Jumat, Oktober 30, 2020

Arsip dan Keseharian Kita

Ingat, 2018 Tahun Politik Bukan ‘Jomblo’

Betul apa kata pepatah,"waktu itu bagaikan pedang", jika kita tidak bisa memanfaatkannya kita akan terbunuh oleh waktu yang setiap saat silih berganti. Maafkanlah diri...

Wasantara dan Praksis Pendidikan Dasar

Setiap bangsa mempunyai cita-cita. Cita-cita bagi suatu bangsa dapat memberi gairah hidup dan memberi arah dalam menentukan tujuan nasional. Akan tetapi, Bangsa Indonesia sadar...

Ini Cara Radikal Berangus Hoaks dan Fitnah, Berani?

Penyebaran hoaks dan fitnah tidak boleh dibiarkan dengan alasan apapun. Fitnah dan hoaks jangan hanya dinilai sebagai virus yang meracuni kontestasi pilpres 2019 semata....

Paperless Culture

Kertas adalah benda ajaib yang membantu dan memudahkan banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari pembungkus makanan, buku catatan, tisu hingga struk belanja, kehidupan...
Rizal B. Rahman
Penikmat Teh dan Peminat Kajian Kebudayaan. Saat ini bekerja di Arsip Nasional RI.

Jika anda pengguna aktif media sosial Twitter, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah Spill atau Spill the Tea yang belakangan ini menjadi perhatian yang paling menarik di jagat linimasanya.

Istilah itu bermaksud serupa dengan artinya secara harfiah: menumpahkan air teh. Suatu ungkapan idiomatik dari Bahasa Inggris yang bermakna membuka aib, bergosip, atau menggunjingkan sesuatu. Banyak permasalahan yang terkena “spill” oleh warganet Twitter mulai dari kasus pelecehan seksual, perundungan, kekerasan di dalam rumah tangga, penipuan, dan sebagainya.

Dalam beberapa kasus “spill” tersebut, bahkan pemrakarsanya membongkar seluruh kasus itu lengkap dengan pengungkapan identitas aktor-aktor yang terlibat, latar belakang pendidikan, riwayat percakapan (history chat), atau gambar-gambar yang biasanya didapatkan dari modal tangkapan layar (screenshot); menjadi bukti yang bisa jadi benar dan bisa jadi tidak. Linimasa tiba-tiba riuh dan dalam beberapa waktu pergunjingan akan bertahan lebih lama.

Bisa kita bayangkan bersama, betapa ‘mengerikannya’ jejak digital (digital records) dalam suasana zaman yang juga serba digital seperti sekarang ini. Kata mengerikan saya beri tanda kutip sebab satu peristiwa atau kegiatan, setidaknya yang dialami oleh kita sendiri, ternyata dapat dimaknai secara beragam dan dapat direproduksi sedemikian rupa, entah menjadi baik dan bermanfaat atau buruk dan menghancurkan.

Kita hidup pada sebuah zaman di mana informasi mengenai diri kita pribadi dengan sangat mudah dapat tersebar dari satu media ke media lain yang tak kenal batasan waktu dan tempat, melalui satu arsitektur besar bernama Big Data. Sementara pihak bahkan berpendapat begini, “Sekarang itu, rasa-rasanya sulit berbicara soal ruang privat. Tindak tanduk kita sekecil apapun sudah dan mudah diketahui”.

Agaknya pendapat tersebut ada benarnya. Perkembangan teknologi informasi telah banyak mengubah pola hidup manusia. Perubahan cara kerja kita dari kultur konvensional ke kultur digital, mengantarkan kita kepada disrupsi atau gangguan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Dalam penggambaran di paragraf pertama, tulisan ini sejatinya hendak mengajak pembaca untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas keseharian kita. Bahwa tanpa kita sadari, kita sering kali alpa jika sekecil apapun perbuatan akan menyisakan ingatan tertentu.

Ingatan yang tidak hanya akan direkam oleh pikiran kita sendiri, melainkan daya ingat orang lain, orang-orang yang berinteraksi dengan kita, dengan tulisan-tulisan kita tentang kisah yang kita alami lewat catatan harian atau bahkan dengan kebiasaan kita menceritakan pengalaman kita sendiri secara lisan kepada orang lain, dengan kebiasaan kita mengabadikan pengalaman dengan berswafoto atau memotretnya dengan kamera dan ponsel, atau belakangan bahkan setiap preferensi pilihan kita di dunia daring (online) akan terekam dengan begitu apik dan cepat ditelusuri.

Arsip Kita: Penting, Tapi Sering Terlupa

Dalam bahasa yang sederhana, seluruh kegiatan atau peristiwa yang terjadi akan terekam dalam arsip (archive). Arsip serupa layaknya rumah bagi kita, seperti akar katanya dari Bahasa Yunani, arkheion, yang berarti rumah atau tempat para dewa.

