Minggu, Februari 28, 2021

Arsip-Arsip Pribumi

Ilmu dan Peradaban Islam

Pada masa kegemilangan peradaban Islam ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan, lahirnya cabang-cabang ilmu baru, munculnya karya-karya yang orisinil, lahirnya ulama dan cendikiawan muslim...

Jurnalisme Klik, Narsisme, dan Masokisme Pembaca

"Hegel berkata bahwa aku eksis karena aku berifikir, ini menjelaskan Kondisi saat itu yang menuntut rasionalitas untuk menumukan kebenaran informasi bagi manusia. Zaman Now...

Vandalisme Featuring Unjuk Rasa

Vandalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau...

Politik Paranoid dan Persatuan Bangsa Indonesia

Pasca jatuhnya Bung Karno akibat kudeta merangkak Soeharto dan kawan-kawan, yang disokong CIA (Central Intelligence Agency). Politik penuh keberanian, yang anti imperialisme, anti kolonialisme,...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Pribumi adalah semua menjadi warga negara Indonesia. Semua yang tinggal dan mengaku bertanah air Indonesia adalah pribumi.Dan mereka yang tidak mengaku berbangsa dan bertanah air Indonesia adalah warga negara asing. Dengan definisi ini siapakah yang lebih pribumi di negeri ini?

Beberapa naskah naskah lama bisa ditelusuri siapakah sebenarnya wajah pribumi itu. Jangan lagi kita menafsirkan pribumi sebagaimana kolonial Belanda menafsirkannya. Mereka telah sukses menggiring opini kita dengan mengasosiasikan pribumi pada golongan atau ras tertentu. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk meminimalisir rasa memiliki dan pengorbanan terhadap negeri ini. Rakyat koloni harus dipecah dan dikendalikan ide persatuannya.

Isyu pribumi yang kembali hangat setelah Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, mengungkapkan dalam pidato pelantikannya. Kita maklum, karena isyu global yang meniscayakan asing berkiprah di sebuah bangsa membuat Gubernur DKI itu mengatakan itu. Selayaknya kita yang memiliki negara ini harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Warisan Sejarah Nusantara di Arsip Nasional Republik Indonesia ini penuh dengan koleksi yang menunjukkan kualitas kepribumian seseorang. Kita bisa menengok ternyata meski pribumi banyak juga pejabat daerah itu yang bermental kolonial. Apakah ini layak dikatakan pribumi?

Jakarta sebagai kota kosmopolitan harus disadarkan pribuminya agar mereka tidak terlena dan hanya menjadi konsumen usaha usaha  yang dilakukan oleh warga negara asing. Agar tak tergilas, pribumi harus bisa meningkatkan kemampuan agar dapat berpacu bersama dengan mereka. Persaingan sudah tidak lagi soal daerah tapi persaingan kita sudah pada tataran global. Menjadi pribumi yang mumpuni adalah sebuah kewajiban.

Tidak ada maksud untuk menyudutkan golongan tertentu ketika Anies mengatakan itu. Semua sama di hadapan hukum kewarganegaraan kita. Pribumi sekali lagi adalah mereka yang mengaku berbangsa dan bertanah air Indonesia. Apa yang menjadikan seseorang menjadi pribumi adalah rasa memiliki pada negeri ini.

Sejarah negeri ini banyak diwarnai oleh pribumi pribumi yang beraneka warna. Semua bangsa yang menempati negeri ini semua pernah bersinggungan dengan pemerintah kolonial. Dari arsip yang masih tertinggal kita bisa membuktikan itu. Kita juga pernah mengalami geger kaum kuning yang membuat peta politik jawa berubah.

Wajah pribumi kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Berbeda rupa, warna, ras tapi toh tetap Indonesia juga. Marilah segenap pribumi di negeri ini kita merevitalisasi peran di segala sektor. Jangan lagi menjadi pengkhianat di negeri ini dengan korupsi dan membodohi saudara sendiri. Bagi saya siapa saja yang memanfaatkan kepentingan pribadi melebihi kepentingan negara bukanlah pribumi.

Akan menjadi indah bila lontaran isyu pribumi Anies Baswedan tersebut disambut dengan kesadaran bahwa isyu globalisasi bila tidak diimbangi dengan meningkatnya skill akan membuat asing merajalela di negeri ini. Jangan hanya bangga dengan status pribumi tanpa mempunyai kecintaan terhadap negeri apalagi minim kontribusi bagi kemajuan negeri.

Mari merevolusi mental pribumi dengan pemahaman baru sebagai sebuah bangsa yang terhubung dengan dunia. Pribumi yang baru dan maju adalah mereka yang betul betul menghayati perannya sebagai warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Anda bisa mengunjungi situs Sejarah Nusantara di web anri.go.id dan Anda akan menyadari siapa yang lebih pribumi di negeri ini. 

Pribumi adalah mereka yang berperan aktif membela negara ini juga memoles pembangunan negara ini dengan karya yang nyata. Mereka para pencoleng itu tidak layak disebut pribumi apapun golongan, ras maupun sukunya. Karena sangat tidak etis bila seseorang yang mengaku pribumi namun menggerogoti negeri ini untuk kepentingan pribadi.

Mari berkaca pada arsip sejarah kita. Arsip adalah kaca benggala yang bisa menunjukkan secara akurat kondisi fakta fakta apa adanya. Jangan lagi meribut

kan pribumi itu yang mana karena sudah jelas mana mental asli pribumi berdasarkan arsip arsip tersebut.

Ayo sama sama sebagai pribumi apapun ras, suku, dan golongan kita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Negeri Indonesia tercinta.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.