Selasa, Maret 2, 2021

Apakah Umat Islam Masih Menjadi “Khairu Ummah”?

Melaksanakan Pilpres Melalui MPR, Yakin?

Hiruk pikuk demokrasi di Indonesia begitu meriah, dengan berbagai macam isu dan aspirasi yang disampaikan langsung oleh begitu banyak pihak, serta memiliki cara tersendiri. Beberapa...

Banjir Jabodetabek, Inkonsistensi Aktor Politik

Sikap optimisme menyongsong tahun 2020 menjadi slogan yang sering kita baca atau kita dengar ketika menjelang pergantian tahun. Namun ketika kejadian yang muncul di...

Merawat Demokrasi dengan Konstitusi

Sebagaimana lzim kita ketahui bersama, bahwa sistem di banyak pemerintahan dunia saat ini sudah bertransformasi dalam bentuk negara demokrasi. Pun dengan Indonesia, pasca era...

Ridwan Kamil, Ahok dan Sentimen Anti-Tionghoa

Ridwan Kamil, pemilik sapaan akrab Kang Emil, tidak henti-hentinya dikaitkan dengan sosok Basuki Tjahaja Purnama dan situasi politik di Jakarta terkait Pilkada DKI lalu....
Rafi Tajdidul Haq
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bandung Timur sebagai Kabid Riset Pengembangan Keilmuan | Ig : @rafitajdidulhaq |E-mail : rafi.tajdidul.haq98@gmail.com | Pengelola Media Samar.id | Cooming Soon Buku Saya

Dalam al-Qur’an, umat Nabi Muhammad Saw dijuluki umat terbaik “khairu ummah” oleh Allah Swt.  Sebutan umat terbaik tersebut masih menyisakan tanda tanya, kepada umat Islam yang mana dan umat Islam yang punya prestasi apa yang layak digelari sebagai umat terbaik? Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi bahan renungan bagi umat Islam saat ini untuk berkaca kembali terkait hal itu: apakah umat Islam masih layak disebut umat terbaik?

Generasi umat Islam awal pada zaman Nabi Muhammad Saw dan para Sahabat diyakini sebagai generasi yang dikatakan umat terbaik tersebut. Setelah generasi awal tersebut berlalu julukan umat terbaik ini menjadi teka-teki. Misalnya Buya Syafii, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang dalam bukunya Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Muslim, beliau mempertanyakan kedudukan umat terbaik yang diberikan untuk umat Islam tersebut.

Buya mengatakan bahwa dalam realitas sejarah, banyak peristiwa di kehidupan umat Islam yang tidak merefleksikan bahwa umat Islam adalah khairu ummah. Pernyataan Buya sekaligus merupakan kritik bagi dunia muslim yang hingga detik ini masih terjebak dalam  lingkaran konflik masa lalu.

Di penghujung periode kepemimpinan khulafaurrasyidin misalnya terjadi konflik berdarah-darah antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan ummul mukminin,  Siti Aisyah. Disusul konflik berdarah-darah antara pasukan Ali dan Muawaiyah bin Abi Sofyan dalam perang Shiffin.

Peristiwa kelam tersebut merupakan krisis pertama di dunia muslim sekaligus menjadi bahan evaluasi. Akibat konflik masa lalu umat Islam tersebut, hingga kini umat Islam terus menerus terfragmentasi dalam berbagai aliran alias kotak-kotak keagamaan. Aliran Islam tersebut mewarisi konflik masa lalu dan hingga kini masih terus memanas dan menjadi biang keladi perpecahan sesama umat Islam

Selain itu, konflik berkepanjangan seperti Arab Saudi dan Republik Islam Iran yang hingga kini terus menerus memanas menunjukkan rapuhnya ukhuwah Islamiyah kolektif internal umat Islam. Konflik yang  dilatarbelakngi paham kegamaan yang berbeda ditambah keinginan untuk saling berebut pengaruh di Timur Tengah.

Belum lagi diskriminasi yang banyak dilakukan terhadap umat muslim seperti penganiyaan muslim Rohingya, Uighur, India dan Palestina menambah catatan merah solidaritas sesama umat Islam yang remuk tersebut. Tidak salah bila hingga detik ini sisa-sisa keanehan masih ada dalam diri umat Islam terkait bagaimana sebenarnya kedudukan umat terbaik ini.

