Senin, November 30, 2020

Azwar Anas, Please Deh Tidak Usah Baper!

Pagebluk dan Ekonomi di Timur Negeri

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan II. Tercatat, ekonomi Provinsi NTT mengalami kontraksi sebesar 1,96...

Rocky Gerung dan Upaya Mengajarkan Kesadaran Kritis

Siapa yang tidak kenal Rocky Gerung? Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pendiri SETARA Institute dan peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), akhir-akhir ini...

Jokowi Naik KRL ke Bogor: Keren

Presiden Joko Widodo Rabu sore pukul 17.45, 6 Maret usia kerja naik KRL dari Tanjung Barat, Jakarta Selatan menuju Bogor. Bukan tanpa alasan naik...

“Eksistensi” Karnaval Seni 16

Karnaval Seni 16 merupakan kegiatan mahasiswa angkatan 16 Institut Seni Indonesia Padangpanjang sebagai wadah ekspresi, kreativitas dalam  berkesenian di lingkungan kampus. Karnaval Seni 16 berlangsung...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Siapa yang tak kenal Azwar Anas, orang nomor wahid di Banyuwangi terkenal karena program pembangunan dan kepeduliannya akan kondisi wong cilik. Kala itu, berkat etos kerjanya yang tinggi dalam membangun Banyuwangi, PDI Perjuangan lantas memilihnya untuk mendampingi Gus Ipul di Pilgub Jawa Timur.

Otomatis namanya semakin populer di saat PDIP secara resmi mengumumkan ke publik perihal pencalonannya sebagai Cawagub Jatim mendampingi Gus Ipul. Sejagat maya Jatim mengenalnya berbarengan dengan ramainya baliho (foto-fotonya bersama Gus Ipul) yang terpampang narsis di pinggir-pinggir jalan seluruh pelosok Jatim, tak terkecuali di Madura.

Dalam sepekan ini, namanya menjadi sorotan awak media karena pengunduran dirinya sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur mendampingi Gus Ipul. Sungguh tragedi yang begitu menyayat hati para pendukungnya. Tidak ketinggalan, para pengamat politik juga ramai membincang ihwal pengunduran dirinya dari kontestasi politik lima tahunan Jawa Timur ini.

Terlihat jelas gurat kekecewaan dari sejumlah “penggilanya” menyusul pengunduran dirinya sebagai pendamping Gus Ipul. Bagaimana tidak kecewa? Dia yang dielu-elukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur, tiba-tiba membuat keputusan di luar nalar sehat. Mengundurkan diri disebabkan beredarnya foto tak senonoh diduga (mirip) dirinya dalam foto tersebut.

Sebagaimana dilansir Liputan6.com, 07 Januari 2017, dia mengaku ada pihak-pihak yang menggunakan segala cara yang mengorbankan kehormatan keluarganya, rakyat Banyuwangi dan Jawa Timur, serta para ulama yang selama ini membimbingnya.

Juga, dia mengaku, bahwa diri dan keluarganya kerap mendapatkan teror menjelang Pilgub Jawa Timur mendatang. Dia juga menegaskan, ada pembunuhan karakter pada dirinya juga keluarganya. Betapun beratnya keputusan Azwar Anas, merupakan pilihan dan kebebasan dirinya. Kita harus menghargai pilihan serta kebebasan itu.

Tapi, Azwar Anas, please jangan baper alias bawa perasaan ke ranah politik kita. Kamu tahu kan, ini politik, bukan lomba lari karung ataupun lomba makan kerupuk seperti dalam pagelaran lomba Agustusan. Kamu itu bukan ABG alias anak baru gede dalam dunia perpolitikan tanah air.

Sudah banyak garam dan aneka ragam bumbu politik yang kamu cicipi. Semua orang tahu itu. Masak hanya gara-gara isu “paha” yang murahan itu kamu baper dan mengundurkan diri sebagai pendamping  Gus Ipul di Pilgub Jatim. Kasian beliau lah, beliau sekarang lagi galau, gara-gara di-thalakin kamu

Bukankah kamu sudah tahu dan diajarkan sejak di bangku kuliah dulu, bahwa politik itu kotor. Politik kita itu adalah politik hutan rimba. Siapa yang paling kuat, dialah yang akan bertahan dan menjadi penguasa. Pilihannya hanya dua, kalau tidak membunuh maka dibunuh. “Humo homini lupus” (manusia saling memakan sesamanya, bagaikan serigala), kata Thomas Hobbes. Manusia yang lain bisa memangsa dan mengorbankan manusia yang lain demi mencapai tujuannya. Sehingga terjadilah apa yang disebut bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua)

Jadi tidak perlu risau dan baper segala, jika politik kita acapkali memainkan apa yang kita sebut black campaign (kampanye hitam), karena ini sudah menjadi ciri khas dalam dunia perpolitikan kita dewasa ini. Saling menjatuhkan itu hal biasa. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, toh semuanya ingin mencapai tujuannya (baca: menang) dalam pilkada kali ini.

Di negara yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini, tidak usah berharap banyak pada politik yang ideal atau yang biasa disebut high politik oleh banyak orang. Karena itu hanya ada di ruang-ruang kampus, kelompok-kelompok diskusi, pojok-pojok warung kopi dan di dalam tumpukan buku-buku ilmiah yang seringkali kita gandrungi.

Kewarasan dalam berpolitik, kini sudah tidak lagi menjadi ghirah dalam dunia perpolitikan kita. Karena politik kita, sejauh ini sudah berubah wujud menjadi apa yang disebut kegilaan dalam berpolitik. Tidak berlebihan kiranya ketika saya mengatakan, bahwa politik kita sudah terkontaminasi oleh apa yang disebut politik machiavelistik (menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan politik).

Menghalalkan segala cara dalam dunia perpolitikan kita dewasa ini sah dilakukan. Jadi tidak ada yang salah dengan penyebaran foto paha dan foto diduga (mirip) Azwar Anas yang tak senonoh, jika memang bertujuan politis. Misalnya, untuk mencegalnya maju mendampingi Gus Ipul di Pilgub Jatim mendatang.

Bukankah ini sudah kaprah dalam konstelasi perpolitikan kita dewasa ini, sebagaimana Jokowi dituduh PKI atau Prabowo yang dianggap melakukan pelanggaran HAM pada Pilpres kemarin. Atau Ahok yang telah dituduh menista al-Qur’an menjelang Pilkada DKI Jakarta kemarin, hinggga dia didemo oleh ribuan umat Islam hingga berjilid-jilid itu. Dan akhirnya dia dipenjara hingga sekarang.

Tapi mereka tidak baper kok. Tidak tiba-tiba mengundurkan diri dari pencalonan. Kenapa? Karena mereka sadar, bahwa alam politik kita sudah tidak waras alias edan. Jalan satu-satunya harus ikut edan dalam berpolitik, supaya tidak dituduh gila sendirian. “Saiki jamane edan, yen ora edan ora keduman”, kata Ronggowarsito dalam petikan syairnya.

Azwar Anas rupanya harus banyak belajar kepada ketiga tokoh di atas. Jadi hentikanlah bapermu! Karena baper itu hanya akan “membunuhmu”. Ingat! Kamu itu pemimpin juga politisi, bukan anak baru gede (ABG) yang baru jatuh cinta lantas patah hati, lalu bunuh diri, eh.

  

 

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.