Jumat, Oktober 30, 2020

Arsip-Arsip Pribumi

Rasionalisasi Manusia terhadap Bencana Alam

Menjelang akhir tahun, hebatnya gempa dan tsunami di Lombok dan Sumbawa serta Palu dan Donggala mengundang tanda tanya besar. Apakah bencana alam mengakibatkan jatuhnya...

Anak-Anak Rantau dan Kesenjangan Daerah

"Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemudi yang tak kenal waktu, yang selalu berjuang dengan penuh semangat, walaupun jiwa dan raga menjadi taruhannya. Sumpah Pemuda menjadi...

Kaleidoskop-kaleidoskopan Sapiens Zaman Now

Pada akhirnya, kaleidoskop yang bukan alat optik hanyalah gosip produk Homo Fabulans. Dalam rangka tahun baru, tulisan ini mencoba melakukan tilasan refleksi menggunakan kaca...

Kita dan Nasionalisme

Beberapa bulan terakhir ini bangsa kita banyak di landa oleh persoalan-persoalan menyangkut kemanusiaan, mulai dari kasus penyelewengan, tindak kriminal, bahkan sampai pada penistaan antar...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Pribumi adalah semua menjadi warga negara Indonesia. Semua yang tinggal dan mengaku bertanah air Indonesia adalah pribumi.Dan mereka yang tidak mengaku berbangsa dan bertanah air Indonesia adalah warga negara asing. Dengan definisi ini siapakah yang lebih pribumi di negeri ini?

Beberapa naskah naskah lama bisa ditelusuri siapakah sebenarnya wajah pribumi itu. Jangan lagi kita menafsirkan pribumi sebagaimana kolonial Belanda menafsirkannya. Mereka telah sukses menggiring opini kita dengan mengasosiasikan pribumi pada golongan atau ras tertentu. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk meminimalisir rasa memiliki dan pengorbanan terhadap negeri ini. Rakyat koloni harus dipecah dan dikendalikan ide persatuannya.

Isyu pribumi yang kembali hangat setelah Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, mengungkapkan dalam pidato pelantikannya. Kita maklum, karena isyu global yang meniscayakan asing berkiprah di sebuah bangsa membuat Gubernur DKI itu mengatakan itu. Selayaknya kita yang memiliki negara ini harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Warisan Sejarah Nusantara di Arsip Nasional Republik Indonesia ini penuh dengan koleksi yang menunjukkan kualitas kepribumian seseorang. Kita bisa menengok ternyata meski pribumi banyak juga pejabat daerah itu yang bermental kolonial. Apakah ini layak dikatakan pribumi?

Jakarta sebagai kota kosmopolitan harus disadarkan pribuminya agar mereka tidak terlena dan hanya menjadi konsumen usaha usaha  yang dilakukan oleh warga negara asing. Agar tak tergilas, pribumi harus bisa meningkatkan kemampuan agar dapat berpacu bersama dengan mereka. Persaingan sudah tidak lagi soal daerah tapi persaingan kita sudah pada tataran global. Menjadi pribumi yang mumpuni adalah sebuah kewajiban.

Tidak ada maksud untuk menyudutkan golongan tertentu ketika Anies mengatakan itu. Semua sama di hadapan hukum kewarganegaraan kita. Pribumi sekali lagi adalah mereka yang mengaku berbangsa dan bertanah air Indonesia. Apa yang menjadikan seseorang menjadi pribumi adalah rasa memiliki pada negeri ini.

Sejarah negeri ini banyak diwarnai oleh pribumi pribumi yang beraneka warna. Semua bangsa yang menempati negeri ini semua pernah bersinggungan dengan pemerintah kolonial. Dari arsip yang masih tertinggal kita bisa membuktikan itu. Kita juga pernah mengalami geger kaum kuning yang membuat peta politik jawa berubah.

Wajah pribumi kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Berbeda rupa, warna, ras tapi toh tetap Indonesia juga. Marilah segenap pribumi di negeri ini kita merevitalisasi peran di segala sektor. Jangan lagi menjadi pengkhianat di negeri ini dengan korupsi dan membodohi saudara sendiri. Bagi saya siapa saja yang memanfaatkan kepentingan pribadi melebihi kepentingan negara bukanlah pribumi.

Akan menjadi indah bila lontaran isyu pribumi Anies Baswedan tersebut disambut dengan kesadaran bahwa isyu globalisasi bila tidak diimbangi dengan meningkatnya skill akan membuat asing merajalela di negeri ini. Jangan hanya bangga dengan status pribumi tanpa mempunyai kecintaan terhadap negeri apalagi minim kontribusi bagi kemajuan negeri.

Mari merevolusi mental pribumi dengan pemahaman baru sebagai sebuah bangsa yang terhubung dengan dunia. Pribumi yang baru dan maju adalah mereka yang betul betul menghayati perannya sebagai warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Anda bisa mengunjungi situs Sejarah Nusantara di web anri.go.id dan Anda akan menyadari siapa yang lebih pribumi di negeri ini. 

Pribumi adalah mereka yang berperan aktif membela negara ini juga memoles pembangunan negara ini dengan karya yang nyata. Mereka para pencoleng itu tidak layak disebut pribumi apapun golongan, ras maupun sukunya. Karena sangat tidak etis bila seseorang yang mengaku pribumi namun menggerogoti negeri ini untuk kepentingan pribadi.

Mari berkaca pada arsip sejarah kita. Arsip adalah kaca benggala yang bisa menunjukkan secara akurat kondisi fakta fakta apa adanya. Jangan lagi meribut

kan pribumi itu yang mana karena sudah jelas mana mental asli pribumi berdasarkan arsip arsip tersebut.

Ayo sama sama sebagai pribumi apapun ras, suku, dan golongan kita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Negeri Indonesia tercinta.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.