Senin, November 30, 2020

Apa Kabar Deradikalisasi Agama? Sudahkah Dirimu Selesai?

Kartu Nikah dan Tantangan Modernisasi Pernikahan

Dalam ruang negara-modern, birokratisasi Islam selalu menjadi persoalan yang menarik (Müller 2017; Sezgin and Künkler 2014). Apalagi jika kita melihat yang terjadi pada ranah...

Karya Sastra dan Pengaruhnya dalam Hidup Manusia

Banyak orang lebih mengenal Wiji Tukul sebagai sastrawan revolusioner dengan karya-karyanya yang mengangkat isu-isu sosial, tetapi, hanya sedikit yang mengenal dia dengan membaca, mengilhami,...

Omnibus Law dan Ancaman Korupsi Legislasi

Dalam pidato pelantikannya tanggal 20 oktober 2019 di MPR, presiden Jokowi menyampaikan 5 (lima) program utama pemerintahannya, mulai dari pembangunan sumber daya manusia (SDM),...

Jalan Buntu Itu Bernama Kehidupan

Kehidupan tidak selalu menjadi tempat yang dipenuhi cahaya, ditumbuhi mawar berwarna, serta diiringi alunan musik yang merdu. Kehidupan juga tak jarang perlu dimaknai sebagai...
Muhammad Ulil Abshor
Mahasiswa IIQ An-Nur Yogyakarta. Tinggal di Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada bidang Ushuluddin dan Sosiologi.

Fenomena radikalisme di Indonesia sudah ada sejak negeri ini masih kecil. Namun salah satu kondisi paling akut pernah terjadi pada tahun 2009, saat negeri ini masih remaja,  di mana sekolah-sekolah mulai terjangkiti pelajaran yang berbau ajaran radikal dan ekstremis. Tak main-main, yang disasar bahkan sampai pada organisasi-organisasi intra sekolah (OSIS). Perguruan tinggi pun tak luput dari penyusupan paham radikal kala itu.

Beberapa tokoh muncul mengemukakan opini agar segera dilakukan tindakan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya Komaruddin Hidayat, yang menulis di salah satu koran harian dan menegaskan perlunya keterlibatan pemerintah, guru dan orang tua dalam merespon masalah ini dengan serius (Sarlito Wirawan Sarmono : 2012).

Kondisi ini diperparah dengan kepergian Gus Dur yang selama hayat beliau getol mengonter narasi dan tindakan intoleransi akibat paham radikal. Hanya saja, untungnya, Gus Dur mewariskan Wahid Foundation (sebelumnya disebut Wahid Institute) berikut anak-anak biologis maupun ideologisnya yang juga punya semangat tinggi mengembangkan toleransi dan pluralisme di negeri ini.

Pun di sudut lain ada banyak tokoh yang bersemangat pula menahan laju radikalisme dengan berkontranarasi dan berpolemik terhadap wacana dan gerakan radikalisme yang semakin hari kian mewabah di ruang publik. Baik Gusdurian ataupun yang lain sama-sama berpandangan bahwa radikalisme mengancam keutuhan dan stabilitas sosial jika dibiarkan bebas meracuni pola pikir masyarakat.

Tak ada yang salah dengan belajar agama. Namun masalah serius muncul tatkala subbab ajaran agama menjadi sumber  petaka sosial yang menjelma penghakiman sepihak dan diskriminasi minoritas. Seribu ideologi hanyalah bayangan belaka, siapapun boleh berideologi segila apapun. Namun sama sekali berbeda ketika ideologi sudah mewujud sebagai tindakan intoleransi dan penganiayaan sosial.

Dampak radikalisme kala itu memengaruhi para pemangku kepentingan masyarakat untuk melahirkan Deradikalisasi Agama sebagai gerakan di Indonesia. Embrio gerakan deradikalisasi ini dikembangkan secara serius salah satunya oleh Almarhum K.H. Hasyim Muzadi, yang secara formal-akademis difasilitasi oleh Kominfo 2011 dan IAIN Walisongo Semarang melalui seminar “Deradikalisasi Agama melalui Peran Muballigh Jawa Tengah”.

Wacana deradikalisasi sebenarnya muncul sebelum 2011. Pada 2007, Petrus Reinhard Golose menyatakan dalam karyanya yang berjudul Deradicalisation and Indonesia Prisons, bahwa “deradikalisasi bertujuan untuk membujuk para teroris (dan para radikalis) agar meninggalkan kekerasan yang mereka lakukan”. Bisa dikatakan bahwa wacana dan gerakan ini selanjutnya mengilhami para tokoh dari luar negeri untuk mengkaji dan mengembangkan teori deradikalisasi lebih lanjut dan serius.

