Jumat, Januari 22, 2021

Asal-Usul Kejahatan

Pendidikan Islam Sebagai Penangkal Isu Sara

Sara adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan...

Pulanglah ke Nusantara

Pulang dari bahasa sehari-hari yang di gunakan berarti memiliki makna 'Kembali'.Kembali ke Nusantara menurut saya adalah kembali kepada ajaran Nusantara yang ramah tamah, santun,...

Industri K-Pop dan Konstruksi Fantasi

Berkembangnya industri hiburan Korea rupanya telah menyihir masyarakat di penjuru dunia untuk terus mengikuti perkembangan mereka. Film, drama, dan K-Pop merupakan sihir yang membuat...

Demokrasi Prosedural dan Alam Politik Dinasti

Politik dinasti dapat dimaknai sebagai sebuah sistem kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga. Politik dinasti lebih identik...
Zaki Annasyath
Mahasiswa dengan hobi rebahan sebagai jalan ninjanya

Pria itu hampir mencuri dompet saya, pada minggu 15 maret 2020 siang hari, di sekitar alun-alun Bandung. Saya mencengkram tangannya secara kasar, namun segera ditepis. Belum sempat melabrak, ayah menarik saya menjauh. Beberapa orang berhenti dan melihat, namun menjadi lengang kembali secepat kejadian tadi.

Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah mengalami pencurian. Kali ini Handphone dan tas milik saya benar-benar lenyap, di sebuah masjid kampus. Masing-masing di waktu yang berbeda, tapi berdekatan. Tentu saja, hal yang saya lakukan setiap kecurian selalu sama: mengutuk keteledoran diri sendiri dan menyumpahi pelaku.

Mudah dan akan selalu lebih mudah menyerapahi pelaku, ketimbang menggali akar permasalahan yang sebenarnya. Setiap hal, tentu saja, memiliki hubungan sebab akibat. Namun, Apakah sebab seseorang melakukan kejahatan? Dan terutama, apakah kejahatan itu?

Sudarto, dalam karyanya berjudul “Hukum pidana 1” mengartikan kejahatan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan tata yang bercokol di masyarakat. Dalam ilmu kriminologi, lanjut Sudarto, kejahatan dipandang sebagai gejala masyarakat.

Sedangkan Soesilo membagi kejahatan dalam dua sudut pandang, yakni yuridis dan sosiologis. Dari kacamata yuridis, kita mendapati bahwa setiap kejahatan adalah tindakan yang bertentangan dengan undang-undang. Sedangkan melalui sudut pandang sosiologis, kita mengetahui kalau kejahatan adalah tindakan yang dinilai merugikan korban dan masyarakat.

Menilik dari perspektif moral, seseorang dikatakan melakukan kejahatan jika memiliki niat dan tanpa paksaan orang lain. Dari situ saja kita bisa menyimpulkan bahwa Tindakan yang dinilai merugikan orang lain, Tindakan yang bertentangan dengan tata yang terbentuk atau dibentuk dalam masyarakat bisa disebut sebagai sebuah kejahatan.

Berdasarkan sifat alaminya, Havelock Ellis mengelompokkan kejahatan dalam empat bentuk yakni, Politik, hasrat, penyakit jiwa, dan musiman. Ringkasnya begini: Kejahatan politik adalah setiap hal yang dinilai pemerintah sebagai tindakan yang menganggu stabilitas negara.

Kategori itu membuat negara ibarat dewa yang menstandarisasi moral berdasarkan kekuasaan. Apa yang mengganggu kekuasaan dan tatanan politiknya, maka bisa dikategorikan sebagai kejahatan politik. Perilaku negara yang seperti itu bisa dikatakan sebagai kejahatan yang sesungguhnya. Banyak orang yang dianggap pahlawan oleh masyarakat, menjadi korban kebiadaban standar moral ini karena melawan kekuasaan yang korup.

