Jumat, Januari 15, 2021

Babak Belur Karena Tidak Jujur

Opsi Mitigasi Semburan Lumpur Gas Blora

Setelah sempat booming pada tahun 2006 silam di kabupaten Sidoarjo, kini headline tragedi semburan lumpur kembali naik ke permukaan setelah terjadi semburan lumpur pada...

Nasib Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja Kita

Selama ini di Indonesia mengakar sebuah pemahaman yang diyakini oleh khalayak ramai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula peluangnya mencapai...

Teladan Patriotisme Itu Datang dari Timur

Cerita inspiratif dari Indonesia Timur seakan tak pernah habis. Belum lama ingatan kita tertuju pada Lalu Muhammad Zohri, pemuda asal Nusa Tenggara Barat (NTB),...

Gerakan Perubahan Berbasis Teknologi

Perubahan saat ini begitu cepat kita rasakan. Ibaratkan untuk berada di tempat yang sama saja kita harus berlari. Apalagi untuk maju kedepannya, kita harus...
Suandri Ansah
Esais, humas kata-kata dan juru potret. Mengelola blog temenngopi.co.

Aktifis demokrasi pendukung pasangan Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet ketahuan bohong, bukan ketahuan, tetapi mengaku telah membohongi publik atas penganiaayan yang menimpa dirinya. “Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan sebuah negeri,” katanya saat jumpa pers di kediamannya di kawasan Kampung Melayu Kecil V, Jakarta Selatan, Rabu (3 Oktober 2018).

Mulanya, Ratna mengaku dipukuli orang saat menjawab pertanyaan anaknya kenapa wajah ibunya itu terlihat babak belur. Foto wajah bengep Ratna pun beredar di sosial media. Publik menaruh simpati kepada perempuan yang dipukuli dengan keji. Bersamaan dengan itu, adrenalin politik kubu oposisi meningkat.

Sejumlah tokoh oposisi seperti Dahnil Anzar Simanjuntak, Fachri Hamzah, Fadli Zon dan beberapa punggawa politik Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2018 mengaku menerima foto Ratna dengan kondisi wajah berantakan tak karuan. Bahkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sempat menjenguk Ratna dua kali. Kali kedua, Fadli datang bersama Prabowo Subianto.

Sementara di media sosial mulai berkembang kasak-kusuk bahwa wajah lebam Ratna bukan karena dianiaya. Tak sedikit yang ragu dengan pengakuan Ratna dan pembelaan kubu oposisi. Mereka menilai bengkak di wajah Ratna bukan akibat dipukul melainkan luka karena operasi.

Data penyelidikan kepolisian terkait penganiayaan Ratna beredar ke publik. Dokumen itu menyatakan, nama Ratna tidak tercatat di 23 rumah sakit di Bandung atau laporan Polrestabes Bandung plus 28 Polsek per 21 September hingga 2 Oktober 2018. Kubu Prabowo tetap haqqul yaqin Ratna sudah dianiaya.

Selasa malam, 2 Oktober 2018 Prabowo Cs menggelar konferensi pers terkait kasus Ratna. Prabowo bilang, penganiayaan merupakan tindakan pengecut, di luar kepatutan HAM dan penistaan atas jalannya demokrasi. Sebagai mantan prajurit, Prabowo tentu masih memegang teguh jiwa korsa. Ia tak ingin jika kawan atau anak buahnya terluka. Barangkali ia juga ‘trauma’ dengan terbakarnya mobil Neno Warisman, aktifis gerakan 2019 Ganti Presiden.

Namun, bak digulung tsunami, pembelaan Prabowo Cs yang berapi-api hancur lebur oleh pengakuan Ratna sendiri.  Dia mengaku tak dipukuli di Bandara Husein Sastranegara Bandung sebagaimana cerita beredar. Ia mengaku, benjolan di wajahnya yang seperti bakpau itu ternyata akibat proses operasi.

“Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu,” kata Ratna. Rupanya, Ratna sedang diselimuti ilusi emosional sesaat. Kenyataan ini membuat Prabowo Cs patah hati. Sungguh tega hati perempuan yang digelari Cut Nyak Dien masa kini mengukir-ukir kebohongan demi gengsi karena operasi plastik.

Pegiat seni ini mengaku cerita penganiayaan hanya untuk kepentingan keluarga. Kisah fiktif itu dikarangnya sebagai cangkeman jika ditanya anak-anaknya. Namun, dengan terseretnya Prabowo Cs mau tak mau kasus Ratna akan menjadi komoditas politik. 

Penggaung politik Prabowo-Sandi merespons dengan meluap-luap saat pertama kali kabar penganiayaan tersiar. Beberapa waktu setelah klarifikasi Ratna, mereka tiba-tiba tiarap. Giliran tuyul-tuyul media sosial-meminjam istilah Dahnil- kubu petahana yang menjadi-jadi. Mereka berbalas tagar.

