Kamis, Maret 4, 2021

ASN Bukanlah Dewa

Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja

Sebelumnya, penulis ingin menyampaikan alasan menulis tema “Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja” adalah, pertama, penulis bukanlah serarang yang kontra terhadap pemerintahan kabinet kerja yang...

Membersihkan Radikalisme dari Kampus

Kampus telah menjadi lahan subur bagi perkembangan gerakan radikalisme. Fenomena ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Setidaknya sejak dekade 1990an ketika pertama kali gerakan ini...

Marak Terjadi Penolakan Rumah Ibadah, Regulasi Meski Dievaluasi?

Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang besar terdiri dari 17.540 kepulauan dengan jumlah penduduk hampir 270.540.853 juta jiwa pada tahun (2018). Di tambah lagi jumlah...

Mengutuk Teroris Bukan Islamophobia

Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM), Choirul Anam, memberikan pernyataan publik yang cukup kontroversial; masyarakat Indonesia siap menerima eks-ISIS karena di Indonesia tidak ada Islamophobia. Saya...
Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer

Perhelatan akbar bertajuk penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun 2020 akan segera di gelar. Sebelumnya, di penghujung  tahun 2019 BKN telah membuka secara resmi penerimaan CPNS tersebut. Maka, kurang lebih 4 juta pelamar yang telah mendaftar pada berbagai bidang formasi yang ditawarkan. Tahap selanjunya, mereka akan berlaga  pada ujian tulis di Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Tentunya bagi mereka yang telah dinyatakan lulus tahap administrasi.

Kesempatan ini tentunya tidak disia-siakan oleh sebagian job seeker yang umumnya dilakoni anak muda generasi milenial masa kini. Ada yang jauh-jauh hari telah belajar soal-soal CPNS secara mandiri, baik dari buku maupun online. Kemudian, tergabung dalam WAG yang khusus membahas isu-isu seputar CPNS, bahkan ada yang rela merogoh kocek untuk ikut bimbel pada lembaga yang khusus belajar latihan menjawab soal yang kemungkinan akan diujiankan pada CPNS mendatang.

Semuanya sah-sah saja, tak ada kejanggalan yang berarti. Upaya untuk memenangkan suatu pencapaian, harus disertai dengan usaha maksimal dan beragam cara. Lain dari pada itu, hari ini, menjadi ASN di anggap sebagai jalan satu-satunya untuk bisa hidup enak tanpa ada banyak tekanan.

Gaji dan tunjangan yang didapatkan telah dirasa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan penghidupan. Apalagi jaminan pensiunan hari tua telah ditanggung juga oleh negara. Bukankah hal demikian sudah patut disyukuri apabila kita berkarir sebagai abdi negara ini?

Maka, tidak mengherankan apabila intelektual muda lulusan perguruan tinggi berlomba-lomba untuk mencapai posisi tersebut. Apalagi diperkuat dengan stigma yang terbangun di tengah-tengah masyarakat, menjadi ASN akan membuat hidup terjamin hingga hari tua.

Bahkan, tidak jarang lulusan CPNS akan memiliki “nilai jual” dan “laku” di “pasaran” bagi ibu-ibu yang sedang mencarikan pasangan bagi anaknya. Masa depan cerah dan penghasilan tetap menjadi faktor utama hal demikian dapat terjadi.

Berbeda dengan yang hanya bekerja di swasta, kurang mendapatkan kepercayaan untuk bisa menjamin keberlangsungan hidup putrinya. Sebegitu dewanya apabila seseorang telah berhasil menduduki jabatan ASN. Hingga persoalan jodoh sekalipun mendapat posisi strategis di hati para ibu-ibu khususnya.

Satu hal yang harus kita sadari bersama, bahwa masih banyak beragam profesi di luar sana yang belum terjamah. Minat dan bakat yang tidak tersalurkan dan terpendam akibat penantian hanya mengharapkan menjadi seorang ASN semata. Bukankah kita tidak kekurangan generasi muda potensial dalam berbagai hal. Sebut saja yang piawai dalam melukis, memiliki suara bagus untuk menjadi seorang penyanyi, cakap teknologi dengan membuat beragam aplikasi. Bahkan, penulis-penulis muda berbakat berseliweran menjadi kuli tinta pada berbagai media.

Ilmuan termahsyur baik dalam maupun luar negeri, berproses mulai dari hobi dan apa yang disukai.  Berkaca pada Bill Gates, bos Microsoft ini menjadi salah satu orang terkaya di dunia akibat hobinya yang gemar membaca. Ide-ide kreatif beliau dapatkan dari segudang buku yang telah dibacanya.

Kemudian, sang kreator ekonomi bangsa dan pemikir ulung republik ini, Muhammad Hatta. Beliau menjadi sumber inspirasi untuk berani berbeda. Berbeda supaya bisa menginspirasi manusia lainnya untuk berfikir kreatif juga. Kendati demikian, bukankah kemungkinan-kemungkinan untuk mendalami bakat dan hobi yang dimiliki berpeluang lebih besar untuk membuat seseorang sukses?

Sukses bukanlah diukur dari tingkat kekayaan dan materi yang dipunya, melainkan seberapa penting nama kita dipertimbangkan dan manfaat apa yang telah kita sebar. Buktinya, Hatta tetap miskin secara materi, walaupun beliau telah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Tetapi, ada yang lebih besar dari itu semua. Hingga kini, nama beliau disandingkan dengan sederet pemikir dunia yang diperhitungkan, walaupun beliau telah lama tiada.

Bermimpi boleh saja, asalkan ada usaha dan kerja keras untuk mencapainya. Kita tidak harus memiliki nama besar dan sepak terjang yang mendunia sama seperti apa yang dilakukan Bill Gates dan Muhammad Hattta. Tetapi, mencontoh cara berfikir dan konsistensi dalam berkarya adalah perkara wajib untuk diikuti bersama. Dan tentunya kita tidak kehabisan teladan tentang itu semua. Dunia global menuntut anak muda untuk selalu kreatif, supaya tidak ditelan dunia post truth yang tengah melanda.

Memilih bekerja dan berkarya dalam bidang apapun itu sama baiknya. Selagi berlaku positif bagi nusa dan agama. Jikalau semua generasi muda lulusan sarjana dan magister bahkan doktor memilih untuk menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), alamat akan miskinnya pekerja kreatif di negara kita.

Bukan berarti menjadi seorang ASN tidak membuat seseorang bisa kreatif dalam berkarya, melainkan waktu tersita hanya menanggung beban dan tanggung jawab kerja yang melimpah, belum lagi mereka disibukkan dengan persyaratan tertib administrasi secara berkala. Tahun ke tahun hanya dihinggapi dengan persoalan yang sama. Laporan tahunan sebagai realisasi dari pekerjaan yang telah diselesaikan merupakan hal yang fundamental dan dianggap telah menjalankan kewajiban dalam setahun bekerja.

Menjadi ASN tidaklah berdosa, tetapi jangan terlalu bergairah memiliki profesi sebagai ASN. Tidak satu jalan ke Roma,  banyak jalan menuju sukses lainnya dengan cara yang berbeda. Wahai anak muda, kenali dirimu dan apa potensi yang dimiliki, itu semua akan mengantarkanmu menuju kesuksesan yang luar biasa.

Sekali lagi jangan jadikan ASN sebagai dewa.  Bagi yang ikut berkompetisi untuk menjadi ASN di tahun ini, saya doakan itu jalan yang terbaik buat kita semua. Semoga bisa lulus dan dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Termasuk doakan saya juga, bisa berkarya menjadi abdi negara apabila memang takdir berkata iya.

Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.