Jumat, Februari 26, 2021

Arteria Dahlan dan Etika Berdebat

Oligarki, Yang Disayang Yang Ditentang

Para golput ini emang nggak mikir kalau mereka semua harusnya menjalankan kewajiban dengan menjadi apa yang dimau para elite lewat undang-undang yang dibikin elite....

Erupsi Semeru 1994; Lahar, Balita, dan Transmigrasi

Sejak dinyatakan erupsi pada Selasa, (1/12/2020), aktivitas Gunung Semeru belum menunjukkan tanda akan berhenti dari batuknya. Laporan terbaru dari Kompas.com, (7/12/2020), saat ini, terdapat...

Masalah Moral dan Revolusi Akhlak ala Erick Thohir

Minggu lalu kita dihebohkan dengan berita viral kasus penyeludupan onderdil Harley Davidson dan sepeda motor Brompton di Pesawat Airbus A-300-900 Neo milik maskapai Garuda....

Epicentrum Literasi

Berawal dari sebuah mimpi yang mengandaikan sebuah daerah yang penuh dengan aksara. Berjejer dari emperan menuju ke pusat kota untuh sebuah tujuan suci yang...
Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang

Dalam sekejap, nama politisi dari Fraksi PDI-P, Arteria Dahlan menjadi topik pembicaraan hangat di jagat twitter Indonesia. Ya, hal tersebut merupakan imbas dari perkataan yang ia lontarkan terhadap Prof. Emil Salim dalam acara mata najwa yang bertajuk Ragu Perpu.

Prof. Emil yang saat itu tengah menyampaikan argumennya, tiba-tiba ‘diserang secara brutal’ oleh Arteria Dahlan. Dengan nada tinggi, ia pun mencoba melawan dan menyela setiap pembicaraan Prof. Emil.

Itulah segelintir kisah panas perdebatan antara Politisi Arteria Dahlan dengan Prof. Emil Salim. Sekilas, tindakan yang dilakukan Arteria Dahlan memang kurang pantas dilakukan di depan publik. Terlebih lagi, orang yang menjadi lawan debat adalah seorang Profesor yang usianya lebih tua darinya. Tentu, dalam kacamata budaya Indonesia, hal semacam ini menjadi sesuatu yang tidak patut dicontoh.

Jika dilihat secara substansial, sebenarnya isi pandangan Arteria dan Emil Salim sama bagusnya. Arteria berupaya membela dirinya dan Lembaga DPR RI. Pun demikian dengan Prof. Emil yang juga menekankan pentingnya upaya pemberantasan korupsi dengan mendukung KPK.

Yang menjadi sorotan masyarakat luas adalah sikap dari anggota DPR Fraksi PDI-P tersebut yang kurang pantas dilakukan terhadap Prof. Emil yang, notabene lebih tua daripada Arteria. Dengan perkataan dan bahasa tubuh yang menggebu-gebu inilah, Arteria` kemudian berani mengambil alih pembicaraan. Lalu, bagaimana sebaiknya perdebatan di ruang publik itu dilakukan?

Kita sudah memahami bahwa perdebatan itu menjadi sesuatu yang lumrah. Apalagi, bagi dunia barat yang sudah terbiasa melakukan itu demi memperoleh pandangan terbaik dan meyakinkan. Tak jarang jika kemudian tradisi debat ini, seringkali disinyalir sebagai penanda kemampuan berpikir kritis sebenarnya yang dimiliki setiap bangsa dan peradaban.

Akan tetapi, dalam kasus ini, seperti ada yang terlupakan. Ya, soal memahami etika dalam berdebat terhadap orangtua yang seharusnya itu tidak boleh dikasari. Lalu, bagaimana seharusnya kesantunan dalam berdebat?

Seorang filsuf Prancis, Andre Comte Sponville, pernah mengatakan bahwa moralitas dalam suatu perdebatan itu dimulai dari dasar dan harus lewat kesantunan yang kita pelajari.

Sementara, Hinck dan Ellerton berpendapat setidaknya ada dua halangan yang menghambat kemampuan seseorang untuk berdebat dengan santun. Yakni keyakinan kuat yang mengalahkan logika berpikir, serta target debat yang bergeser lebih luas mencakup penonton, dan berpindah dari menyerang subjek ke individu.

Kondisi itu pun persis seperti apa yang dikatakan oleh Joanne Freeman. Menurutnya, hilangnya kesantunan politik lebih disebabkan tenor politik nasional seperti “Ketidakpercayaan regional, permusuhan pribadi, tuduhan, kecurigaan, implikasi, dan kecaman.”

Agaknya, anggota DPR RI Fraksi PDI-P ini harus membuka kembali dan belajar lebih lama mengenai tata cara menghormati orang yang lebih tua yang tertuang dalam kitab Ta’limul Muta’allim buah karya Syeh Ibrahim bin Ismail.

Sumber foto: reqnews.com

Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.