Minggu, Maret 7, 2021

Apakah Fans MU Punah?

Lockdown, Nabi Yusuf dan Ketahanan Pangan

Merebaknya virus corona atau covid-19 dalam beberapa waktu terakhir ini membuat kita sering mendengar istilah lockdown dan karantina wilayah. Lockdown secara harfiah berarti dikunci, atau...

Tangisan Perempuan, Tanggung Jawab Bersama

Negara yang selama ini masuk nominasi sebagai negara yang aman bagi perempuan harus menerima kenyataan yang pahit. Pada 21 Juli 2018 penduduk Belanda dan Indonesia...

Sabotase Para Tikus

Kuhidupkan saklar lampu di ruang belakang, tempat dimana biasa aku memarkirkan motorku, motor yang dibeli nyaris tanpa bunga (baca: lunas), cerita motor ini akan...

Democracy is only for Educated People

Socrates, the founding father of Greek Philosophy, He is characterized as hugely pessimistic about anything related to democracy once falling into conversation with a...
Bayu Ilham
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Belakangan ini jagat maya seringkali dipenuhi dengan tagar-tagar yang bernuansa sepak bola. Nama Ernesto Valverde dan Ole Gunnar Solkjaer menjadi langganan pengisi trending di beberapa media sosial terutama platform twitter.

Pada akhirnya Barcelona pun mendepak Valverde dari kursi kepelatihan. Namun aroma sepak bola tidak hilang begitu saja dari jagat maya, nama Ole Solkjaer masih beberapa kali muncul dengan tagar #Oleout yang menuntut pemecatan mantan pemain Manchester United tersebut sebagai manajer klub. Hal ini terjadi setelah dalam beberapa pertandingan terakhir Manchester United mengalami kekalahan.

Sejak dipermanenkan sebagai manajer klub, Manchester United telah mengalami 12 kekalahan di bawah asuhan Ole Gunnar. Jumlah ini lebih banyak dari kemenangan yang telah mereka raih dibawah asuhan manajer asal Norwegia tersebut yakni 11 kemenangan.

Terakhir mereka harus takluk dua gol tanpa balas di Anfield dan dipaksa menyerah dua gol tanpa balas di Old Trafford kala menghadapi Burnley. Kekalahan atas Burnley tersebut merupakan kekalahan pertama di Old Trafford sejak 1962.

Di bawah kepelatihan Ole, Manchester United seolah menjadi tim yang tidak memiliki filosofi permainan dan mental juara. Ole hanya mengandalkan Marcus Rashford di lini depan, hal ini terbukti kala mereka menghadapi Liverpool tanpa Marcus Rashford.

Pemain depan Manchester United sering menyia- nyiakan peluang ketika sudah berada di depan gawang.Bahkan Jesse Lingard yang merupakan seorang striker masih belum mencetak gol dan assist dalam sembilan belas pertandingan musim ini. Jika melihat statistik tersebut tak heran jika banyak rumor yang menyebutkan kepindahannya dari Old Trafford.

Sejauh ini, Manchester United telah menghabiskan 600 juta poundsterling untuk membeli pemainnya. Selain itu, beberapa pemain dengan gaji tertinggi di Liga Inggris juga merupakan pemain Manchester United. David De Gea merupakan pemain dengan gaji tertinggi di Liga Premier dengan gaji 6,5 milyar, sedangkan Paul Pogba menempati posisi ke- 4 di bawah Raheem Sterling dan Kevin De Bruyne dengan gaji 5,3 milyar.

Dengan jumlah uang yang telah dikeluarkan Manchester United dalam jumlah besar tersebut ternyata belum mampu mengembalikan kejayaan tim berjuluk setan merah tersebut.

Kondisi ini mengundang beberapa legenda Manchester United untuk berkomentar. Rio Ferdinand yang merupakan salah satu legenda klub pun tak sungkan mengkritik performa mantan klubnya itu. “Menit ke-84 saya melihat penonton pergi meninggalkan stadion. Itu tak terdengar sebelumnya di stadion ini.

Melihat penonton pergi dengan wajah jijik, ini memalukan. Penurunan yang terjadi dalam tujuh tahun ini luar biasa”, ungkap Rio Ferdinand setelah pertandingan melawan Burnley. “Saya pernah bermain dengan Ole, dia mantan rekan setim saya. Tapi hasil tim ini tidak cukup bagus.

Ada sejumlah pemain kunci yang cedera, tapi dengan dana besar yang dibelanjakan ke tim ini Anda mengharapkan lebih banyak dari bangku cadangan”. “Ada anak-anak di sekolah- sekolah di seluruh penjuru dunia, mereka tak akan lagi memakai seragam Manchester United. Mereka tak akan mau datang ke sinii dan mendukung United dari apa yang mereka lihat di lapangan. Itu tak akan terjadi. Fans pergi setelah 84 menit, itu memalukan.”

Reaksi keras yang dilontarkan Rio Ferdinand tersebut bukan tak beralasan, kala dikalahkan oleh Burnley, Manchester United menguasai 73% penguasaan bola dan melepaskan 24 tendangan ke arah gawang dengan tujuh diantaranya tepat sasaran namun tidak berbuah satu gol pun.

Sedangkan tim tamu hanya mendapat 27% penguasaan bola dan melepaskan lima tendangan ke arah gawang dengan dua tendangan tepat sasaran dan keduanya berbuah gol. Dengan hasil ini, Burnley pun menjauh dari zona degradasi ke posisi 13 dengan raihan 30 poin di bawah Everton. Sedangkan Manchester United sendiri masih kesulitan untuk menembus empat besar klasemen sementara.

Jika tidak memperbaiki performanya, bukan tidak mungkin Manchester United akan kembali gagal lolos ke kualifikasi Liga Champions musim depan. Sebelumnya, legenda Inggris Alan Shearer menyebut Manchester United tak akan lolos empat besar Liga Inggris. Menurutnya, Manchester United memiliki perbedaan kualitas yang jauh di bawah Liverpool. “Manchester United jauh dari kualitas Liverpool.

Saya pikir United tidak akan bisa finis empat besar musim ini,” kata mantan penyerang West Ham United tersebut. “Mereka butuh penyerang, terlepas dari Rashford cedera atau tidak. Mereka benar- benar butuh penyerang top dan di mana kamu menemukannya di bursa transfer Januari? Erling Haaland jadi satu- satunya dan mereka gagal mendapatkannya,” Lanjut Shearer.

Sebelumnya Manchester United dikaitkan dengan kedatangan wonderkid dari Redbull Salzburg, Erling Braut Haaland. Performa apik striker asal Norwegia tersebut membuat Manchester United tertarik untuk mendatangkannya ke Old Trafford. Namun buruknya hubungan United dan Mino Raiola, agen Erling Haaland membuat negosiasi tersebut batal. Erling Haaland akhirnya memutuskan untuk berlabuh ke Borussia Dortmund dengan banderol 20 juta euro atau setara 311 miliar rupiah.

Bayu Ilham
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.