidak dalam tahap peduli.

Peduli adalah sikap paling tegas dari kesamaran empati. Di dalamnya, terdapat berlapis-lapis sikap, dari yang terluar yaitu welas asih, empati, hingga solidaritas tanpa batas. Kepedulian itu universal. Kepedulian tidak seperti PMI, yang baru datang ketika ada perang. Kepedulian adalah bagaimana perang, yang paling banyak merugikan warga sipil, tidak berlanjut dan meluas. Kepedulian menuntut nilai kemanusiaan yang tajam. Kepedulian menuntut kita berlaku adil.

Bagi Setya Novanto (SN), berlaku dermawan merupakan salah satu agenda tahunan dalam hidupnya. Beberapa waktu lalu, setelah keluar dari rumah sakit karena komplikasi penyakit yang dideritanya, SN berkunjung ke pengungsi bencana Gunung Agung, Bali. Ditengah kesibukannya menjadi politikus kelas wahid di NKRI, SN menyapa warga dengan hangat dan ramah, sembari menawarkan motivasi yang bijak bestari dan adiluhung. Sosok SN yang sungguh demawan nan tampan juga flamboyan juga diikuti oleh banyak korporasi-korporasi “blue chips” yang ingin turut andil dalam program pembangunan, pemberdayaan dan kemanusiaan di bumi “hindia belanda” ini.

Diluar kewajibannya sebagai pihak swasta untuk menyalurkan dana CSR sebagai bentuk “kontribusi nyata” bagi masyarakat Indonesia, program-program bersifat karikatif ini perlu dicermati dalam hal bentuk, sifat dan asal-usul perusahaan tersebut.

Perusahaan multinasional yang berada di sebuah desa dari kabupaten yang tidak terlalu besar dan diperhitungkan, membagikan berpuluh karton susu kemasan ke kantor kepala desa guna dibagikan lagi kepada warganya yang mempunyai anak balita. Perusahaan tersebut juga membangun beragam fasilitas pendukung bagi warga, khususnya peternak di desa tersebut, seperti instalasi biogas di beberapa titik rumah warga. Dari biogas tersebut, warga yang berutung dapat menghemat pengeluaran untuk membeli LPG.

Dalam perusahaan yang sama, kita juga dapat menemukan kasus dimana pekerja (yang juga warga sekitar)dapat diberhentikan secara sepihak, tidak diangkat menjadi karyawan tetap, walau telah mengabdi selama bertahun-tahuan (melebihi kuota tahun yang ditetapkan pemerintah selama 3 tahun), sengketa dengan warga yang melibatkan preman dan militer, juga kasus kecelakaan kerja yang merugikan pihak pekerja (dengan langsung diberhentikan).

Warga sekitar yang umumnya tidak memiliki pendidikan tinggi, dengan mudah direkrut dan juga dipecat dengan alasan-alasan yang tidak proposional, sehingga kerap terjadi gesekan dengan skala kecil (seperti tidak menerima alasan pemecatan atau limbah perusahaan yang mencemari lingkungan dan lahan petani) yang ditanggapi dengan beragam cara, mulai dari persuasif hingga aktif-strategis dengan melibatkan aparat juga preman. Menjaga hubungan yang baik dan mutualis dengan aparat, menjadi strategi bagi perusahaan-perusahaan dengan permasalahan yang kompleks. Menjaga stabilitas produksi dan distribusi barang adalah kunci meraih keuntungan.

Jika perusahaan mengadakan CSR untuk meraih simpati dan meningkatkan awereness kepada brand, maka karyawan “kerah putih”-nya tak mau ketinggalan dalam hal ber-peduli-nan-selfish-ini. Beragam brand infaq-sodakoh yang memajang foto anak-anak yang memelas korban dari perang yang tak kunjung usai hingga bencana alam menjadi incaran untuk “mengurangi sedikit tabungan” yang lumayan itu. Sisanya, mungkin ingin disisihkan untuk traveling, membeli mirorless, atau menggelar resepsi yang megah dan meriah.

Lembaga-lembaga dengan embel-embel agama pun siap menampung uang para filantropik ini. Mulai dari seribu hingga rombongan, pundi-pundi dilembaga ini tidak pernah surut atau mengalami musim paceklik bak petani tembakau Manisrenggo yang mengalami kerugian secara beruntun sejak 2 tahun yang lalu. Menjamurnya lembaga penyalur uang dari para dermawan tersebut mungkin bisa dikaitkan dengan ketidak-jelasan peyaluran dana pajak yang tampak tidak berdampak apa-apa pada kehidupan masyarakat. Menjamurnya lembaga-lembaga filantropik tersebut adalah bukti ketidak-becusan pemerintah dalam menangani warganya.

Bagaimana sikap peduli yang baik?

Saya percaya bahwa kepedulian itu perlu diasah. Mengasah kepedulian berarti juga mengembangkan kepekaan, juga kemanusiaan. Dari keduanya, kemudian melahirkan kesadaran-kesadaran baru, yang menentukan sikap kita pada suatu persitiwa. Memberi donasi saja tidak cukup jika peristiwa yang dihadapi adalah penggusuran sepihak pada petani oleh swasta, bahkan negara misalnya. Kamu juga perlu menentukan sikap dengan beragam cara, baik di media sosialmu atau juga bisa ikut turun ke jalan mengikuti aksi membela yang tertindas tersebut.

Uangmu tidak dapat merubah apa-apa. Bahkan bisa melanggengkan kesengsaraan yang ada. Dengan begitu, hidup akan terus hitam-putih. Yang rajin dan penurut sudah pasti sukses dan kaya. Yang bodoh dan bebal sudah pasti merana dan meliuk lapar. Para motivator akan terus punya lahan penghidupan. Juga pengemplang pajak. Mereka berdua adalah dua penyumbang terbesar dari sikap keseragaman, kerumitan, kedigdayaan juga keputus-asaan generasi ini.

bima aditiawan
little person with big heart, and full of hesitation
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.