Kata kunci ‘Ratna Sarumpaet’ sempat populer di jagat twitter dan pencarian google dari dua hari berturut-turut sejak kabar pengeroyokan dikonsumsi publik. Kamis, 4 Oktober 2018 kata kunci populer bergeser ke ‘Atiqah Hasiholan’ putri Ratna.

Atiqah menjadi bulan-bulanan warga net di media sosialnya, tetapi tak sedikit pula yang bersimpati.  Rio Dewanto, menantu Ratna juga sempat menjadi incaran publik dalam pemberitaan. Ramai tagar SaveRioDewanto dan 2019GantiMertua. Kebohongan Ratna mengorbankan keluarga tersayang.

Anekdot Politik

Prabowo mendepak Ratna Sarmpaet dari posisinya di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Keberadaan Ratna memang tidak patut dipertahankan di struktural pemenangan. Sebab Ratna dan kebohongannya bisa menjadi kunci melemahkan Prabowo CS dalam gelanggang pencapresan.

Rocky Gerung pernah menyatakan bahwa pembuat hoaks terbaik adalah penguasa, maka keadaan itu berbalik 180 derajat dengan ungkapan Ratna “Saya pencipta hoaks terbaik”. Prabowo Cs babak belur. Mereka perlu membangun ulang konstruksi dan strategi pencitraannya. Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar mengatakan, pihaknya akan melakukan bersih bersih.

Kubu Prabowo menduga Ratna adalah ‘agen’ yang disusupkan kubu petahana untuk mengacak-acak serdadu tempur Prabowo. Sebaliknya, barisan petahana menduga ada motif politik yang dimainkan oposisi dengan tidak melapornya Ratna ke kepolisan atas tindakan kekerasan. Mereka menyebut Prabowo  sedang “bermain jadi korban”. Jadi, Ratna ini milik siapa? Bukan milik Galih tentunya.

Portofolio kebohongan Ratna bisa diingat dari isu penjualan PT. Dirgantara Indonesia kepada RRC. Penjualan yang ia tuduhkan itu tak pernah ada. Mengutip Tirto.id, Ratna juga pernah membuat tudingan bahwa pemerintah telah memblokir uang bantuan untuk Papua sebesar Rp23,9 triliun yang sebelumnya diklaim Ratna berada di rekening seseorang bernama Ruben PS Marey.

Ia menuduh pemerintah telah memblokir rekening Marey sehingga dana dari Bank Dunia tidak masuk. Pemerintah membantah klaim itu seraya berargumen bahwa Kementerian Keuangan dan Bank Dunia tak punya kewenangan untuk menangani rekening perorangan.

Ratna Sarumpaet dikenal sebagai aktifis kemanusiaan dan HAM yang gigih. Ia penulis, pemain, sekaligus pengarah drama. Temanya banyak mengambil tentang HAM, perlawanan terhadap kekerasan pada wanita, dan kebebasan berpendapat dan berkumpul.

Ratna Sarumpaet adalah pembela buruh yang kekeh. Marsinah, aktivis buruh perempuan yang dibunuh ketika memperjuangkan hak buruh di tempatnya bekerja ia bela. Dia pernah membuat membuat pertunjukan Marsinah Menggugat di beberapa kota. Ratna menjadi simbol perlawanan dari kaum perempuan. Dia pernah juga dianugerahi Female Human Rights special Award dari The Asia Foundation For Human Rights di Tokyo, Jepang tahun 1998.

Ratna banyak berkutat dengan kasus yang ia kerjakan secara suka rela untuk membantu mereka yang dikebiri hak-hak kemanusiaannya. Ratna kerap hadir di reruntuhan penggusuran, disudut-sudut perlawanan para demonstran. Ia seperti ibunya, Julia Hutabarat, yang juga aktif di dunia pergerakan. Ia kritis seperti ayahnya, Saladin Sarumpaet.

Khusus kebohongan Ratna yang terakhir ini malah terdengar lucu. Ia mudah diingat dan diceritakan. Apakah kebohongannya murni bagian dari sifat khilaf manusia atau memiliki rencana politik tertentu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan.

Yang pasti, Ratna Sarumpaet menambah anekdot politik yang pernah terjadi di negeri ini. Bersama Raja Idrus dan Ratu Markonah, Cut Zahara Fona yang mengaku mengandung bayi bisa mengaji,  Menteri Agama era Presiden Megawati, Said Agil Husin al-Munawar, Andi Arif dan teori Piramida Garut-nya. Ratna Sarumpaet babak belur oleh kebohongannya.

Bohong, kamu tukang bohong. Bohong, ku tak percaya…  Begitu pembuka tembang lawas berjudul Bohong yang terdapat dalam album ketiga K3S bertajuk Bohong yang dirilis pada 1987. Ternyata, lagu itu masih saja enak diperdendangkan sampai saat ini.

Suandri Ansah
Esais, humas kata-kata dan juru potret. Mengelola blog temenngopi.co.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.