OUR NETWORK

Apa Sih Hebatnya Menulis?

“Nak, cobalah cari pekerjaan yang lebih instan menghasilkan upah.”

Hayo, siapa yang tersinggung dengan kata-kata di atas?

Saya sebagai penulis, tentunya cukup kecewa dengan konten ucapan orang tua yang seperti itu. Hakikat orang tua harusnya sebagai pendukung nomor satu anak, tidak merendahkan bakat si kecil. Anak pasti akan merasa jengkel, lalu semangat untuk menulis berangsur-angsur akan lenyap. Berakhir buruk sekali.

Memang, selama ini saya menulis hanya di laman akun sosial media saja. Belum menghasilkan terlalu banyak upah, namun untuk beli satu baju sudah lumayan cukup. Tentu saja, saya belum mencapai tingkat Pramoedya Ananta Toer atau Sapardi Djoko Damono dalam perihal menulis. Hidup memang tidak ada yang instan. Benar, bukan?

Untuk pendahuluan, saya ingin membahas mengenai apa yang penulis rasakan saat menulis. Kalau saya buat kuesioner atau daftar pertanyaan terhadap penulis dari berbagai kalangan, artikel ini tampaknya tidak akan cukup menyebutkan jawaban-jawaban yang diberikan para penulis di luar sana. Pastinya sangat beragam.

Saat menyalurkan isi benak pikiran dengan merangkai kata demi kata, saya pribadi lebih mengutamakan kebebasan. Tak ada yang dapat mengekang saya saat menyusun bahasa karena hak milik tulisan sepenuhnya otonomi saya. Hanya dengan seuntai kalimat, saya sudah dapat mencerminkan baik curahan saya.

Kalau menilik manfaatnya, opinisaya tentang itu banyak sekali. Mengembangkan sayap ide, belajar Bahasa Indonesia, bahkan menambah teman dan pengalaman. Menarik, bukan? Tetapi, orangtua pasti belum terenyuh hanya karena menulis adalah kegiatan menarik. Lantas,letak upah instan yang didambakan para orang tua dimana?

Dalam kutipannya, Pram pernah berkata “Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Jujur, saya sangat mengapresiasi serangkaian kata yang keluar dari ucapan mulut penulis sastra terbesar Indonesia. Sangat memotivasi bagi kalian-kalian yang ingin mencicip dunia kepenulisan.

Sama seperti membangun usaha bisnis seorang wirausahawan, menulis juga membutuhkan modal. Harus ada akal,pengalaman, teman, pendukung, inspirasi dan ide, penunjang tempat, apalagi coba? Mudah sekali menemukan modal-modal tersebut apabila anda berani terjun menulis dengan resiko dikritik, jika kalian beruntung, nama kalian akan dilambungkan.

Beralih dari kutipan itu, saya akan membahas beberapa persoalan yang kerap menjadi pergumulan para penulis dalam jangka waktu lama. Misalnya, kurangnya budaya literasi anak masa muda kini di Indonesia. Dampaknya tentu sangat berat bagi para penulis, yakni berkurangnya pelanggan setia mereka dalam setiap karyanya.

Pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi ke-64 dari 65 negara dengan budaya literasi terendah. Dengan statistika angka melek huruf yang hanya mencapai 65,6% pada orang dewasa. Itu sama sekali bukan prestasi yang patut dibanggakan, melainkan masalah sosial yang harus segera dibenahi.

Sekolah swasta maupun negeri diIndonesia memang sudah menerapkan literasi lima belas sampai dua puluh menit disetiap paginya atau sepulang sekolah. Sudah cukup bagus, namun asumsi saya itu tidak cukup. Mungkin kebanyakan dari mereka hanya akan membolak-balikkan halaman tanpa sedikitpun membaca kalimat yang tertata di dalam buku. Demikianlah, mereka terlihat “membaca”

Media digital yang banyak disediakan saat ini lebih memadai bagi generasi millennial. Generasi muda cenderung lebih menyukai sesuatu yang praktis dan instan. Pilihan salah satunya adalah media sosial atau digital tentunya. Lihat saja contohnya, wattpad dan blog.

Dengan adanya media digital seperti itu, saya yakin banyak anak remaja yang suka. Duduk atau tiduran di sofa, dengan cemilan di samping mereka yang siap disantap, dan sambil menggeluti layar handphone mereka, literasi sudah ditingkatkan dengan cara yang lebih efisien. Cukup dengan modal kuota, posisi duduk yang nyaman, dan penerangan yang cukup. Mudah, bukan? Inilah manfaat-manfaat globalisasi yang perlu kita ambil demi kemajuan bersama.

Namun, kembali lagi ke genre yang diminati oleh remaja hanya berkutat di sekitar teenfiction, romance, schoollife, yang intinya hal-hal berbau kehidupan cinta remaja. Perasaan mengganjal saya ketika mendapati hanya itu-itu saja yang dikonsumsi remaja kini belum sirna sepenuhnya.

Tapi, keadaan masih lebih baik dibanding tidak ada yang ingin membaca sepatah katapun. Perlahan-lahan, cobalah belajar membaca buku yang kontennya lebih berat dan wajib mendidik.Ingat pepatah biasa karena terbiasa.

Kembali lagi ke honor penulis, ini yang mau saya rujuki. Poin ini akan menjadi poin terutama yang perlu saya tekankan agar anda dan para orang tua sadar. Sudah banyak konten media yang dapat diakses dengan mudah oleh penulis maupun pembaca yang sudah terkenal luas. Peluang untuk mendapatkan honor-pun juga semakin besar.

Kini, pekerjaan penulis juga sudah tidak dipandang sebelah mata lagi, baik fiksi maupun nonfiksi. Keberadaan mereka lebih diakui dibanding dulu. Sosial media yang ada seperti line,facebook, twitter, dan instagram juga dapat dimanfaatkan sebagai media mempromosikan karya.

Kesimpulannya, ditujukan untuk para orang tua, jangan lagi meremehkan anak yang hobi menulis. Tindakan mengesampingkan bakat anak yang piawai dalam merangkai kata dapat mematahkan semangat dan menghambat kreativitas anak.

sumber link : https://www.kompasiana.com/ikawidyawati/5938b551ad9273a97456f73f/budaya-literasi-indonesia-masih-diurutan-buncit-apa-yang-harus-kita-lakukan

Pelajar SMA yang menaruh minat pada isu politik,sosial, filsafat, sejarah, dan sastra. Aktif menulis di konten kompasiana. Bisa dihubungi melalui email : samuellachristy3005@gmail.com atau instagram @samuellachristy.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.