Kamis, November 26, 2020

Awas! KPU Mulai Diserang

Sebuah Permohonan Maaf

Saya perna menulis dan memuat artikel di GeoTimes yang berjudul "Kebebasan Berpendapat Dan Masyarakat Kita Yang Belum Dewasa" (yang sudah saya ganti judulnya dengan...

Merawat Eksistensi Becak Motor Medan

Siapa yang tidak tahu mengenai becak motor (betor) di kota medan? Bahkan kawan-kawan saya di beberapa daerah di Pulau Jawa sempat menanyakan perihal keunikan...

“Menyemai” Kesadaran Literasi Sebuah Investasi

“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar maka menulislah”. Begitulah pesan Imam Ghozali. Kata; Menulislah. Seperti yang dipesankan Imam Ghozali, saya...

Hardiknas: Menyikapi Moralitas Guru

Anda tentu masih ingat kasus seorang oknum guru di SD 104302 Cempeda Lobang, Kecamatan Sei Rempah, Kabupaten Serdang, Sumatera Utara yang menghukum siswanya untuk...
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Adakah hal paling mengerikan dalam kontes politik yang demokratis semacam ini, selain menyerang penyelenggara? Tidak percaya pada proses demokrasi yang diatur oleh penyelenggara, hingga tidak percaya hasil penghitungan suara yang dilakukan pihak penyelenggara?

Upaya semacam itu tak jarang dilakukan: menyebut ada kecurangan, keberpihakan, atau tudingan konspirasi besar untuk memenangkan calon tertentu. Sampai ada pernyataan bahwa calon kami hanya bisa dikalahkan oleh kecurangan dan kelicikan.

Pola pikir semacam itu memang merepotkan. Mendahului takdir, dan nampak tidak siap dengan kekalahan. Ditambah adanya pernyataan pakar, ahli, atau pengamat yang harusnya menjernihkan situasi, namun justru menambah keruh realitas yang ada.

Jadi bisa dibayangkan ketika si wasit, dalam hal ini selaku KPU sebagai penyelenggara pemilu, justru diserang oleh pihak yang berkompetisi atau pihak luar yang ingin Indonesia menjadi keos karena publik kehilangan kepercayaan pada penyelenggara pemilu.

Energi publik yang harusnya terfokus pada kualitas, ide, dan gagasan kontestan, justru diarahkan pada penyelenggara yang menjadi wasit, pelaksana kontestasi. Ini mengerikan. Anda bayangkan ketika dalam pertandingan tinju, pemain tidak hanya memukul lawannya, tetapi juga wasitnya. Atau tiba-tiba ada orang luar ring masuk yang ikut meninju wasit.

Tentu pertandingan jadi berantakan, tidak lagi sesuai aturan yang ada. Mana yang menang dan kalah jadi tidak jelas. Dalam konteks bernegara, ini bisa memicu munculnya masyarakat yang anarkis, yang tidak percaya pada aturan dan hukum yang telah ditetapkan.

Bahwa dalam proses penyelenggaraan terjadi ketidaksempurnaan, tentu wajar, dan harus terus diberikan masukan yang konstruktif. Tidak justru “dihabisi” dengan prasangka dan stigma negatif.

Sebagai warga negara, maka sebaiknya mengontrol diri untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu negatif yang berkembang. Seperti isu surat suara yang sudah tercoblos, isu bahwa adanya pengawas atau penyelenggara pemilu yang berpihak pada calon tertentu, dan semacamnya.

Potensi-potensi itu barangkali ada. Misalnya, bagaimana nasib surat suara yang masih utuh karena adanya sebagian orang yang tidak pergi ke TPS, entah karena golput atau berhalangan hadir.

Seberapa yakinkah kita pada KPPS untuk menjaga agar surat suara itu tetap utuh dan tidak tercoblos? Atau seberapa yakinkah kita pada keamanan data pemilih? Sebab betapa pentingnya kegunaan data di era sekarang ini.

Tentu pihak penyelenggara akan berupaya meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk dari proses pemilu, dan tak ada pilihan yang lebih baik selain tetap percaya pada penyelenggara, tetap menerima apapun hasil yang ditetapkan oleh KPU.

Percaya pada KPU sama halnya menjaga marwah bangsa. Kita dukung KPU agar menjadi penyelenggara yang baik, kita harapkan kontestan bertanding dengan fair dan menyajikan sesuatu hal yang bermanfaat bagi publik, bukan justru sebaliknya.

Semoga pemilu 2019 bisa berlangsung dengan kondusif. []

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.