OUR NETWORK

B.M. Diah Penyelamat Tulisan Tangan Naskah Proklamasi

Kini berkat tindakan yang dilakukan oleh B.M. Diah, kita bisa merasakan dramatisnya proses pembuatan teks proklamasi karena teks tulisan tangan tersebut ada coretan coretan pada kata yang tak terpakai saat kalimat proklamasi itu disusun oleh para pendiri bangsa tersebut.

Entah apa jadinya jika Burhanuddin Muhammad Diah tak memungut kertas yang dibuang oleh Sayuti Melik ketika ia telah selesai menyalin tulisan tangan itu ke dalam mesin ketik. Mungkin kita tak akan pernah melihat konsep naskah proklamasi yang berupa tulisan tangan yang ditulis Soekarno dan didiktekan oleh Hatta tersebut.

Kertas lecek itu memang sempat terabaikan dan dicampakkan begitu saja oleh para para pelaku sejarah yang terlibat dalam proses pembuatan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda tersebut . Untungnya, di antara yang hadir pada saat itu ada sosok yang sangat perhatian terhadap nilai sebuah bukti otentisitas arsip. Ia adalah tokoh pemuda yang memaksa Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan juga seorang wartawan.

Burhanuddin Muhammad Diah atau yang lebih dikenal B.M. Diah, dialah sosok yang menyimpan kertas tulisan tangan naskah proklamasi itu bertahun tahun sebelum akhirnya menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Tokoh kelahiran Aceh 7 April 1917 ini dikenal sebagai tokoh pers nasional, pejuang kemerdekaan, dan sempat menjadi diplomat serta pengusaha sukses di Indonesia.

Masa kecil B.M. Diah banyak dilewatkan di kota kelahirannya. Menginjak remaja, Burhanuddin mulai hijrah ke Jakarta dan belajar pada lembaga pendidikan Ksatrian Institute yang dipimpin oleh Dr. E.E. Douwes Dekker. Meski di situ ia memilih jurusan jurnalistik, akan tetapi seluk beluk dunia kewartawananya ia pelajari secara pribadi dari Douwes Dekker.

Setelah menamatkan pendidikannya, B.M. Diah kembali ke Medan dan menjadi redaktur harian Sinar Deli. Setengah tahun kemudian ia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai tenaga honorer di harian Sin Po.

Pada zaman pendudukan Jepang, B.M. Diah juga pernah dipenjara karena ketahuan bekerja di dua tempat. Saat itu ia bekerja sebagai penyiar di Radio Hosokyoku dan merangkap bekerja di harian Asia Raya .

Burhanuddin Muhammad Diah termasuk wartawan pejuang karena pada akhir September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, Ia bersama rekannya Joesoef Isak dan Rosihan Anwar bahu membahu mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan jepang, Djawa Shimbun, yang menerbitkan harian Asia Raya.

Berkat keberaniannya itu, percetakan tersebut akhirnya bisa direbut tanpa perlawanan dan berhasil dikuasai oleh orang orang Republik.

Pada bulan Oktober 1945 B.M. Diah mendirikan Harian Merdeka bersama Yoesoef Isak dan Rosihan Anwar. Surat kabar ini ia pimpin sampai akhir hayatnya di tahun 1996.

Di bidang pers banyak sekali pemikirannya yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Melalui alat penyiarannya, Harian Merdeka, berita-berita sekitar perjuangan bangsa dan negara, khususnya berita sekitar Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia bisa disebarkan ke masyarakat dengan cepat.

Kisah Kertas Lecek yang Melegenda

Ada beberapa kisah menarik yang tak banyak diketahui orang perihal proses pembuatan naskah proklamasi ini. Salah satu kisanya yang menarik adalah saat ia memungut kertas naskan proklamasi tulisan tangan dari tempat sampah karena dianggap oleh Sayuti Melik sudah tak berguna lagi.

Seperti yang dikisahkannya dalam buku biografinya, Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman yang ditulis oleh Dasman Djamaluddin dan diterbitkan oleh Pustaka Merdeka tahun 1992. Dalam buku ini B.M. Diah mengungkapakan bagaimana ia menyimpan naskah yang sebenarnya sudah dibuang oleh Sayuti Melik ke tempat sampah.

Ia mengungkapkan bahwa setelah naskah tersebut disalin oleh Sayuti Melik, naskah tersebut dibuang ke tempat sampah begitu saja. Tapi, naluri B.M. Diah yang saat itu sudah menjadi wartawan, mempunyai insting untuk menyelamatkan bukti bukti setiap momen atau peristiwa.

Ia memungutnya dari tempat sampah di rumah Laksamana Maeda saat naskah tersebut dibuang oleh Sayuti. Teks itu lantas ia kantongi dan ia simpan sepanjang lebih dari 40 tahun lamanya sebelum diserahkan ke pemerintah Republik Indnoesia pada tahun 1992. Kertas lecek itu ia bawa ke mana mana saat ia berdinas sebagai Duta Besar di Cekoslovakia, Inggris dan Thailand antara tahun 1959 hingga 1968.

Salah satu alasan yang dikemukakan Diah saat ia mengantongi kertas yang sudah lecek itu karena ia takut dokumen itu akan dibuang kembali jika diserahkan ke beberapa tokoh yang ada di rumah Laksaman Maeda saat itu karena dianggap sudah tidak terpakai lagi.

Kini berkat tindakan yang dilakukan oleh B.M. Diah, kita bisa merasakan dramatisnya proses pembuatan teks proklamasi karena teks tulisan tangan tersebut ada coretan coretan pada kata yang tak terpakai saat kalimat proklamasi itu disusun oleh para pendiri bangsa tersebut.

Keberadaan konsep memang sering kita abaikan karena ketidaksadaran kita bahwa konsep itu adalah petunjuk penting adanya kegiatan atau peristiwa karena dokumen tersebut terlibat di dalamnya.

Meski secara otentik naskah proklamasi yang diakui adalah hasil ketikan Sayuti Melik, Namun keberadaan kertas konsep tulisan tangan Soekarno yang redaksinya didikte oleh Hatta itu adalah termasuk arsip penting sebagai memori bangsa.

Teks tulisan tangan yang disimpan Diah ini laksana nyawa bagi teks proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik. Tanpa adanya kertas lecek itu kita mungkin tidak bisa melihat latar belakang yang mempengaruhi proses pembuatan naskah proklamasi kemerdekaan negara kita tercinta ini.

Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…