Namun dalam konteks Deradikalisasi Agama yang dibawa Kyai Hasyim Muzadi, yang ditekankan adalah tindakan komprehensif dan kolektif dari berbagai pihak, baik itu ulama, ahli hukum, maupun kepolisian. Pun demikian, lebih jelas Hasyim menekankan agar menghindari kekerasan dalam menjinakkan terorisme karena akan melahirkan ‘dendam kesumat’ dari para teroris yang lainnya, karena “aksi-aksi terorisme tak bisa berhenti begitu saja dengan menembak pelakunya”.

Makna yang bisa ditangkap dari konsep Deradikalisasi Agama diatas adalah bahwa tindakan antisipatif menjadi titik kunci untuk meredam dan mengonter pagam ekstremis itu. Dengan kata lain, kekerasan tak bisa dihadang dengan kekerasan karenan yang akan terjadi adalah benturan keras di masyarakat. namun kekerasan bisa dihalau dengan fleksibilitas yang memungkinkan untuk menghindari resiko berkelanjutan.

Mantan Menristek di era Gus Dur menjadi presiden, Muhammad A.S. Hikam, menelurkan kerangka subyek deradikalisasi dan membaginya menjadi tiga: 1) Suprasrtruktur, yang merujuk pada peran pemerintah pusat atau daerah yang ditopang dengan regulasi-regulasi kemasayrakatan yang mendorong program deradikalisasi; 2) Insfrastruktur yang berupa lembaga pelaksana deradikalisasi; 3) Substruktur yang merupakan individu-individu pengisi lembaga pelaksana tersebut (Muhammad A.S Hikam, Peran Masyarakat Sipil Indonesia Membendung Radikalisme – DERADIKALISASI, 2016).

Subyek-subyek tersebut pada realitanya di kemudian hari terlihat masuk angin. Mungkin karena implementasi gerakan deradikalisasi yang kurang sehingga pada 2017 bisa kita lihat bagaimana masyarakat kita kebobolan dengan lahirnya gerakan Bela Islam atau lebih populer dengan gerakan 212.

Kelompok-kelompok radikalis menemukan momentumnya untuk menekan bangsa ini. Mula-mula dengan menyebarkan tafsir tunggal (provokasi) terkait karakter kepemimpinan dalam agama. Dari situ kemudian berorientasi menjatuhkan pemimpin yang tak seagama, yang pada dasarnya dilindungi oleh konstitusi. Sialnya, Majelis Ulama Indoneisa pada waktu itu punya peran memalukan dalam lahirnya gerakan tersebut.

Apa lacur. Sudah semua jadi terlanjur. Hari demi hari gerakan itu terus berlanjut. Sampai pula ada reuninya, dan bahwa mereka sudah bisa membangun eksistensi melalui laten reuni. Aroma politik pun tak bisa ditutup-tutupi ada di sana.

Dalam kasus lain, sungguh paham dan gerakan radikalisme seperti sudah menjadi candu dalam interaksi masyarakat kita. Nggak ada radikalisme nggak rame. Sekarang gerakan radikalisme membunglon di dalam kontestasi politik 2019. Kira-kira mereka, radikalis, ada di mana, gerakan “Deradikalisasi Agama” harus jadi tandingannya. Bukan apa-apa. Biar ramai saja, karena kayaknya kita butuh banyak hal yang ramai, heboh dan viral. Kita tidak mengantisipasinya secara komunikatif, tapi menunggu fenomena radikalisme dengan menggebu-gebu ingin menyelesaikannya. Keinginan yang semu.

Entah itu yang mangatasnamakan agama dalam politik. Yang menghakimi atau menghujat juga atas nama agama. Yang merusak acara sedekah laut. Yang memotong salib dan lain sebagainya. Membaca berita-berita itu sedih tapi seru juga.

Sepertinya kita semua perlu introspeksi, jangan-jangan radikalisme ada karena kita sendiri yang mengharapkannya, membiarkannya, menyiraminya dengan narasi yang membuat mereka kelompok radikal menjadi segar.

Lalu apakah semua ini akan selesai?

Mari kita tanyakan pada “Deradikalisasi Agama” si rumput yang bergoyang disapu angin radikalisme.

Teruntuk Gus Dur dan Kyai Hasyim Muzadi, lahuma al-faatihah…..

Muhammad Ulil Abshor
Mahasiswa IIQ An-Nur Yogyakarta. Tinggal di Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada bidang Ushuluddin dan Sosiologi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.