Kandungan Nilai Ayat  “Khairu Ummah” Menurut Kuntowijoyo

Umat terbaik di dalam al-Qur’an diidentifikasikan sebagai mereka yang senantiasa mempraktikkan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah pada yang munkar (keburukan). Disusul kemudian dengan indikator beriman kepada Allah Swt atau mereka yang senantiasa tu’minuuna billahi secara konsistenKetarangan tersebut disebutkan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 110.

Kuntowijoyo dalam buku Paradigma Islam setidaknya menyatakan bahwa ayat tersebut megandung tiga aspek nilai yaitu nilai liberasi, humanisasi dan transendensi. Mengacu pada argumentasi tersebut, khairu ummah setidaknya harus memiliki tiga kandungan nilai di atas. Pertama, nilai liberasi (pembebasan). Umat terbaik berkarakter pembebasan artinya membebaskan manusia dari segala keterbelengguan baik secara ekonomi, politik dan keagamaan.

Usaha mengaktualisasikan Islam sebagai ajaran pembebasan sudah dilakukan oleh banyak tokoh Muslim seperti Hasan Hanafi dengan gagasan oksidentalisme dan pendekatan antroposentrisme-nya, teologi pembebasan Asghar Ali Enginer, di Indonesia ada KH. Ahmad Dahlan dengan spirit Teologi al-Maun.

Kedua, nilai humanisasi. Yaitu menghargai setiap individu dengan kedudukan yang sama di hadapan manusia lainnya karena nilai kemanusiaan yang dimilikinya. Nilai ini harus senantiasa didengungkan karena dalam kenyataannya, masih ada manusia yang dipandang sebelah mata dan dianggap rendahan bahkan disamakan dengan hewan.

Merebaknya sikap rasialisme dan rasisme merupakan bukti konkret betapa kebiasaan merendahkan sesama manusia itu ternyata masih banyak. Sehingga,  tidak dikatakan sebagai umat terbaik bila umat tersebut masih belum bisa menghargai derajat kemanusiaan seseorang. Karena satu-satunya yang membedakan antarsesama manusia hanyalah ketakwaannya di hadapan Allah Swt.

Ketiga, nilai transendensi. Umat terbaik tentu harus mampu menyerap nilai-nilai ilahiah yang terejawantahkan dalam praktek keagamaan. Baik saleh secara individual yang hubungannya vertikal langsung kepada Allah Swt dan saleh secara sosial yang hubungannya kepada sesama manusia. Ketiga nilai tersebut menggambarkan kriteria umat terbaik yang menjadi cita-cita bersama umat Islam saat ini.

Umat Islam Indonesia dan Realisasi “Khairu Ummah”

Di tengah ketertinggalan umat muslim dewasa ini, seruan  menuju konsep khairu ummah menjadi urgen dan mendesak. umat Islam di Indonesia punya modal besar untuk merealisasikan konsep umat terbaik tersebut. Ada beberapa alasan penting terkait hal tersebut. Pertama, umat Islam Indonesia sudah lama menjadi harapan umat Islam lainnya di seluruh dunia untuk menjadi corong peradaban Islam kontemporer. alasan ini cukup rasional, mengingat Islam di Indonesia memiliki karakter Islam yang moderat (wasathiyah), toleran (Tasammuh) dan Seimbang (Tawazzun).

Kedua, paham keislaman terus bertranformasi menjadi aksi-aksi kemanusiaan yang konkret seperti kemajuan dalam pendidikan, kesehatan dan gerakan ekonomi. Aksi-aksi konkret tersebut seperti yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah dengan membangun ribuan sekolah dan ratusan perguruan tinggi serta rumah sakit yang tersebar di seluruh belahan bumi Indonesia.

Ketiga, umat Islam di Indonesia tidak kering pemahaman keagamaan dan wacana keislaman. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di Indonesia banyak bertaburan wacana keislaman yang masif dan menarik perhatian dunia muslim lainnya. misalnya wacana Islam berkemajuan yang diinisiasi Muhammadiyah dan Islam Nusantara yang diinisiasi Nahdlatul Ulama (NU) yang beberapa tahun belakangan memantik api intelektualisme di dunia Muslim. Berdasarkan ketiga hal tersebut, maka umat Islam Indonesia mempunyai keuntungan yang besar menuju umat terbaik seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’an.

Rafi Tajdidul Haq
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bandung Timur sebagai Kabid Riset Pengembangan Keilmuan | Ig : @rafitajdidulhaq |E-mail : rafi.tajdidul.haq98@gmail.com | Pengelola Media Samar.id | Cooming Soon Buku Saya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.