Senin, April 12, 2021

ASN Bukanlah Dewa

BPJS dan Konsep Gotong Royong

Sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia mengalami perubahan dan pertumbuhan yang bisa dibilang lambat. Hal ini tidak lepas dari siapa dan bagaimana pengelolaannya. Kendati...

Corona Mengintai, Polisi Beraksi

Beberapa hari terakhir, arus media dipenuhi oleh pemberitaan tentang virus corona (Covid-19). Semua hal yang berkaitan dengan virus corona tidak luput dari radar media,...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...
Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer

Perhelatan akbar bertajuk penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun 2020 akan segera di gelar. Sebelumnya, di penghujung  tahun 2019 BKN telah membuka secara resmi penerimaan CPNS tersebut. Maka, kurang lebih 4 juta pelamar yang telah mendaftar pada berbagai bidang formasi yang ditawarkan. Tahap selanjunya, mereka akan berlaga  pada ujian tulis di Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Tentunya bagi mereka yang telah dinyatakan lulus tahap administrasi.

Kesempatan ini tentunya tidak disia-siakan oleh sebagian job seeker yang umumnya dilakoni anak muda generasi milenial masa kini. Ada yang jauh-jauh hari telah belajar soal-soal CPNS secara mandiri, baik dari buku maupun online. Kemudian, tergabung dalam WAG yang khusus membahas isu-isu seputar CPNS, bahkan ada yang rela merogoh kocek untuk ikut bimbel pada lembaga yang khusus belajar latihan menjawab soal yang kemungkinan akan diujiankan pada CPNS mendatang.

Semuanya sah-sah saja, tak ada kejanggalan yang berarti. Upaya untuk memenangkan suatu pencapaian, harus disertai dengan usaha maksimal dan beragam cara. Lain dari pada itu, hari ini, menjadi ASN di anggap sebagai jalan satu-satunya untuk bisa hidup enak tanpa ada banyak tekanan.

Gaji dan tunjangan yang didapatkan telah dirasa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan penghidupan. Apalagi jaminan pensiunan hari tua telah ditanggung juga oleh negara. Bukankah hal demikian sudah patut disyukuri apabila kita berkarir sebagai abdi negara ini?

Maka, tidak mengherankan apabila intelektual muda lulusan perguruan tinggi berlomba-lomba untuk mencapai posisi tersebut. Apalagi diperkuat dengan stigma yang terbangun di tengah-tengah masyarakat, menjadi ASN akan membuat hidup terjamin hingga hari tua.

Bahkan, tidak jarang lulusan CPNS akan memiliki “nilai jual” dan “laku” di “pasaran” bagi ibu-ibu yang sedang mencarikan pasangan bagi anaknya. Masa depan cerah dan penghasilan tetap menjadi faktor utama hal demikian dapat terjadi.

Berbeda dengan yang hanya bekerja di swasta, kurang mendapatkan kepercayaan untuk bisa menjamin keberlangsungan hidup putrinya. Sebegitu dewanya apabila seseorang telah berhasil menduduki jabatan ASN. Hingga persoalan jodoh sekalipun mendapat posisi strategis di hati para ibu-ibu khususnya.

Satu hal yang harus kita sadari bersama, bahwa masih banyak beragam profesi di luar sana yang belum terjamah. Minat dan bakat yang tidak tersalurkan dan terpendam akibat penantian hanya mengharapkan menjadi seorang ASN semata. Bukankah kita tidak kekurangan generasi muda potensial dalam berbagai hal. Sebut saja yang piawai dalam melukis, memiliki suara bagus untuk menjadi seorang penyanyi, cakap teknologi dengan membuat beragam aplikasi. Bahkan, penulis-penulis muda berbakat berseliweran menjadi kuli tinta pada berbagai media.

Ilmuan termahsyur baik dalam maupun luar negeri, berproses mulai dari hobi dan apa yang disukai.  Berkaca pada Bill Gates, bos Microsoft ini menjadi salah satu orang terkaya di dunia akibat hobinya yang gemar membaca. Ide-ide kreatif beliau dapatkan dari segudang buku yang telah dibacanya.

Kemudian, sang kreator ekonomi bangsa dan pemikir ulung republik ini, Muhammad Hatta. Beliau menjadi sumber inspirasi untuk berani berbeda. Berbeda supaya bisa menginspirasi manusia lainnya untuk berfikir kreatif juga. Kendati demikian, bukankah kemungkinan-kemungkinan untuk mendalami bakat dan hobi yang dimiliki berpeluang lebih besar untuk membuat seseorang sukses?

Sukses bukanlah diukur dari tingkat kekayaan dan materi yang dipunya, melainkan seberapa penting nama kita dipertimbangkan dan manfaat apa yang telah kita sebar. Buktinya, Hatta tetap miskin secara materi, walaupun beliau telah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Tetapi, ada yang lebih besar dari itu semua. Hingga kini, nama beliau disandingkan dengan sederet pemikir dunia yang diperhitungkan, walaupun beliau telah lama tiada.

Bermimpi boleh saja, asalkan ada usaha dan kerja keras untuk mencapainya. Kita tidak harus memiliki nama besar dan sepak terjang yang mendunia sama seperti apa yang dilakukan Bill Gates dan Muhammad Hattta. Tetapi, mencontoh cara berfikir dan konsistensi dalam berkarya adalah perkara wajib untuk diikuti bersama. Dan tentunya kita tidak kehabisan teladan tentang itu semua. Dunia global menuntut anak muda untuk selalu kreatif, supaya tidak ditelan dunia post truth yang tengah melanda.

Memilih bekerja dan berkarya dalam bidang apapun itu sama baiknya. Selagi berlaku positif bagi nusa dan agama. Jikalau semua generasi muda lulusan sarjana dan magister bahkan doktor memilih untuk menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), alamat akan miskinnya pekerja kreatif di negara kita.

Bukan berarti menjadi seorang ASN tidak membuat seseorang bisa kreatif dalam berkarya, melainkan waktu tersita hanya menanggung beban dan tanggung jawab kerja yang melimpah, belum lagi mereka disibukkan dengan persyaratan tertib administrasi secara berkala. Tahun ke tahun hanya dihinggapi dengan persoalan yang sama. Laporan tahunan sebagai realisasi dari pekerjaan yang telah diselesaikan merupakan hal yang fundamental dan dianggap telah menjalankan kewajiban dalam setahun bekerja.

Menjadi ASN tidaklah berdosa, tetapi jangan terlalu bergairah memiliki profesi sebagai ASN. Tidak satu jalan ke Roma,  banyak jalan menuju sukses lainnya dengan cara yang berbeda. Wahai anak muda, kenali dirimu dan apa potensi yang dimiliki, itu semua akan mengantarkanmu menuju kesuksesan yang luar biasa.

Sekali lagi jangan jadikan ASN sebagai dewa.  Bagi yang ikut berkompetisi untuk menjadi ASN di tahun ini, saya doakan itu jalan yang terbaik buat kita semua. Semoga bisa lulus dan dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Termasuk doakan saya juga, bisa berkarya menjadi abdi negara apabila memang takdir berkata iya.

Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.