Selasa, Maret 2, 2021

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Fundamentalisme dan Hancurnya Negara

Sering sekali kita mendengar istilah fundamentalisme dewasa ini. Saya tidak akan membedah secara mendalam tentang pengertian dari istilah tersebut karena saya bukan ahli bahasa. Namun...

Memahami Keterlibatan TNI dalam RUU Antiterorisme

Pasal 43 B ayat (1) Draft RUU Antiterorisme menjelaskan, bahwa kebijakan dan strategi nasional penanggulangan Tindak Pidana Terorisme dilaksanakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia,...

Setelah ‘Penjaga Pancasila’ Itu Pamit

“Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya tertata rapi, punya daya magis, dan mengandung makna mendalam. Apalagi kalau bicara soal ideologi bangsa, Pancasila. Nyaris tak...

The End of Full Day School

BOOSTING students in the particular context would probably be destructing their mind. It has been happening today since Ministry of Education and Culture, Muhadjir...
Ajie Prasetya
A learners & amateur penman.

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk dibidang penyebaran informasi. Beragam informasi di dunia timur dalam waktu singkat dapat diketahui oleh warga di dunia barat, begitupun sebaliknya. Namun, dalam penyebaran informasi tentu hal tersebut tidak terlepas dari peran media massa.

Media massa adalah sebuah instrumen penyebaran informasi kepada khalayak ramai. Sebagai sebuah instrumen tentu banyak cara yang digunakan untuk menyebarkan informasi. Bisa melalui bentuk suara, tulisan, gambar, dan lainnya. Media massa juga telah mengalami perkembangan yang pesat, dahulu media konvensional (surat kabar, radio, televisi) memiliki daya tarik yang kuat serta merupakan media yang paling diminati masyarakat untuk mengetahui sebuah informasi.

Akan tetapi, media konvensional saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Sebab, saat ini dunia sudah terkoneksi oleh sebuah teknologi yang bernama Internet. Dampak dari internet pun sangat dahsyat, internet menjadikan tatanan kehidupan sosial di masyarakat pun berubah termasuk dalam perihal untuk mengetahui informasi.

Dahulu koran atau surat kabar menjadi salah satu primadona yang paling berpengaruh dalam penyebaran informasi di seluruh dunia. Namun, saat ini seiring telah masuknya era revolusi industri 4.0 maka digitalisasi media telah melanda seluruh dunia. Bahkan beragam surat kabar memilih beralih dan mengembangkan sayapnya ke media digital.

Era digitalisasi media yang menyebar secara global memang menaruh sebuah perubahan besar dan suramnya masa depan media konvensional. Bahkan menurut bos media Jawa Pos, Dahlan Iskan, mengatakan bahwa nasib media konvensional, dalam hal ini media cetak, hampir selesai.

Ada beberapa hal yang menyebabkan beliau mengemukakan pendapat itu menurut saya, pertama dalam faktor pengguna internet. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 143 juta dari jumlah penduduk indonesia yang berjumlah 262 juta penduduk.

Ditambah dengan teknologi yang semakin maju, hadirlah beragam alat komunikasi seperti laptop, gawai atau gadget yang memiliki beragam fungsi bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi para pengguna internet. Melalui jaringan internet, mereka lebih baik membaca sebuah berita atau informasi lewat gawai ketimbang harus membeli sebuah surat kabar.

Faktor penyebab yang kedua yakni biaya produksi. Dalam melakukan sebuah percetakan surat kabar, penerbit harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk membeli keperluan cetak dan biaya cetak itu sendiri.

Membeli kertas, mesin cetak, listrik, hingga human cost menjadi biaya yang besar bila dibandingkan dengan omset atau terbitan mereka yang jumlahnya semakin menurun seiring terjadinya digitalisasi media. Tak heran, media massa seperti Jakarta Globe menghentikan proses penerbitan surat kabar dan beralih kepada media massa berbasis digital.

Lantas bagaimana nasib media konvensional? Akankah lenyap begitu saja dalam peradaban? Dalam pandangan saya, nasib media konvensional akan tetap eksis kedepannya. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Media konvensional pada hakikatnya memiliki sebuah basis atau para penikmat sejati.

Contoh saja media massa cetak, meskipun pada paragraf di atas saya ungkapkan pendapat mengenai suramnya masa depan media cetak. Namun, ada beberapa pandangan yang akan saya kemukakan tentang media cetak sendiri. Media cetak akan tetap ada, namun seiring dengan semakin bertumbuhnya generasi milenial, dapat dipastikan jumlah pengguna media cetak sendiri tidak akan sebesar beberapa tahun belakangan. Kebiasaan milenial yang menginginkan hal serba instan dan tidak mau ribet, harus menjadi perhatian para perusahaan media massa. Walau demikian, tetap ada pasar para penikmat media cetak sendiri.

Lapisan masyarakat kalangan atas seperti pengusaha, pejabat dan lainnya cenderung menyukai kualitas penyajian informasi atau berita lewat media cetak. Media cetak dianggap lebih kredibel dan terpercaya untuk mendapatkan beragam informasi dibandingkan media digital yang didalamnya rawan akan informasi hoaks.

Selain media cetak, radio dan televisi yang merupakan salah satu media konvensional pun akan tetap eksis kedepan. Mengapa demikian? Dalam riset yang dilakukan oleh Nielsen pada 2017, pendengar radio masih sekitar 37 persen atau sekitar 20,2 juta penduduk di 11 kota Indonesia dengan durasi mendengar radio sekitar 129 menit perhari. Belum lagi belanja iklan yang ada di radio saja dalam setahun bisa mencapai 900 milyar, hal tersebut membuktikan bahwa radio masih memiliki sebuah makna dalam kehadirannya.

Untuk televisi sendiri, memang jumlah penonton tayangan televisi mengalami penurunan, terkhusus masyarakat usia 18 sampai 34 tahun yang lebih memilih menonton lewat beragam platform video di gawai mereka.

Namun, menurut Michel Wolff, kolumnis dan seorang penulis buku Television Is The New Television: The Unexpected Triumph of Old Media in the Digital Age, mengemukan pendapat bahwa dalam perihal periklanan, pasar iklan digital belum akan mengalahkan pasar iklan televisi, namun hanya sedikit mengganggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa televisi masih menjadi salah satu media yang efektif dan memiliki dampak besar terhadap periklanan.

Globalisasi menjadi sebuah fenomena bagi masyarakat dunia. Sebab itu, nasib media konvensional pun menjadi tanda tanya besar di masa depan. Karena beberapa tokoh media meramalkan bahwa media konvensional nyaris mati saat ini. Namun, nasib media konvensional nampaknya tetap akan eksis sejalan dengan era digitalisasi media. Beberapa faktor penyebab yang terkuat adalah media konvensional sudah memiliki pangsa tersendiri di masyarakat, baik sebagai media informasi, hiburan, dan lainnya.

Jadi, di tengah era Revolusi Industri 4.0 yang mengubah wajah media massa, media konvensional akan tetap eksis dan  melakukan perubahan serta berubah. Sebab dalam media konvensional dan media digital saat ini berjalan beriringan karena banyak media konvensional yang mengubah sajian ke bentuk digital.

Hanya platformnya saja yang berubah, redaksi serta isi berita tetap sama dengan yang ada dalam media konvensional. Untuk itu saya berpendapat, tanpa media konvensional dipastikan dunia kehilangan “sesuatu” yang besar dan karena itu media konvensional di masa depan masih akan tetap eksis berbarengan dengan era media digital.

Ajie Prasetya
A learners & amateur penman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.