Kejahatan dengan hasrat muncul karena seseorang merasa lingkungannya menekan secara tidak adil. Perasaan itu menimbulkan seseorang ingin membnentuk sesuatu yang menurutnya adalah keadilan. Singkatnya, keadilan bagi diri sendiri. Seseorang seperti ini biasanya adalah orang baik di lingkungan yang tidak adil dan menindas dirinya. Maka dari itu, ketidaktahanan dirinya atau mungkin semangat memberontak membuatnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang ada di lingkungannya.

Kejahatan yang sakit jiwa tidak dapat dikategorikan sebagai kejahatan, meskipun beberapa orang masih dengan seenaknya menganggapnya sebagai kejahatan. Orang yang mengalami gangguan mental, ketika melakukan tindakan yang merugikan, tidak bisa serta merta dianggap sebagai kejahatan. Orang seperti ini tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Dan pada dasarnya, kata Havelock Ellis, Ia berada dalam kondisi seperti anak kecil

Kejahatan musiman, lanjut Havelock Ellis, memiliki populasi terbesar dibanding tiga jenis tadi. Bisa dibilang, banyaknya kejahatan jenis ini, merupakan ancaman terbesar dalam kesejahteraan sosial masyarakat.

Sigmund Freud mengatakan ketidakseimbangan dalam diri manusialah yang menyebabkan dirinya melakukan tindak kejahatan. Kejahatan, lanjut Freud, dihasilkan dari perasaan bersalah yang berlebihan sebagai akibat dari superego. Mereka sadar bahwa mereka bersalah dan ingin menerima hukuman dengan cara melakukan tindak kejahatan.

Namun, mengapa seseorang memiliki psikologis yang kacau sehingga membuatnya melakukan kejahatan? Faktor keturunan mungkin berlaku. Tapi, secara tegas saya katakan, adalah tidak adil menimbang faktor psikologis apalagi faktor keturunan sebagai faktor yang paling dominan. Saya sedari dulu, meyakini bahwa setiap manusia dilahirkan suci. Bahwa nanti ia melakukan kejahatan itu sedikit banyak dipengaruhi dan didorong oleh lingkungan sosial dan ekonominya.

Masalah ekonomi dan kejahatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kejahatan adalah hasil dari kondisi ekonomi dan ketidakadilan sosial. Seseorang yang memiliki psikologis yang buruk lalu melakukan tindak kejahatan adalah hasil pengaruh  orangtuanya yang dahulu, bisa jadi, memiliki pengalaman ekonomi dan sosial yang sama buruknya.

Ekonomi yang terpuruk membangkitkan keinginan seseorang untuk mengambil sesuatu yang mungkin bukanlah haknya. Lingkungan sosial dan ekonomi membentuk perilaku manusia. Singkatnya, kalau lingkungan sosial dan ekonomi seseorang sehat, maka kejahatan akan menemui ajalnya.

Setiap masyarakat, kata Emma Goldman, memiliki para penjahatnya sendiri. Quetelet dan Lacassagne bahkan memandang masyarakat sebagai kelompok yang mempersiapkan kejahatan. Para penjahat hanyalah instrumen pelaksananya

Dikutip dari republika, kriminolog Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar menilai, melemahnya ekonomi Indonesia erat kaitannya dengan naiknya kriminalitas. Keadaan terdesak membuat setiap manusia, dengan nalurinya untuk bertahan hidup, melakukan hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan.

Maka dari itu, betapa tidak adil kalau kita hanya melihat sebuah kejahatan dari segi psikologis dan biologisnya. Pada akhirnya, relasi sosial dan ekonomi yang menghimpit seseorang merupakan faktor yang paling dominan. Dan menyingkirkan sebab-sebab terjadinya kejahatan jelas lebih masuk akal ketimbang menghukum seseorang karena melakukan kejahatan.

Referensi tulisan dari beberapa media online dan buku.

Zaki Annasyath
Mahasiswa dengan hobi rebahan sebagai jalan ninjanya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.