Jumat, Oktober 30, 2020

Apresiasi Puan Maharani atas BEC sebagai Etalase Seni

Delusi Merusak dan Merasuki Muhammadiyah

Konsistensi dan komitmen Muhammadiyah mendakwahkan Islam yang welas asih semakin menuai simpati dan kepercayaan banyak pihak. Tidak hanya dakwah modal “ngoceh” tapi juga kental etos...

Nasib Pengangguran Berseragam

Menjadi pegawai negeri adalah gengsi tersendiri bagi sebagian besar masyarakat di daerah saya Kabupaten Sinjai. Masyarakat yang mengenakan pakaian dinas akan mendapatkan perlakuan dan...

Corona dan Nasionalisme Kita

Berbagai penyakit menular pada manusia yang bersumber dari hewan telah banyak mewabah di dunia, mulai dari pandemi influenza, ebola, flu burung, sars, mers dan...

Melihat Makna Di Balik Ungkapan “Pribumi” Anies Baswedan

 Beberapa hari ini kita disibukan oleh hal-hal yang menggelitik, tiba-tiba istilah pribumi mendadak viral di jagat pertarungan dunia maya. Berawal dari pidato yang heroik...

BEC merupakan salah satu bentuk etalase seni yang patut mendapat apresiasi 

(Puan Maharani)

Menampilkan ragam kebudayaan lokal selalu merupakan hal yang membahagiakan. Pertama, sebab setiap lokal sesungguhnya memiliki kekayaan kebudayaannya masing-masing yang perlu untuk ditunjukkan. Dengan mempertunjukkannya kepada publik, itu artinya ada suatu kepedulian untuk merawat dan melestarikannya. Pertunjukan kebudayaan lokal mengandung sebuah kepedulian kepada kebudayaan sendiri yang tumbuh dan berakar kuat di dalam kehidupan masyarakatnya.

Kedua, kebudayaan lokal menegaskan eksistensi negara ini yang memang dikenal dengan sebagai sebuah negara yang majemuk. Pengertian majemuk di sini adalah terdapatnya warna-warni kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia: ada kebudayaan yang ragam, seni yang beragam, dan kekayaan lainnya. Mempertunjukkannya adalah suatu apresiasi tersendiri dan pengakuan dari hati yang dalam (juga kepercayaan diri dari dalam) bahwa inilah negeri kita Indonesia.

BEC atau Banyuwangi Ethno Carnival adalah salah satu penegasan betapa pentingnya mengapresiasi kebudayaan lokal. Dalam berita yang dikutip dari kumparancom, terdapat sebanyak “160 kostum yang bercorak kearifan lokal budaya Banyuwangi ditampilkan di Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2017 di Taman Blambangan, Banyuwangi”. Acara ini menarik perhatian publik bahkan sejumlah pejabat pemerintah datang mengunjungi acara ini. Salah satunya Puan Maharani.

Tumbuhnya Kebanggaan Masyarakat pada Kebudayaan Lokal

Bagi Puan Maharani, BEC bisa dibaca sebagai tumbuhnya kesadaran di dalam masyarakat lokal untuk mempertunjukkan kebanggaan dan pengakuan bahwa mereka memiliki kebudayaan lokal yang indah, yang unik dan sesungguhnya tak kalah indah dari kebudayaan yang lain. Kebanggaan ini merupakan suatu hal yang baik (asal saja tidak terjebak pada kebanggaan buta dengan menafikan dan meremehkan kekayaan kebudayaan daerah lain).

Kesadaran ini tentu saja perlu terus dirawat. Eksistensi Indonesia ditegaskan oleh keanekaragaman yang ada. Bila keanekaragaman ini tidak memperoleh daya dorong dari pemerintah untuk terus maju, Indonesia bakal tinggal nama sebagai bangsa yang majemuk. Kita tinggal slogan-slogan saja sebagai ‘bhinneka tunggal ika’.

Kehadiran Puan Maharani selaku perwakilan pemerintah di acara BEC ini adalah sebentuk pengakuan, apresiasi dan dorongan dari pemerintah. Bahwa kreatifitas BEC untuk memperkenalkan kebudayaan-kebudayaan lokal adalah suatu hal yang patut diapresiasi. Ini harus terus dilakukan. Dalam komentarnya atas BEC, Puan mengatakan: “BEC merupakan wadah untuk menumbuhkan kreativitas warga Banyuwangi sekaligus mengangkat potensi wisata Banyuwangi. Menghadirkan tema dari kultur budaya dan kearifan lokal membuktikan bahwa BEC merupakan salah satu bentuk etalase seni yang patut mendapat apresiasi”. (kumparan).

Dalam komentar itu, Puan Maharani menyebut BEC sebagai bentuk etalase seni. Bayangkan sebuah etalase dengan sederet seni budaya yang tersedia di dalamnya. Ungkapan ini menunjukkan betapa satu lokal saja bernama Banyuwangi adalah satu etalase yang memiliki banyak hal seni bisa disajikan di sana. Puan Maharani menegaskan dengan ungkapan itu sebagai bentuk pujian dan dorongan bahwa di tempat ini (Banyuwangi) suatu estetika seni begitu banyaknya sehingga dia menyebut BEC sebagai ajang atau etalase seni. Bayangkan saja, ini baru satu lokal saja. Jika Puan Maharani menyebut ajang kreatifitas semacam ini di tempat lain dengan sebutan etalase seni, itu mengisyaratkan bahwa kekayaan atau kearifan seni budaya lokal juga terdapat (begitu banyak) di daerah lain. Jika ini diakumulasikan seluruh Indonesia, berapa banyak seni budaya yang bisa ditampung di dalam etalase Indonesia.

Menyedot Wisatawan

Sebagai etalase kesenian, Puan Maharani menyebut ajang ini menarik perhatian publik. BEC mampu menyedot perhatian para wisatawan. Puan menyebut bahwa BEC dan event-event tahun Banyuwangi lainnya telah menarik wisatawan dengan capaian angka sekitar 3 juta orang dari target 2,5 2016. Angka ini dalam pandangan Puan Maharani semakin menegaskan bahwa Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata. Bahkan Puan Maharani sendiri mengakui dengan begitu yakini bahwa kota yang berjuluk The Sunrise of Java bisa menjadi destinasi wisata andalan Indonesia di masa depan (kumparan).

Dari sisi ekonomi, event ini juga turut memberi keuntungan bagi Banyuwangi. Dengan kreatifitas ini, roda perekonomian di Banyuwangi kian bergairah. BEC turut andil menciptakan dan mendorong gairah pertumbuhan ekonomi di tempat ini. Inilah sisi keuntungan materiil dari kreatifitas kebudayaan. Sekali lagi, selain aspek-aspek idiil dari kreatifitas kebudayaan ini yang bisa diperoleh oleh masyarakat (misalnya semakin sadar tentang pentingnya mengagumi kebudayaan sendiri dan kian kuatnya kesadaran akan identitas budayanya), aspek materiil adalah hal yang positif dari keberadaan BEC.

Puan Maharani menegaskan harapan agar BEC dapat benar-benar memberikan dampak bagi perekonomian berbasis budaya masyarakat dan usaha kecil menengah di Banyuwangi (kumparan).

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.