in

Ayat 360


Beberapa waktu yang lalu dan sepertinya hingga saat ini, marak sebuah aplikasi telepon pintar yang hampir digunakan oleh semua pengguna smartphone, terlebih buat golongan kaum hawa. Aplikasi yang dapat digunakan untuk mengambil gambar menggunakan kamera smartphone itu sendiri. Dengan beragam fitur yang berfungsi untuk mengedit hasil tangkapan kamera sesuai dengan keinginan penggunanya.

360, itulah nama aplikasi yang sangat digandrungi oleh para pengguna smartphone, terlebih bagi kaum remaja putri. Tidak sah rasanya jika berfoto dan tidak menggunakan aplikasi tersebut. Wajah yang sebelumnya penuh jerawat bisa menjadi mulus dengan aplikasi itu. Yang sebelumnya gelap, bisa menjadi kinclong dengan aplikasi itu.

Membangkitkan rasa percaya diri, mungkin itu salah satu alasan para penggunanya. Sepertinya memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan, karena hal ini bersifat privasi. Namun, perlu diperhatikan bahwa fenomena ini sesungguhnya memberi gambaran kepada kita akan kondisi karakter generasi mudanya. Kepercayaan diri sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda. Tanpanya, seseorang akan mudah merasa minder, malu yang tidak pada tempatnya, bahkan bisa mengakibatkan depresi yang pada gilirannya berujung pada upaya bunuh diri. Aplikasi ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri penggunanya untuk tetap eksis di dunia maya.

Seorang orangtua dianjurkan untuk tidak membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain untuk menjaga kepercayaan diri anaknya sendiri. Sangat sering terjadi di masyarakat kita orangtua yang memarahi anaknya karena tidak mendapat nilai bagus dalam mata pelajaran sains –misalnya- sambil menyebut-nyebut anak tetangga sebelah yang sering meraih nilai tinggi. “Liatko itu si anu ! dapat 100 terus matematikanya padahal tidak minum susu terusji tiap hari kayak kamu”. Kalimat yang biasa terlontar dari mulut orangtua, yang masih belum sadar bahwa anaknya pasti memiliki bakat di bidang lain –selain sains- yang justru seharusnya menjadi fokus dukungan orangtua untuk mencarinya. Di saat yang sama pula, tanpa disadari, sang orangtua sedang mengerdilkan kepercayaan diri anaknya.

Baca Juga :   Polarisasi Sosial Media Sosial Pasca Pilkada Jakarta

Anak yang tumbuh dalam kepercayaan diri yang kurang akan menjadi minder dan bermental kerupuk. Ia akan susah mengarungi kehidupan secara mandiri karena rasa takut salah, takut mencoba dan takut berbeda. Pada akhirnya, orangtua sendirilah yang akan kerepotan. Betapa banyak anak yang sudah dinikahkan namun tetap bergantung pada orangtuanya.


Dengan aplikasi kamera 360, memang kepercayaan diri itu akan timbul. Namun, hanya bersifat semu. Wajar terjadi, karena memang ia digunakan di dunia yang semu (dunia maya) pula. Selepas mengupload foto editan 360, penggunanya akan berusaha sebisa mungkin tampil di dunia nyata dengan penampilan yang sesempurna mungkin sebagaimana gambaran dirinya di dunia maya. Masih untung jika tidak ada kerabatnya yang mengetahui keaslian rupanya. Jika ada, ia akan menjadi sasaran empuk bullying, tidak hanya di dunia maya, tapi lebih-lebih di dunia nyata.

Tampil dengan apa adanya, baik ataupun buruk. Itu salah satu kandungan dari segala nasehat orangtua kita  mengenai kejujuran. Sebuah kalimat bijak berbahasa arab menyebutkan: qul al-haq wa law kaana murr[an]. Artinya: katakanlah yang benar walau pahit rasanya. Tampil dengan penampilan yang sederhana meskipun rapi di lingkungan yang berpenampilan glamor akan pahit rasanya. Akan tetapi, akan lebih pahit lagi jika anda ketahuan berpura-pura tampil mewah padahal anda tidak mampu. Orang bijak yang melihat anda tentu saja mudah menebak bahwa kepercayaan diri anda sedang bermasalah.

Baca Juga :   Tragedi Rohingya dan penerimaan pada pengungsi lintas batas

Orang yang percaya diri tidak akan melakukan hal itu karena ia percaya bahwa dirinya memiliki karakter sendiri. Orang percaya diri percaya bahwa dirinya tidak bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Sebaliknya, justru ia yang memengaruhi lingkungan. Orang yang minder adalah orang lemah, sehingga mudah didikte dengan lingkungannya.

Sebuah nasehat bijak penulis temukan dari buku biografi pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab yang berjudul Cahaya, Cinta dan Canda M. Qurasih Shihab. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa beliau tidak mau memakai baju pinjaman jika tampil di tv. Alasannya, lebih baik tampil dengan keaslian kita walaupun sederhana, dibandingkan tampil mewah padahal semu (pinjaman). Alhasil, salah satu syarat beliau, semua baju-baju dari sponsor acara saat tampil di layar kaca harus menjadi milik beliau. Dan sudah menjadi tradisi di dalam keluarga beliau menjadikan baju-baju itu sebagai hadiah lebaran kepada para anak, menantu dan cucu-cucu.

Tampil dengan apa adanya, tidak juga berarti bahwa anda tidak menghargai norma-norma yang ada. Islam dalam QS. al-A’ra>f[7]: 31 mengajarkan untuk memakai pakaian terbaik ketika hendak ke masjid. Pakaian terbaik tentu saja tidak mesti harus yang mahal dan mewah. Pakaian yang terbaik adalah yang paling sopan  menurut kemampuan anda. Bukan kemampuan orang lain.

Namanya Camera 360, bisa jadi memang bertujuan untuk membalikkan fakta sebesar 360 derajat. Itu hanya praduga penulis setelah menghubungkannya dengan realita penggunanya. Tentu saja, yang paling mengetahui alasan penamaannya adalah pembuatnya sendiri.

Baca Juga :   "Agama Karet"

Jika mencoba memasukkan angka 360 itu ke dalam Al-Qur’an, anda mungkin akan terkejut. Bahkan termasuk penulis sendiri ketika pertama kali menyadarinya. Angka 360 jika dimasukkan ke dalam sistematika Al-Qur’an akan menjadi 3:60, yang berarti surah ke-3 ayat ke-60. Dan bunyi ayat tersebut adalah “Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu”.

Ayat ini setidaknya mengandung pesan agar manusia berhenti dari segala kepura-puraan. Berhenti dari segala ajaran yang ia buat sendiri, berhenti untuk menyelewengkan kebenaran yang ia ketahui sendiri, berhenti berpura-pura membela rakyat, berhenti berpura-pura kaya kalau memang tidak mampu, dan berhenti menampilkan diri yang bukan diri kita yang sebenarnya. Hal ini, agar kita semua bisa mempercayai diri kita sendiri untuk menampilkan yang sebenarnya. Semoga. Wallahu A’lam Bishshawab.


Written by Darul Maarif Asry

Alumnus Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddin Makassar dan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung-Bone.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR