Jumat, Februari 26, 2021

Apa, Sih, Capaian Revolusi Mental?

Berharap Pemerintah Menunda Tahun Ajaran Baru

Begitu bunyi petisi online yang ramai sekali di Facebook beberapa hari ini. Postingan bantu menandatangani petisi ini beberapa kali muncul dari beberapa kawan ibu-ibu...

Negara Islam untuk Indonesia Is A Bad Idea

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan info bahwa akan ada sebuah diskusi yang mengangkat Islam, Demokrasi, dan Identitas Indonesia sebagai topik pembicaraannya. Jelas saja...

Liverpool Tak Terkalahkan, Strategi Jitu Jurgen Klopp?

“This year is gonna be our year”, rasa rasanya hampir semua fans Liverpool sudah mulai percaya dengan kata kata tersebut. Tercatat pada minggu ke lima belas...

Menilik Kondisi Indonesia Pasca HKN Ke-56

Tanggal 12 November 2020 yang lalu, Indonesia memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 di tengah pandemi. Awal sejarah panjang dalam proses penetapan Hari Kesehatan...
Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...

Banyak orang bertanya, apa sebenarnya capaian dan wujud nyata dari revolusi mental? Apa fungsinya untuk perbaikan bangsa, ketika akhir-akhir ini, kita disajikan “perang centang-perenang” tak berkesudahan terutama di media sosial? Apa efeknya ketika korupsi masih merajalela dan mengindikasikan “permainan” oleh mereka yang punya pengaruh dan kekuasaan? Lalu, gerakan semacan apa revolusi mental itu sebenarnya? Apa pula kerja Puan Maharani sebagai “Sang komandan”?

Karena ini pertanyaan, maka biarkan tulisan ini menjelaskan: secara pelan-pelan. Berharap dapat dengan mudah ditelan.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 6 Desember 2016, ada tugas khusus yang dibebankan kepada Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, sebagaimana tertuang dalam butir kelima Inpres tersebut. Seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet pada Rabu (11/1/2016), tugas khusus Menko PMK itu adalah melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kemudian, penyusunan dan penetapan Peta Jalan dan Pedoman Umum Gerakan Nasional Revolusi Mental (kompas.com).

Tentu akan sangat panjang jika harus membaca dan menjelaskan tentang Inpres dan peta jalan (road map) dan pedoman umum GNRM, tapi kemudian, berdasarkan koordinasi tim yang dibentuk oleh Puan Maharani yang beranggotakan dari semua lapisan masyarakat dari berbagai profesi, tersusunlah 5 gerakan yang dapat diimplementasikan secara teknis dengan penanggung jawab masing-masing.

Secara lebih teknis, seluruh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan segenap masyarakat diajak untuk aktif mengimplementasikan 5 (lima) gerakan Revolusi Mental melalui wujud perubahan nyata dalam konteks Indonesia Melayani (dikoordinir oleh Kemenpan RB), Indonesia Bersih (dikoordinir oleh Menko Kemaritiman), Indonesia Tertib (dikoordinir oleh Menko Polhukam), Indonesia Mandiri (dikoordinir oleh Menko Bidang Perekonomian), dan Indonesia Bersatu (dikoordinir oleh Mendagri). Puan Maharani menyadari, bahwa sebagai sebuah gerakan, revolusi mental harus menjadi gaya hidup yang terinternalisasi dalam diri.

Bagi Puan Maharani, revolusi mental adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan yang digadang-gadang Presiden untuk merubah pola, kebiasan, mindset, dan perilaku setiap orang menjadi lebih baik dan terarah. Sederhananya, revolusi mental bisa dilakukan dengan disiplin dan tepat waktu, tidak malas, jujur, membawa perubahan, tidak mudah mengeluh, tidak suka membuat rusuh, menjadi pengguna media dan pembaca yang bijak, dan hal-hal sederhana lainnya. Sehingga, bangsa Indonesia diharapkan mempunyai mental yang lebih baik dalam mengawal proses pembangunan seutuhnya.

Bagaimana perwujudannya? Maka Puan Maharani memilih untuk memulai dari diri dan Kementerian yang dipimpinnya. Perilaku yang menunjukkan bagian dari revolusi mental terepresentasikan dari perilaku dan kebijakan Puan Maharani yang sederhana, dalam pola hidup sehari-hari. Sebut saja seperti komitmen Puan Maharani untuk selalu mengutamakan gotong royong dalam berbagai hal. Puan Maharani, barangkali, adalah pejabat dan politisi yang paling sering menggunakan (sekaligus mengajak untuk menjadikan) gotong royong sebagai “ruh” dalam setiap gerakan dan anjurannya.

Cara berpakaian, misalnya, Puan Maharani memilih untuk tampil sederhana dengan mempergunakan batik sebagai simbol kebudayaan Indonesia. Dalam konteks politik, Puan Maharani menjadi politisi yang memilih politik santun dan beretika sehingga sikap dan statementnya lebih tenang, tidak reaktif, dan menyejukkan. Lebih mengutamakan kebersamaan ketimbang kegaduhan. Serta komitmen yang tinggi atas sikap toleransi yang harus menjadi prinsip dan nilai dalam merajut kehidupan berbangsa dan bernegara yang indah dan damai. Serta pembelaannya terhadap kemanusiaan dan HAM (kasus TKI Ilegal, WNI tersangkut ISIS, kasus Deborah dan Reny Wahyuni, dll).

Dalam hal kinerja, banyak pengakuan atas etos kerja Puan Maharani yang tinggi. Setidaknya, merujuk pada laporan kinerja selama 3 tahun terakhir serta beberapa hasil survei, kinerja Puan Maharani dalam bidang pembangunan manusia dan kebudayaan mendapatkan apresiasi yang tinggi. Tentu saja, perilaku revolusi mental itu ditunjukkan juga dengan integritas Puan Maharani. Terbukti, ia sama sekali bisa menjaga diri dari godaan kekuasaan yang terkutuk untuk melakukan prilaku koruptif, kolutif, dan nepotisme.

Dalam konteks kebijakan terkait revolusi mental, Puan Maharani telah melakukan peningkatan 75 pelayanan publik seperti kesehatan, lingkungan, administrasi, pendidikan, sosial, perempuan dan anak, industri, dan lain sebagainya. Pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) di 48 perguruan tinggi dengan tema revolusi mental. Termasuk juga pelaksanaan Jambore Nasional Revolusi Mental. Ini menunjukkan adanya keterlibatan semua pihak. Sebab revolusi mental adalah sebuah gerakan, maka perlu melakukannya melalui kebersamaan.

Lalu apa dampaknya? Tentu saja ini merupakan proses untuk perubahan yang lebih baik. Revolusi mental adalah jalan dan pilihan. Kalau ternyata Indonesia masih banyak korupsi, masih banyak ditemukan perselisihan, masih sering ugal-ugalan, masih suka main pukul dan penghakiman jalanan, maka jangan katakan ini bentuk kegagalan revolusi mental. Tidak bisa disimplifikasi sesederhana itu, sebab revolusi mental tidak bisa merubah segalanya sedemikian cepat. Ini bukan kerja membuat patung seribu candi. Semuanya butuh proses. “Kepahitan” yang dimiliki oleh bangsa ini sudah sedimikian mengakar dan membudaya, maka biarkan revolusi mental berjalan sesuai garis edarnya.

 Semuanya butuh proses, menuju kebaikan. Meski jalan terjal dan panjang. Jadi, sudah jelas, kan, kerja, agenda, dan beberapa capaiannya?

Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.