Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Apakah Suara Laki-laki bagian dari Aurat ?

Mengapa Perempuan Terkena Toxic Financial di Era New Normal?

Berbicara soal cinta memang tidak ada batasnya. Cinta memiliki dimensi yang berbeda. Rahasia-rahasia dibaliknya seperti petak-petak misteri di dalam suatu box. Kita hanya bisa...

Idul Qurban dan Kemerdekaan

Agustus kali ini demikian unik lantaran memperingati dua momentum sejarah sekaligus. Hari raya Idul Qurban dan kemerdekaan Indonesia. Dua peristiwa ini memiliki arti mendalam...

Melaksanakan Pilpres Melalui MPR, Yakin?

Hiruk pikuk demokrasi di Indonesia begitu meriah, dengan berbagai macam isu dan aspirasi yang disampaikan langsung oleh begitu banyak pihak, serta memiliki cara tersendiri. Beberapa...

Dilema Pemerataan Pendidikan dan Tantangan Melindungi Guru

Mari lupakan sejenak hiruk pikuk tentang permasalahan UNBK dengan soal-soal HOTS (higher order thinking skills) yang bikin pusing siswa dan sempat menjadi perdebatan masyarakat...
Ilham Ibrahim
Penulis buku Santri Postmodern

Ada sedikit kegelisahan yang menggelora saat mendengar pertanyaan dari seorang audiens ketika kajian Ahad pagi (15/10) di masjid Islamic Centre UAD. Pertanyaannya begini: Apakah suara perempuan bagian dari aurat ?

Jawaban ust. Nurkholis, narasumber dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, atas pertanyaan tersebut pada intinya suara perempuan bukan bagian dari aurat selama suaranya itu tidak memancing syahwat.

Saya sama sekali tidak terobsesi dengan jawaban atas pertanyaan tersebut karena bahasan suara perempuan aurat atau bukan telah beribu-ribu tahun yang lalu dibicarakan dengan kesimpulan yang begitu-begitu saja.

Keresahan saya adalah terkadang kita menghukumi segala sesuatu tentang nasib perempuan dengan kacamata maskulin. Apa-apa harus ditakar dengan standar laki-laki. Aurat tidaknya suara perempuan harus ditimbang dengan daun telinga laki-laki. Sementara status hukum suara laki-laki tidak pernah disentuh. Padahal kita bisa menghukumi suara laki-laki dengan logika paling sederhana dari ushul fiqh, yaitu qiyas.

Maka, untuk masuk ke arah sana pertama-tama yang harus kita telaah terlebih dahulu adalah: apa yang dimaksud dengan syahwat ?

Menurut Imam Isfahani, syahwat adalah dorongan dalam diri manusia yang ingin segera dipenuhi, dan menempatkan nisa’ (perempuan) sebagai dorongan nomor satu, baru kemudian harta. Bila mengikuti logika Imam Isfahani, maka dalam kacamata perempuan, laki-laki juga bisa menjadi sumber syahwat.

Pertanyaannya kemudian, apakah suara laki-laki dapat membangkitkan syahwat perempuan, sebagaimana suara perempuan dapat memancing syahwat laki-laki ?

Bagi Marcia Pelchat, di dalam penelitiannya ia menyimpulkan bahwa pendengaran perempuan lebih peka ketimbang laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa perempuan segala usia memiliki pendengaran pada frekuensi di atas 2.000 Hz. Karena itu tidak heran bila perempuan meletakan hatinya di telinga.

Ada hipotesa menarik yang entah siapa pemiliknya untuk penggambaran dini dari situasi permasalahan ini: “Kelemahan pria terletak pada mata dan wanita pada telinga…”

Hipotesa tersebut menjadi jawaban mengapa perempuan lebih suka lampu redup dan laki-laki nyala saat sedang bercinta. Ungkapan tersebut juga menjelaskan tentang alasan mengapa perempuan harus rajin memakai make up, dan laki-laki harus pandai bergombal. Oleh sebab itu, laki-laki menyukai sesuatu dengan penglihatannya, sementara perempuan menyukai sesuatu dengan pendengarannya.

Menurut Dr. Molly Babel dalam penelitiannya menyimpulkan pria dengan suara yang mendalam seperti Johnny Depp terlihat lebih menarik, bahkan paling menarik di antara tipe pria lainnya. Dari sinilah terungkap fakta perempuan tak terlalu peduli dengan tingkat kegantengan. Sebab bila seorang pria ganteng tapi cerewet, di mata perempuan seolah kurang ‘jantan’. Tapi laki-laki dengan suara mendalam, sedikit-banyak mampu membangkitkan syahwat perempuan.