Arsip menjadi rumah untuk mengingat banyak hal yang perlu kita ingat, sehingga perlu juga untuk diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah ditemukan kembali. Seperti halnya ingatan masa lalu pribadi yang menyakitkan tentang patah hati, kegagalan, atau kesalahan, ingatan tersebut bukan berarti hilang setelah kita hidup pada hari ini, melainkan ingatan tersebut akan tergantikan oleh ingatan yang baru, bersama-sama ingatan baik yang selalu kita rindu dan kenang. Sampai di sini, sudah terbayang belum arsip itu seperti apa?

Begini-begini, dalam cakupan perseorangan misalnya, arsip dapat berupa akta kelahiran yang dibuat sewaktu kita dilahirkan ke dunia, ijazah pendidikan yang kita dapatkan setelah kita dinyatakan lulus dari sekolah dan/atau perguruan tinggi, akta jual beli tanah dan bangunan, Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Bukti Kematian, koleksi foto sewaktu liburan, foto sewaktu masih balita, dan surat-surat atau dokumentasi lain yang akan kita anggap penting untuk mendukung keberadaan kita sebagai pribadi cum warga negara.

Belakangan, tidak menutup kemungkinan jika derajat pentingnya arsip dalam kehidupan pribadi kita tidak hanya berbentuk fisik yang mudah digenggam, melainkan arsip yang tercipta dari keseharian kita di dunia daring, misalnya riwayat percakapan di aplikasi tukar pesan seperti WhatsApp, Line, Telegram, media sosial tempat kita bercerita dan berkeluh kesah—semisal sambat dan misuh-misuh—, surat elektronik, dan aktivitas daring lainnya. Arsip yang terakhir disebut inilah yang kerap kali banyak menimbulkan kegaduhan jika kita tidak mengelolanya dengan benar.

Betapa pentingnya arsip sejak kita dilahirkan sampai diwafatkan, sampai-sampai setiap aktivitas kita di ruang publik memerlukan identitas legal yang melekat pada diri kita. Kita sama-sama menyaksikan atau bahkan mengalami sendiri sewaktu salah satu dari dokumen identitas legal kita hilang atau rusak, dampaknya bisa menyusahkan utamanya ketika berhadapan dengan pelayanan publik. Kita harus mengurusnya kembali, bahkan memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga. Beda ceritanya apabila kita berhati-hati dan tertib dalam mengelola arsip kita sendiri, besar kemungkinan risiko terburuk akan mudah dihindari.

Merawat Arsip, Merawat Ingatan

Setelah kita tahu dan kenal arsip dalam bentuk yang paling sederhana, ada baiknya kita mulai ‘melihat lagi ke dalam’ diri kita; memeriksa apa saja kegiatan atau peristiwa yang telah kita lalui selama ini. Kita bisa memeriksa sembari meninjau ulang, mana arsip yang harus tetap disimpan dan dirawat dengan baik, mana yang harus disingkirkan karena sudah tidak lagi bermanfaat.

Salah satu langkah untuk merawat arsip kita yang terbuat dari bahan konvensional seperti kertas atau kertas film, kita bisa menatanya ke dalam folder atau map dan menyimpannya di tempat yang kita anggap aman, sehingga fisik dan informasi arsip akan terhindar dari kerusakan dan kehilangan, serta jika sewaktu-waktu diperlukan akan dengan mudah ditemukan.

Dalam tataran yang lebih luas lagi, informasi mengenai peristiwa bersejarah di Republik ini, baik itu berupa naskah, foto, atau video, dapat kita ketahui hari ini karena adanya arsip yang terpelihara dan sampai kepada kita oleh banyak ‘tangan’ dan kerja-kerja intelektual yang peduli akan informasi yang terkandung di dalam arsip.

Ini artinya, jika kita sudah sadar untuk merawat arsip sejak dari rumah, bukan tidak mungkin arsip yang merangkumi seluruh kegiatan kita sebagai satu masyarakat, satu bangsa, dan satu negara akan ikut terpelihara dengan baik, demi kebaikan yang sebesar-besarnya bagi generasi penerus kita di masa yang akan datang.

Generasi mendatang akan belajar dan melakukan refleksi atas apa saja yang terjadi hari ini, sehingga tidak hanya akan sekadar tahu tapi juga berbuah sebentuk sikap kebijaksanaan dalam bersikap. Kita boleh saja akan kembali pulang lalu tiada, tetapi jejak kehidupan kita akan terus terjaga untuk waktu yang lebih lama.

Rizal B. Rahman
Penikmat Teh dan Peminat Kajian Kebudayaan. Saat ini bekerja di Arsip Nasional RI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.