Senin, April 12, 2021

Atribut Kesalehan yang Salah Tempat

Menerapkan Sistem Filantropi di Tengah Pandemi

Dewasa ini masyarakat di seluruh Dunia dikagetkan dengan menyebarnya virus Covid-19. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina lalu menyebar dengan cepat di...

Representasi Agama dalam Tradisi Syawalan Lopis Raksasa di Pekal

Tanah surga. Begitulah yang orang-orang katakan tentang Indonesia. Bahkan bukan hanya tanahnya saja yang kaya, lautnya, hingga kebudayaan  pun demikian. Tidak bisa dipungkiri memang...

Jokowi dan Wajah Masa Depan

“Yang online-online itu pak?” Itu pertanyaan balik Prabowo untuk menegaskan apa yang dimaksud dengan startup unicorn yang ditanyakan oleh Jokowi dalam debat presiden 2019. Memang...

Merdeka dari Kebencian

Akhir Desember 2015, BBC melaporkan, di tahun yang sama adalah tahun kebencian bagi Inggris. 2015: The Year that Angry Won The Internet, begitu bunyi judulnya. Laporan...
Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka

Seberapa nyaman atribut dan pemampilan yang kita pakai? Nyaman bagi kita yang memelihara dan memakai haruslah nyaman pula bagi mereka yang melihat atau memandang.

Kalau atribut dan penampilan yang kita pakai bisa menambah pahala, tapi tak enak bagi sebagian lain yang melihat atau memandang. Kalau terlalu longgar perketat sedikit, terlalu cingkrang perpanjang sedikit, ini misalkan pakaian.

Kalau terlalu rimbun panjang dan rindang potonglah biar lebih rapi dan elegan, ini misalkan jenggotan. Karena atribut penampilan yang kita pakai tentulah takkan terlepas dari faktor sosio kultur masyarakat setempat. Ini Indonesia bukan Saudi Arabia.

Tak perlu takut derajat pahala kita berkurang, hanya karena merubah atribut kesalehan hasil foto copy-an kearab-araban. Kalau pun ia, dengan merubah atribut dan penampilan membuat pahala berkurang, maka akan tertutupi dengan pahala membuat nyaman mereka yang melihat atau memandang.

Di bumi Indonesia yang kita cintai ini sangatlah kaya akan suku dan budaya, contoh sederhana kalau umat Muslim di Madura rata-rata orang pergi ibadah sholat kemesjid dan mosholla pakai sarung, baju koko dan kopyah, tapi kalau di jawa umat Muslim pergi ketempat ibadah pakai celana, tanpa kopyah biasa saja.

Apakah cara berpakaian salah satu diantara keduanya bisa mengurangi derajad pahala ibadah kita? Iya atau tidak, bagi saya itu hanyalah budaya yang tidak bisa semata-mata nilai dengan urusan pahala, dosa, benar atau salah.

Maka merugilah kita masyarakat Indonesia kalau kekayaan kita, akan budaya harus diganti dengan satu mode termasuk cara memakai atribut penampilan yang itu meniru budaya busana masyarakat timur tengah sana yang cenderung dipakasakan.

Seperti kata Filusuf Friedch Nietzsche kehendak paling jorok dalam diri manusia adalah Kehendak berkuasa (will to power), maka apabila kita masyarakat indonesia tidak mampu melawan kehendak jorok mereka yang ingin mengusai, baik dari sisi kekayaan budaya kita, dengan sendirinya kita akan kehilangan karakter dan jati diri kita sebagai masyarakat Indonesia seutuhnya.

Secara logika rasanya akan menjadi percuma kita menumpuk pahala, kalau masyarakat setempat dimana kita tinggal tak mampu menerima sikap tindakan keseharian kita, maka akan menjadi manusia yang “Teralenasi” dari lingkungannya, sekali lagi ini Indonesia bukan Saudi Arabia.

Cara mengais pahala haruslah sopan, tenang dan santai. Tidak perlu terlalu tegang atau garang. Karena pahala bisa didapat tidak cuma dengan cara ukuran benar, tapi juga harus baik dan bernilai keindahan. Otomatis di dalamnya termasuk membuat nyaman pemandangan.

Mengacu pilar Filsafat (Aksiologi) terbagi menjadi tiga nilai pertama nilai (benar-salah) Logika, kedua nilai (baik-buruk) Etika, ketiga nilai (indah dan tidak indah) Estetika. Ketiga nilai tersebut tidak bisa dipisahkan tapi haruslah diwujudkan secara beriringan agar tak memberikan paham yang dikotomi, tarmasuk dalam mengais pahala sehari-hari.

Kehidupan ini haruslah disederhanakan, cara memaknai serta menjalani, karena hidup bukan cuma urusan makan, tapi juga bagaimana cara mempertahankan budaya yang menjadi karakter serta kekayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan berlebihan, egois, dan tegang . Biar tidak mengganggu pikiran dan penghilatan. Apa lagi sampai menyalahkan perbedaan.

Kalau gamisan dan jenggotan dianggap atribut kesholehan. Silahkan ! Asal tak egois serta berlebihan. Tapi ingat ini Indonesia. Jangan menyalahkan mereka yang sarungan, celanaan dalam bentuk pensil dan komprang. Kesemuanya hanyalah mode agar manusia nyaman dengan perbedaan. Dengan tetap menjunjung nilai persatuan dan kesatuan.

Pahala milik Tuhan. Tidak boleh dimonopoli yang jenggotan, gamisan, sarungan, celanaan bentuk cingkrang, pensil dan komprang, orang Yahudi juga demikian, tak perlu teriak Allahu Akbar soal penampilan. Itu mungkin hanya pahala bonus sisi lain di bagian luar. Sisi dalam urusan Tuhan. Datar kan.

Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.