Minggu, Januari 24, 2021

Awas! KPU Mulai Diserang

Mimpi Buruk itu Bernama Barcelona

  Rabu 17 April 2019 dini hari, sebelum perhelatan akbar Pemilu 2019, saya mendapatkan kabar duka. Sebuah mimpi buruk bernama Barcelona. Klub kesayangan saya, Manchester...

Bangsa Salah Didik

Kejadian di Negeri Antah-Berantah, mudah-mudah kejadian tersebut tidak menimpa negeri kita tercinta, Republik Indonesia.Disebutkan, Negeri Antah-Berantah tersebut merupakan Negeri yang sangat kaya-raya. Baik agraris,...

Memilih Diam dalam Pemilihan

Sistem politik yang sedang kita hadapi sekarang ini bernama “demokrasi”. Saya artikan demokrasi ini sebagai kebebasan dalam menyalurkan kekuasaan dari rakyat untuk rakyat. Sedapatnya...

George Floyd: Rasisme Yang Menimbulkan Pelanggaran HAM

Sebanyak 30 negara bagian amerika serikat diguncang protes setelagseorang warga kulit hitam keturunan afrika-amerika bernama George Floyd meninggal secara tragis di kaki seorang polisi...
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Adakah hal paling mengerikan dalam kontes politik yang demokratis semacam ini, selain menyerang penyelenggara? Tidak percaya pada proses demokrasi yang diatur oleh penyelenggara, hingga tidak percaya hasil penghitungan suara yang dilakukan pihak penyelenggara?

Upaya semacam itu tak jarang dilakukan: menyebut ada kecurangan, keberpihakan, atau tudingan konspirasi besar untuk memenangkan calon tertentu. Sampai ada pernyataan bahwa calon kami hanya bisa dikalahkan oleh kecurangan dan kelicikan.

Pola pikir semacam itu memang merepotkan. Mendahului takdir, dan nampak tidak siap dengan kekalahan. Ditambah adanya pernyataan pakar, ahli, atau pengamat yang harusnya menjernihkan situasi, namun justru menambah keruh realitas yang ada.

Jadi bisa dibayangkan ketika si wasit, dalam hal ini selaku KPU sebagai penyelenggara pemilu, justru diserang oleh pihak yang berkompetisi atau pihak luar yang ingin Indonesia menjadi keos karena publik kehilangan kepercayaan pada penyelenggara pemilu.

Energi publik yang harusnya terfokus pada kualitas, ide, dan gagasan kontestan, justru diarahkan pada penyelenggara yang menjadi wasit, pelaksana kontestasi. Ini mengerikan. Anda bayangkan ketika dalam pertandingan tinju, pemain tidak hanya memukul lawannya, tetapi juga wasitnya. Atau tiba-tiba ada orang luar ring masuk yang ikut meninju wasit.

Tentu pertandingan jadi berantakan, tidak lagi sesuai aturan yang ada. Mana yang menang dan kalah jadi tidak jelas. Dalam konteks bernegara, ini bisa memicu munculnya masyarakat yang anarkis, yang tidak percaya pada aturan dan hukum yang telah ditetapkan.

Bahwa dalam proses penyelenggaraan terjadi ketidaksempurnaan, tentu wajar, dan harus terus diberikan masukan yang konstruktif. Tidak justru “dihabisi” dengan prasangka dan stigma negatif.

Sebagai warga negara, maka sebaiknya mengontrol diri untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu negatif yang berkembang. Seperti isu surat suara yang sudah tercoblos, isu bahwa adanya pengawas atau penyelenggara pemilu yang berpihak pada calon tertentu, dan semacamnya.

Potensi-potensi itu barangkali ada. Misalnya, bagaimana nasib surat suara yang masih utuh karena adanya sebagian orang yang tidak pergi ke TPS, entah karena golput atau berhalangan hadir.

Seberapa yakinkah kita pada KPPS untuk menjaga agar surat suara itu tetap utuh dan tidak tercoblos? Atau seberapa yakinkah kita pada keamanan data pemilih? Sebab betapa pentingnya kegunaan data di era sekarang ini.

Tentu pihak penyelenggara akan berupaya meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk dari proses pemilu, dan tak ada pilihan yang lebih baik selain tetap percaya pada penyelenggara, tetap menerima apapun hasil yang ditetapkan oleh KPU.

Percaya pada KPU sama halnya menjaga marwah bangsa. Kita dukung KPU agar menjadi penyelenggara yang baik, kita harapkan kontestan bertanding dengan fair dan menyajikan sesuatu hal yang bermanfaat bagi publik, bukan justru sebaliknya.

Semoga pemilu 2019 bisa berlangsung dengan kondusif. []

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.