Senin, April 12, 2021

Apa, Sih, Capaian Revolusi Mental?

Perempuan: Eksploitasi dan Komoditas Media

Akhir-akhir ini Indonesia heboh dengan kasus prostitusi online yang menimpa artis perempuan yang berinisial VA. Dia disebut-sebut menjual diri dengan harga yang sangat fantastis,...

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

Indonesia dalam Lukisan

Oleh: Kyla Zakira Sophiena Prasetyo, SMA Unggulan M.H. Thamrin Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Di tahun 2020, tercatat kurang lebih 34 provinsi tersebar...

Wajib Pajak di Era Digital

Revolusi industri 4.0 nampaknya sudah tak terbendung lagi keberadaannya di depan mata. Perkembangan teknologi dan informasi memang tidak dapat dipungkiri akan sangat lekat dalam...
Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...

Banyak orang bertanya, apa sebenarnya capaian dan wujud nyata dari revolusi mental? Apa fungsinya untuk perbaikan bangsa, ketika akhir-akhir ini, kita disajikan “perang centang-perenang” tak berkesudahan terutama di media sosial? Apa efeknya ketika korupsi masih merajalela dan mengindikasikan “permainan” oleh mereka yang punya pengaruh dan kekuasaan? Lalu, gerakan semacan apa revolusi mental itu sebenarnya? Apa pula kerja Puan Maharani sebagai “Sang komandan”?

Karena ini pertanyaan, maka biarkan tulisan ini menjelaskan: secara pelan-pelan. Berharap dapat dengan mudah ditelan.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 6 Desember 2016, ada tugas khusus yang dibebankan kepada Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, sebagaimana tertuang dalam butir kelima Inpres tersebut. Seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet pada Rabu (11/1/2016), tugas khusus Menko PMK itu adalah melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kemudian, penyusunan dan penetapan Peta Jalan dan Pedoman Umum Gerakan Nasional Revolusi Mental (kompas.com).

Tentu akan sangat panjang jika harus membaca dan menjelaskan tentang Inpres dan peta jalan (road map) dan pedoman umum GNRM, tapi kemudian, berdasarkan koordinasi tim yang dibentuk oleh Puan Maharani yang beranggotakan dari semua lapisan masyarakat dari berbagai profesi, tersusunlah 5 gerakan yang dapat diimplementasikan secara teknis dengan penanggung jawab masing-masing.

Secara lebih teknis, seluruh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan segenap masyarakat diajak untuk aktif mengimplementasikan 5 (lima) gerakan Revolusi Mental melalui wujud perubahan nyata dalam konteks Indonesia Melayani (dikoordinir oleh Kemenpan RB), Indonesia Bersih (dikoordinir oleh Menko Kemaritiman), Indonesia Tertib (dikoordinir oleh Menko Polhukam), Indonesia Mandiri (dikoordinir oleh Menko Bidang Perekonomian), dan Indonesia Bersatu (dikoordinir oleh Mendagri). Puan Maharani menyadari, bahwa sebagai sebuah gerakan, revolusi mental harus menjadi gaya hidup yang terinternalisasi dalam diri.

Bagi Puan Maharani, revolusi mental adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan yang digadang-gadang Presiden untuk merubah pola, kebiasan, mindset, dan perilaku setiap orang menjadi lebih baik dan terarah. Sederhananya, revolusi mental bisa dilakukan dengan disiplin dan tepat waktu, tidak malas, jujur, membawa perubahan, tidak mudah mengeluh, tidak suka membuat rusuh, menjadi pengguna media dan pembaca yang bijak, dan hal-hal sederhana lainnya. Sehingga, bangsa Indonesia diharapkan mempunyai mental yang lebih baik dalam mengawal proses pembangunan seutuhnya.

Bagaimana perwujudannya? Maka Puan Maharani memilih untuk memulai dari diri dan Kementerian yang dipimpinnya. Perilaku yang menunjukkan bagian dari revolusi mental terepresentasikan dari perilaku dan kebijakan Puan Maharani yang sederhana, dalam pola hidup sehari-hari. Sebut saja seperti komitmen Puan Maharani untuk selalu mengutamakan gotong royong dalam berbagai hal. Puan Maharani, barangkali, adalah pejabat dan politisi yang paling sering menggunakan (sekaligus mengajak untuk menjadikan) gotong royong sebagai “ruh” dalam setiap gerakan dan anjurannya.

Cara berpakaian, misalnya, Puan Maharani memilih untuk tampil sederhana dengan mempergunakan batik sebagai simbol kebudayaan Indonesia. Dalam konteks politik, Puan Maharani menjadi politisi yang memilih politik santun dan beretika sehingga sikap dan statementnya lebih tenang, tidak reaktif, dan menyejukkan. Lebih mengutamakan kebersamaan ketimbang kegaduhan. Serta komitmen yang tinggi atas sikap toleransi yang harus menjadi prinsip dan nilai dalam merajut kehidupan berbangsa dan bernegara yang indah dan damai. Serta pembelaannya terhadap kemanusiaan dan HAM (kasus TKI Ilegal, WNI tersangkut ISIS, kasus Deborah dan Reny Wahyuni, dll).

Dalam hal kinerja, banyak pengakuan atas etos kerja Puan Maharani yang tinggi. Setidaknya, merujuk pada laporan kinerja selama 3 tahun terakhir serta beberapa hasil survei, kinerja Puan Maharani dalam bidang pembangunan manusia dan kebudayaan mendapatkan apresiasi yang tinggi. Tentu saja, perilaku revolusi mental itu ditunjukkan juga dengan integritas Puan Maharani. Terbukti, ia sama sekali bisa menjaga diri dari godaan kekuasaan yang terkutuk untuk melakukan prilaku koruptif, kolutif, dan nepotisme.

Dalam konteks kebijakan terkait revolusi mental, Puan Maharani telah melakukan peningkatan 75 pelayanan publik seperti kesehatan, lingkungan, administrasi, pendidikan, sosial, perempuan dan anak, industri, dan lain sebagainya. Pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) di 48 perguruan tinggi dengan tema revolusi mental. Termasuk juga pelaksanaan Jambore Nasional Revolusi Mental. Ini menunjukkan adanya keterlibatan semua pihak. Sebab revolusi mental adalah sebuah gerakan, maka perlu melakukannya melalui kebersamaan.

Lalu apa dampaknya? Tentu saja ini merupakan proses untuk perubahan yang lebih baik. Revolusi mental adalah jalan dan pilihan. Kalau ternyata Indonesia masih banyak korupsi, masih banyak ditemukan perselisihan, masih sering ugal-ugalan, masih suka main pukul dan penghakiman jalanan, maka jangan katakan ini bentuk kegagalan revolusi mental. Tidak bisa disimplifikasi sesederhana itu, sebab revolusi mental tidak bisa merubah segalanya sedemikian cepat. Ini bukan kerja membuat patung seribu candi. Semuanya butuh proses. “Kepahitan” yang dimiliki oleh bangsa ini sudah sedimikian mengakar dan membudaya, maka biarkan revolusi mental berjalan sesuai garis edarnya.

 Semuanya butuh proses, menuju kebaikan. Meski jalan terjal dan panjang. Jadi, sudah jelas, kan, kerja, agenda, dan beberapa capaiannya?

Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.