Selasa, Januari 19, 2021

Apakah Semangat Pembangunan Kini Mampu Tekan Angka Kemiskinan?

Distopia Humanisme di Tengah Pandemi Covid-19

Jarum jam tiada henti berkelana. Tim medis, para relawan, penyandang ODP dan juga PDP tak pernah lelah bercengkerama melawan virus corona serentak melawan stigma...

Misconception on The Meaning of Islam

Many people in the world tried to understand about Islam from Holy Quran and its history, they researched about muslim activities in several muslim...

Ketika Golkar Kembali Mendengar Suara Rakyat

Sejak kemarin malam masyarakat dan warganet mendapatkan hadiah ‘kejutan’ tentang pencabutan rekomendasi untuk Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien menjadi Gubernur-Wakil Gubernur yang diusung Partai...

Perlukah Dibuat Film G30S/PKI Versi Baru?

Film Penghianatan G30S/PKI dalam beberapa tahun terakhir memicu pro dan kontra di masyarakat. Ada yang berpendapat alur cerita di film tersebut adalah fakta dan...
Rifky Bagas
Writing is one way to express your self. To be honest to make some opinion. What do you feel is what do you write. Give your freedom but keep concern ethics and polite words.

Mengikuti arah pembangunan Indonesia, berarti melihat kiprah pemimpin negara Indonesia, yaitu Presiden Joko Widodo. Menjadi sebuah cita-cita untuk mulai melakukan gebrakan pembangunan dengan gairah perbaikan menuju kemajuan negara.

Pembangunan yang selama ini saya ketahui, juga dilakukan besar-besaran ketika zaman orde baru dan geliatnya mulai menggempur pembangunan adalah di zaman kepemimpinan sekarang ini.

Membangun infrastruktur berupa prasarana yang strategis yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah yang masih satu Kesatuan Republik Indonesia. Membuat suatu konektivitas perekonomian yang menjangkau hingga daerah-daerah terpencil sebagai tujuan keadilan yang sebenarnya.

Namun setelah membaca buku berjudul etika pembangunan milik Prof. Drs Winarno, MA, PhD, ada hal yang masih perlu dipahami tentang, apakah etika pembangunan itu. Apakah etika pembangunan menjadi landasan suatu rencana pembangunan suatu negara dan apakah implikasinya akan positif jika diterapkan maupun sebaliknya.

Mengutip dari buku yang sama milik Prof. Drs Winarno, MA, PhD, bahwa “pembangunan yang awalnya dimotori oleh negara melalui perencanaan ketat oleh politisi dan teknokrat diganti dengan pembangunan yang dikendalikan oleh kepentingan pasar neoliberal.

Namun, ironisnya studi-studi kritis yang dipublikasikan mengenai globalisasi neoliberal ini memberikan laporan yang suram. Globalisasi menyisakan banyak persoalan, yang bahkan lebih menghawatirkan, dibandingkan dengan era pembangunan yang dikontrol oleh negara menjadi semakin kompleks dan bahkan menjadi semakin memburuk di era pasar neoliberal.

Persoalan itu bahkan tidak hanya terjadi dalam batas territorial negara bangsa, tetapi melintasi batas-batas negara dalam wilayah regional dan global. Kondisi ini pada akhirnya memunculkan isu-isu global atau lintas batas negara yang melibatkan beragam persoalan dan aktor yang kompleks. Sebut saja misalnya salah satu isu penting adalah kemiskinan.”

Menghadapkan kemiskinan sebagai sisi lain yang ingin dituntaskan lewat pembangunan, dalam sejarahnya nilai ketiadaan itu belum dapat dicapai oleh negara manapun. Bahkan, di negara-negara dengan pertumbuhan relatif baik, seperti di Indonesia, kemiskinan masih tetap ada dengan masih dijumpainya pengemis-pengemis di pinggir jalan, emperan toko-toko dan yang membuat miris sebagian besar bisa kita jumpai di ibukota negara Indonesia yaitu Jakarta.