Lain daripada itu, kita tahu seni menaklukan perempuan oleh para lelaki dikenal dengan sebutan gombal. Gombal merupakan kegiatan oral yang dilakukan pria dengan bumbu kebohongan dan bertujuan menaklukan hati perempuan. Sekarang pertanyaannya, berapa juta perempuan yang masuk perangkap pria-pria nir-ganteng tapi pandai bergombal ? Dengan begini, apakah rayuan gombal laki-laki memancing syahwat ? Jawabannya: tentu saja. Perempuan suka sekali digombalin pria. Dengan demikian, gombalan pria sebetulnya syahwat bagi perempuan yang bukan mahramnya.

Oke marilah kita ambil contoh paling manusiawi untuk menguji kekuatan hipotesa di atas. Kita tahu seorang selebrita Muzammil Hasbalah saat ini menjadi idola kaula Muslimah, apakah ia dikenal masyakarat luas karena kegantengannya ? bukan! Dalam kacamata kegantengan, Muzammil sama sekali tidak ada setempe-tempenya Aliando atau AL. Suaranyalah yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang menjadi pemantik Muslimah-muslimah alay menyukai sosoknya. Apakah dengan fakta ini suara Muzammil pembangkit syahwat muslimah ?

Begini. Etika membaca Quran bagi seorang perempuan menurut Syaikh Abdullah Al Faqih adalah tidak ada tamtith (perubahan tinggi-rendah suara) dan tidak ada walinah (lekuk-lekuk suara). Alasannya agar tidak membangkitkan syahwat bagi yang mendengarnya. Bila demikian adanya, maka suara Muzammil yang meliuk-liuk dalam membaca Qur’an telah membangkitkan syahwat muslimah. Bagaimana ini ?

Dari penjelasan di atas marilah kita tarik kesimpulan ini dengan menggunakan logika Qiyas, salah satu sumber hukum Islam setelah al-Quran dan as-Sunah. Qiyas biasanya dipahami sebagai analogi. Fungsinya adalah untuk menetapkan hukum yang tidak dibicarakan dalam Quran dan Sunah dengan mencari kesamaan ‘illat (ratio legis).

Contoh: dalam al-Quran Allah mengharamkan khamr. Keharaman khamr berlaku juga untuk wine. Mengapa wine haram padahal tidak disebutkan dalam al-Quran keharamannya ? sebab khamr dan wine memiliki kemiripan, yaitu sama-sama memabukan. Jadi illat dalam contoh kasus ini adalah memabukan.

Bagaimana dengan kasus di atas ? dalam pandangan jumhur ulama yang didasarkan pada dalil-dalil nash menyimpulkan bahwa suara perempuan bukan bagian dari aurat sepanjang tidak membangkitkan syahwat. Jadi, bila syahwat seorang lelaki bangkit karena suara perempuan, maka suara perempuan tersebut termasuk aurat.

Bila kita menggunakan logika qiyas maka yang menjadi illat dari permasalahan tersebut adalah ‘bangkitnya syahwat’. Artinya menurut prosedur qiyas, bila suara laki-laki tidak membangkitkan syahwat perempuan, maka bukan bagian dari aurat. Namun bila seorang muslimah tiba-tiba kepincut ingin dilamar oleh seorang akhi-akhi bersuara emas, misalnya, maka berhati-hatilah, itu adalah suara yang beraurat.

Terus kita harus bagaimana bila suara laki-laki dan perempuan terindikasi aurat ? apakah kita harus diam-diaman satu sama lain demi terjaganya syahwat kita agar tetap aman ? Kita harus ngapain, Ya Allah ?

Begini penjelasannya:

Segala hal yang membangkitkan syahwat adalah aurat.  Jadi, aurat tidaknya suara seorang pria atau wanita diukur dengan kesyahwatan orang yang mendengarkannya. Maka pangkal masalah dari persoalan ini saya kira bukan terletak pada suara pria atau wanita itu sendiri, melainkan pada seberapa pandai seseorang mengontrol syahwatnya.

Menjadi aneh kalau yang disalahkan suaranya. Mosok perempuan yang ngomong, lelaki yang syahwat, terus yang berdosa si perempuan. Syahwat-syahwat siapa yang dosa siapa. Kalau logika ini dipakai, kita dapat dengan mudah transfer dosa kepada seseorang yang kita benci sesuka diri kita.

Jelas keliru. Jadi menurut saya, yang patut disalahkan justru orang yang tidak mampu mengontrol syahwatnya, bukan suaranya.

Agar syahwat tidak mudah bangkit, maka perlu dibiasakan latihan berpikir sehat. Banyak-banyak ibadah dan konsumsi hal-hal yang positif. Latihlah dirimu mengelola nafsu seksual agar tidak mudah memancing syahwatmu bangkit. Mampu mengatur otak dan kemaluan adalah kunci agar tidak melulu berpikir kotor.

Namun demikian, kemunculan syahwat bukanlah sesuatu yang perlu dihindari sebab bagian dari dorongan alamiah manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengekspresikan syahwat tersebut agar tidak berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.

Ilham Ibrahim
Penulis buku Santri Postmodern
Berita sebelumnyaSurat untuk Bang Anies
Berita berikutnyaMenakar Shortfall Pajak
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.