Minggu, Februari 28, 2021

Awas! KPU Mulai Diserang

Fenomena Kepo Society Dibalik Kasus First Travel

Pasangan suami istri bos agen perjalanan umroh Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan ditangkap polisi dengan sangkaan kasus pencucian uang para calon jamaah umroh yang...

Akal Sehat Versus Siasat Jahat

Ini tentang sebuah sikap yang perlu diuji dengan mekanisme nalar publik. Kehidupan politik kita hari-hari kini kian dikotomis. Problemnya, perbedaan-perbedaan itu bukan lagi dalam...

Opini Komunitarian dalam Ruang Publik

Dalam linimasa media sosial Instagram, beredar video sekelompok masyarakat menghadang gerbang gereja di Medan, Sumatera Utara. Kasus ini menguap semenjak video yang diunggah oleh...

Melawan RUU Cipta Kerja

RUU Cipta Kerja atau yang sering diplesetkan menjadi Cikar, sebagai suatu proyeksi tentang kebijakan yang sifatnya eksploitatif. Sebagaimana Cikar yang dikendalikan oleh penunggang, sapi-sapi...
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Adakah hal paling mengerikan dalam kontes politik yang demokratis semacam ini, selain menyerang penyelenggara? Tidak percaya pada proses demokrasi yang diatur oleh penyelenggara, hingga tidak percaya hasil penghitungan suara yang dilakukan pihak penyelenggara?

Upaya semacam itu tak jarang dilakukan: menyebut ada kecurangan, keberpihakan, atau tudingan konspirasi besar untuk memenangkan calon tertentu. Sampai ada pernyataan bahwa calon kami hanya bisa dikalahkan oleh kecurangan dan kelicikan.

Pola pikir semacam itu memang merepotkan. Mendahului takdir, dan nampak tidak siap dengan kekalahan. Ditambah adanya pernyataan pakar, ahli, atau pengamat yang harusnya menjernihkan situasi, namun justru menambah keruh realitas yang ada.

Jadi bisa dibayangkan ketika si wasit, dalam hal ini selaku KPU sebagai penyelenggara pemilu, justru diserang oleh pihak yang berkompetisi atau pihak luar yang ingin Indonesia menjadi keos karena publik kehilangan kepercayaan pada penyelenggara pemilu.

Energi publik yang harusnya terfokus pada kualitas, ide, dan gagasan kontestan, justru diarahkan pada penyelenggara yang menjadi wasit, pelaksana kontestasi. Ini mengerikan. Anda bayangkan ketika dalam pertandingan tinju, pemain tidak hanya memukul lawannya, tetapi juga wasitnya. Atau tiba-tiba ada orang luar ring masuk yang ikut meninju wasit.

Tentu pertandingan jadi berantakan, tidak lagi sesuai aturan yang ada. Mana yang menang dan kalah jadi tidak jelas. Dalam konteks bernegara, ini bisa memicu munculnya masyarakat yang anarkis, yang tidak percaya pada aturan dan hukum yang telah ditetapkan.

Bahwa dalam proses penyelenggaraan terjadi ketidaksempurnaan, tentu wajar, dan harus terus diberikan masukan yang konstruktif. Tidak justru “dihabisi” dengan prasangka dan stigma negatif.

Sebagai warga negara, maka sebaiknya mengontrol diri untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu negatif yang berkembang. Seperti isu surat suara yang sudah tercoblos, isu bahwa adanya pengawas atau penyelenggara pemilu yang berpihak pada calon tertentu, dan semacamnya.

Potensi-potensi itu barangkali ada. Misalnya, bagaimana nasib surat suara yang masih utuh karena adanya sebagian orang yang tidak pergi ke TPS, entah karena golput atau berhalangan hadir.

Seberapa yakinkah kita pada KPPS untuk menjaga agar surat suara itu tetap utuh dan tidak tercoblos? Atau seberapa yakinkah kita pada keamanan data pemilih? Sebab betapa pentingnya kegunaan data di era sekarang ini.

Tentu pihak penyelenggara akan berupaya meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk dari proses pemilu, dan tak ada pilihan yang lebih baik selain tetap percaya pada penyelenggara, tetap menerima apapun hasil yang ditetapkan oleh KPU.

Percaya pada KPU sama halnya menjaga marwah bangsa. Kita dukung KPU agar menjadi penyelenggara yang baik, kita harapkan kontestan bertanding dengan fair dan menyajikan sesuatu hal yang bermanfaat bagi publik, bukan justru sebaliknya.

Semoga pemilu 2019 bisa berlangsung dengan kondusif. []

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.