Data menunjukkan, menurut bahan publikasi Badan Pusat Statistik mengenai penghitungan dan analisis kemiskinan makro Indonesia tahun 2017. Berdasarkan data tersebut tingkat kemiskinan selama setahun terakhir dapat dilihat melalui analisis tren tingkat kemiskinan (kondisi Maret 2016 dan Maret 2017).

Salah satu indikator yang digunakan dalam analisis kemiskinan adalah garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.

Pada periode Maret 2016 sampai dengan Maret 2017, garis kemiskinan meningkat dari Rp354.386,- menjadi Rp374.478,- per kapita per bulan atau sebesar 5,67 persen. Keadaan serupa terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan, yaitu masing-masing meningkat sebesar 5,79 persen dan 5,19 persen.

Menurut provinsi, Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi yang mempunyai garis kemiskinan tertinggi yaitu Rp587.530,-. Sementara itu, Sulawesi Selatan mempunyai garis kemiskinan terendah yaitu Rp283.461,- (kondisi Maret 2017). Jika dirinci menurut daerah, garis kemiskinan perkotaan sebesar Rp571.229,- dan di pedesaan sebesar Rp602.942,-

Sementara, garis kemiskinan terendah di perkotaan tercatat di Sulawesi Barat (Rp295.178,-) dan di pedesaan tercatat di Provinsi Sulawesi Selatan (Rp274.434,-) (sumber www.bps.go.id). Data yang sama juga menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen), turun dibanding Maret 2016 yang sebesar 28,01 juta orang (10,86 persen).

Selama periode Maret 2016 sampai dengan Maret 2017, penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah 0,33 juta orang, sementara di daerah pedesaan berkurang 0,57 juta orang (sumber www.bps.go.id).

Secara data mungkin kita masih harus membandingkan kondisi terbaru untuk periode hingga awal tahun 2018 ini. Namun melihat dari tujuan pembangunan untuk mengarah ke keadilan sosial, fokus pembangunan ini sudah mulai untuk selalu diperhatikan. Pembangunan di bidang ekonomi sosial yang secara nyata dapat kita lihat dalam pengucuran dana bantuan pembiayaan UMi (Ultra Mikro) yang merupakan program peminjaman bagi usaha mikro yang berada di lapisan terbawah dan belum terfasilitasi oleh perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat dengan pembiayaan maksimal Rp 10 juta/debitur.

Kunjungan Sri Mulyani Indrawati di Pasar Telukan, Sukaharjo, Jawa Tengah, merupakan kegiatan untuk melihat keberhasilan program UMi ini. Di Pasar Telukan, penyalurannya ada yang melalui Pegadaian dan Bahana Artha Ventura, kemudian disalurkan kembali melalui koperasi BUS (Bina Umat Sejahtera) (sumber facebook Sri Mulyani Indrawati).

Salah satu pembangunan ekonomi sosial ini menempatkan manusia sebagai subjeknya bukan sebagai objek penerima bantuan semata. Dengan memberikan kesempatan dan kemudahan bagi masyarakat di lapisan terbawah pun untuk berjuang, mengandalkan kemampuan sendiri untuk lepas dari jeratan kemiskinan dengan modal keahlian tertentu. Pemerintah hadir melalui instrumen APBNnya untuk menfasilitasi masyarakat untuk benar-benar berdiri, berdikari secara finansial.

Ke depan, kita masih menunggu sistem perbaikan yang menyeluruh, seiring dengan lajunya pembangunan. Dengan tata kelola pemerintahan yang baik seperti ini, masih ada harapan. Harapan akan kesejahteraan yang membuat kemiskinan di Indonesia menjadi benar-benar sangat kecil bahkan menghilang.

Rifky Bagas
Writing is one way to express your self. To be honest to make some opinion. What do you feel is what do you write. Give your freedom but keep concern ethics and polite words.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.