Sabtu, Maret 6, 2021

Arab Saudi dan Ahlussunnah Wal Jama’ah, Ada Apa?

Refleksi “Sistem Ganjil-Genap” dan Menanti ERP di Jakarta

Tulisan ini akan lebih banyak berbicara tentang Sistem Ganjil-Genap di Jakarta. Sistem ini menjadi refleksi untuk penerapan ERP (Electronic Road Pricing) di Jakarta nanti....

Orang-Orang Kelaparan

Salah satu keprihatinan yang kadang terlintas di benak pikiran saya adalah mengenai terjadinya kasus kelaparan. Tidak mengherankan memang jika saja kita mau blusukan ke...

Norma dan Etik Kepala Daerah Menjadi Tim Sukses

Banyak Kepala Daerah terlibat menjadi tim kampanye Capres-Cawapres, baik di kubu Jokowi-Ma’ruf Amien, maupun di kubu Prabowo-Sandi. Hal ini mengacu pada Undang-Undang No 7...

Tragedi Rohingya dan Babak Baru

Oleh: Zaenal Arsyad Alimin* Hampir sebulan lebih beranda media Sosial dipenuhi dengan kabar dan berita tragedi yang menimpa Etnis Rohingya. Seluruh lini masa sedang terserang...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Diduga kuat Arab Saudi berkonspirasi dengan Inggris dan Amerika Serikat (AS) untuk menekan muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah di sejumlah negara di dunia. Melalui ‘tentara boneka’ ciptaan mereka seperti Wahabi dan Salafi, Arab Saudi ingin menebarkan Islam versi mereka.

Namun, gelagat busuk Arab Saudi akhirnya tercium oleh sejumlah pemimpin muslim di negara-negara Timur Tengah. Konflik fisik antarsesama umat muslimpun tak terhindarkan. Salah satu kelihaian Arab Saudi adalah mereka berhasil  ‘menelikung’ kaum muslim yaitu seolah-olah mereka menerapkan Al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga acapkali menampilkan diri sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka terdapat Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi kaum muslim dari berbagai negara.

Arab Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai pelayan umat dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain). Sekarang, ‘pencitraan’ itu semakin hancur mengingat keluarga Kerajaan semakin ‘bergaul akrab’ dengan AS yang rela mengorbankan nyawa, harta dan menekan negara-negara berpenduduk muslim.

Wahabi Takfiri

Perlu diketahui bahwa penguasa Makkah dan Madinah saat ini adalah Keluarga Kerajaan Aly Saud yang mengusung paham Khawarij dan Mujasim. Mereka selalu meneriakkan pengkafiran, pembid’ahan, pemusyrikan dan penghalalan darah kaum muslim. Inilah yang menjadi ciri Wahabi Takfiri sebagai perwujudan kaum Mujasim modern.

Jargon mereka yang terkenal ialah “Kembali kepada Quran dan Sunnah“. Maksudnya adalah kembali kepada pemahaman Quran dan Sunnah versi mereka, bukan sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Seperti banyak diberitakan media massa dunia, sampai saat ini kerajaan Arab Saudi tidak pernah membantu Palestina? Bahkan, Arab Saudi ‘bercumbu mesra’ dengan kaum Zionis dalam sejumlah pertemuan politik rahasia.

Saat ini di Saudi Arabia terjadi sejumlah pembunuhan, siksaan dan penangkapan terhadap para ulama. Semua tindak kekerasan Arab Saudi tertulis dalam kitab-kitab sejarah Islam. Gerakan Wahabi yang didanai Inggris dan Yahudi ini, memaksa kaum muslim untuk menjadi tentara ‘boneka’ mereka.

Ada sebuah camp tempat pelatihan yang dinamakan Hajar al-Arkawiyah. Di sana para instruktur militer dari Inggris melatih daya tempur mereka dan menancapkan doktrin kepada para pengikutnya bahwa siapapun orang Islam yang tidak bermazhab Wahabi adalah kafir dan halal darahnya. Mereka didoktrin untuk membenci kaum muslim yang berbeda mazhab. Tentara ‘boneka’ (kaum muslim) ini digembleng menjadi tentara pembunuh tersadis dan biadab, mirip dengan tentara Hulagu Khan yang menghabisi kekhalifahan Dinasti Abbasiyah atau tentara Serbia yang membantai ratusan ribu warga muslim di Bosnia Herzegovina.

Tentara Boneka

Tentara ‘boneka’ ini menamakan mesin perangnya dengan sebutan al-Ikhwan. Mereka menamakan peperangannya dengan sebutan Jihad. Mereka menamakan penyerbuannya dengan sebutan Ghazawat. Mereka menamakan kemenangannya dengan sebutan Futuhat. Mereka menamakan prajuritnya yang mati dengan sebutan Syuhada. Mereka menamakan musuhnya dari kaum muslimin yang berbeda mazhab dengan sebutan kafir.

Jadi, jelaslah bahwa Arab Saudi sampai sekarang tidak pernah menerima Ahlussunah Wal Jama’ah yang dibawa oleh para imam mazhab. Bahkan, kabarnya mereka mengkafirkan seluruh imam mazhab dan penganut Ahlussunah Wal Jama’ah.

Sumber

WEB.TELEGRAM.ORG

.http://mahkota77.hexat.com/beritaku/__xtblog_entry/11229669-arab-saudi-bukan-negara-islam-tapi-pedagang-dan-juragan-islam?__xtblog_block_id=1

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.