Senin, April 12, 2021

Arsenal Masih Dilanda Krisis

Inovasi Pemerintah Daerah dengan Cinta

Syahdan, para pujangga mengatakan bahwa cinta adalah sebuah variabel yang memiliki hubungan erat dengan semua variabel lain di luar dirinya. Sebuah peperangan besar bisa...

Jembatan Dialogis Kristen dan Islam

Harus diakui sejarah kelam relasi Kristen dan Islam dimulai dari kesadaran kolektif masa lalu tentang perang salib yang berujung kepada hegemoni barat yang saling...

Waspadai Konflik Horisontal, Ganti Debat Menjadi Dialog Capres

Masih perlukah debat capres di TV digelar? Kalau saya amati, tayangan debat capres justru lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Faktanya, debat kedua capres yang...

Epicentrum Literasi

Berawal dari sebuah mimpi yang mengandaikan sebuah daerah yang penuh dengan aksara. Berjejer dari emperan menuju ke pusat kota untuh sebuah tujuan suci yang...

Delapan belas pekan telah berlalu, Arsenal malah berada di peringkat ke-10 Liga Premier Inggris. Perolehan 23 poin dari 18 laga menjadi catatan yang sangat buruk untuk menghiasi sejarah Arsenal.

Selisih 6 poin dari Chelsea yang menduduki peringkat ke-4 klasemen sementara Liga Inggris (Chelsea masih akan bertanding melawan Tottenham Hotspur esok hari), Arsenal harus meracik strategi baru untuk dapat mengamankan tiket Liga Champion musim depan. Hal ini lah yang wajib dilakukan oleh pelatih baru mereka Mikel Arteta.

Mikel Arteta yang merupakan mantan kapten Arsenal pada musim 2014–2015 dan 2015–2016 diharapkan mampu menjadi obat mujarab untuk mengembalikan Arsenal ke posisi empat besar Liga Premier Inggris.

Berbekal pengalaman sebagai asisten manajer Pep Guardiola di Manchester City, Mikel Arteta tentunya sudah tidak asing lagi dengan dunia kepelatihan. Bahkan mantan pelatihnya di Arsenal, Arsene Wenger pernah menyebutkan bahwa Mikel Arteta memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pelatih sepak bola profesional.

Pria kelahiran Spanyol 37 tahun silam ini resmi menjadi pelatih Arsenal per Jumat 20 Desember 2019 kemarin. Debut pertamanya melawan Everton tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan menerapkan strategi possession football, Arsenal mampu mengendalikan jalannya pertandingan, namun belum dari segi efektifitas, Everton jauh lebih unggul dari Arsenal.

Tercatat Arsenal hanya mampu melancarkan enam tendangan, dimana hanya dua diantaranya yang mengarah ke gawang Everton sedangkan Everton meskipun hanya memiliki possession sebanyak 43% mampu melancarkan sembilan tendangan ke arah gawang Arsenal. Rapatnya pertahanan kedua tim akhirnya menghasilkan skor kacamata.

Mikel Arteta tentunya tidak dapat disalahkan sepenuhnya atas hasil ini. Mengingat banyaknya pemain yang dilanda cedera sebelum pertandingan ini membuat Mikel Arteta harus berpikir keras dalam memilih starting eleven dari skuat yang sangat terbatas.

Tercatat setidaknya ada enam pemain kunci Arsenal yang menderita cedera sebelum pertandingan ini. Mereka adalah Sead Kolasinac, Dani Ceballos, Hector Bellerin, Rob Holding dan pemain dengan gaji termahal mereka, Mesut Ozil. Kehilangan enam pemain penting ini nampaknya sangat memengaruhi performa Arsenal.

Starting eleven yang didominasi pemain muda nampaknya belum padu dan hanya bermain berdasarkan intuisi mereka saja. Tercatat rata–rata umur pemain Arsenal adalah 24 tahun, starting eleven termuda mereka sejak laga terakhir musim 2010 – 2011 melawan Fulham.

Tidak adanya sosok Mesut Ozil dan Nicolas Pepe di lini tengah Arsenal membuat serangan Arsenal menjadi monoton dan sangat mudah untuk dipatahkan tim lawan. Serangan Arsenal hanya berfokus pada sayap kiri mereka, Gabriel Martinelli dan tidak ada variasi serangan lain.

Pierre Emerick Aubameyang yang sejatinya merupakan seorang striker tajam tidak mampu memberikan kontribusi yang signifikan karena kurangnya supply bola dari lini tengah. Aubameyang mungkin dapat memberikan kontribusi signifikan apabila di lini tengah Arsenal terdapat pemain–pemain kreativ seperti  Mesut Ozil dan Nicolas Pepe.

Hasil pertandingan malam ini tentunya belum mampu membawa Arsenal keluar dari krisis. meskipun demikian, Arteta mampu membawa secerca harapan kepada para penggemar setia Arsenal. Arsenal memang belum mampu memenangi pertandingan, namun Arsenal mampu untuk mempertahankan gawangnya dari kebobolan.

Hasil ini memutus rekor buruk Arsenal yang tidak pernah mencatat clean sheet  di 14 pertandingan sebelumnya di semua kompetisi, rekor terpanjang mereka sejak musim 1983–1984.

Arsenal terakhir kali mencatatkan clean sheet  pada dua bulan yang lalu saat mereka menjamu Bournemouth pada pekan ke-8 Liga Premier Inggris, dimana pada pertandingan tersebut Arsenal mampu menang tipis 1-0 atas tim tamu.

Mikel Arteta tentunya masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tim barunya, meskipun sebagian dari skuat Arsenal merupakan mantan rekan satu timnya dulu ketika ia masih memperkuat Arsenal sebagai pemain.

Tugas berat menanti Mikel Arteta di Arsenal. Mengembalikan kepercayaan diri para pemain Arsenal adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh Arteta. Dari segi kualitas, tidak ada yang meragukan kualitas pemain–pemain Arsenal, namun dari mentalitas pemain–pemain Arsenal sangatlah kurang.

Jika Mikel Arteta ingin mengembalikan Arsenal sebagai salah satu tim Raksasa Liga Premier Inggris maka membangun kepercayaan diri dari para pemainnya merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan.

Selain membangun kepercayaan diri para pemain, Mikel Arteta juga harus mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh Mesut Ozil. Pemain berkebangsaan Jerman ini adalah pemain kunci pada zaman Arsene Wenger dan merupakan maestro lini tengah yang disegani lawan–lawannya.

Mantan juara piala dunia tahun 2014 ini sudah tidak diragukan lagi kemampuannya, baik dalam mencetak bola maupun memberikan umpan–umpan yang memanjakan rekan setimnya. Namun dalam beberapa tahun ini performa Ozil menurun tajam.

Mengembalikan Ozil ke masa kejayaannya merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan oleh Arteta Apabila Arsenal ingin mengamankan tiket Liga Champion musim depan. Harapan itu tentunya masih terbuka bagi Mikel Arteta dan juga Arsenal.

Apakah Mikel Arteta mampu membawa Arsenal keluar dari krisis? Atau malah semakin meneggelamkannya ke dalam badai yang berkepanjangan, hanya waktu yang bisa menjawab.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.