Kamis, Desember 3, 2020

Antara Siswaku dan Soeharto

Prahara Kartu Prakerja di Tengah Keterasingan Masyarakat

Polemik mengenai kartu pra kerja yang dirilis pada 20 Maret 2020 lalu hingga kini masih menjadi perbicangan hangat ditengah masyarakat. Mulanya peluncuran ini dipercepat...

Menguji Penguji UU MD3

Semenjak dinyatakan otomatis berlaku pada hari Kamis, 15 Maret 2018 tanpa pengesahan Presiden, perubahan UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) terbukti masih menuai...

Perlukah Media Izin?

“Misteri Kutukan Anak Jadi Ikan Pari Terpecahkan, Foto Ini Telah Jadi Viral—Inilah video dan foto anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi ikan pari sempat...

Pengembangan Kosmetika Asia

Pesatnya inovasi serta pemberlakuan perdagangan bebas telah menghadirkan bermacam varian kosmetika yang beredar di pasaran. Saat ini kosmetika bukan hanya menjadi kebutuhan kaum hawa,...
Satriwan Salim
Penulis adalah guru di SMA Labschool Jakarta. Organisasi: Saat ini sebagai Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G); Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia/FSGI (2017-2020); Plt. Ketua Umum Serikat Guru Indonesia/SEGI Jakarta (2017-2020); Pengurus Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI); dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Guru PPKn Indonesia/AGPPKnI (2019-2024). Karya Buku: 1. Judul: Guru Menggugat! (Penerbit Indie Publishing, 2013) 2. Judul: Guru untuk Republik, Refleksi Kritis tentang Isu-isu Pendidikan, Kebangsaan dan Kewarganegaraan (Penerbit Indie Publishing, 2017)

Tulisan singkat ini saya tulis karena teringat salah seorang mantan anak didik saya sekitar  5 (lima) tahun lalu. Sosok yang menginspirasi bagi adik kelasnya. Sebuah obrolan di jalan, memenuhi undangan stasiun televisi swasta di Kedoya, Jakarta Barat. Setelah pihak tv swasta menelepon, saya mendampinginya ke acara dialog pagi bertemakan kepemimpinan.

Berikut dialog kurang lebihnya yang saya masih ingat. Diskusi bermula ketika dia bertanya, “Pak, nanti pas siaran dialog tv itu kira-kira saya ditanya apa yah?” Saya jawab, “Ya, paling kamu ditanya sama penyiarnya tentang siapa contoh figur pemimpin yang menjadi favorit kamu.” Respon saya kepadanya seraya memerhatikan kemacetan.

Wah kalo begitu bagusnya saya jawab bagaimana ya, Pak?” Lalu saya menimpali, “Itu terserah kamu mau pilih siapa sebagai sosok yang kamu kagumi. Bisa tokoh nasional atau dunia. Bisa juga nama pahlawan atau pemimpin negara kita. Siapa saja sih.”

Kalau Bapak, kira-kira siapa sosok figur pemimpin bangsa yang dikagumi?”, tukas siswa ini secara cepat menimpali jawaban saya. Sepertinya dia penasaran alias kepo dengan jawab saya. Kebetulan dia menjabat sebagai ketua umum OSIS di sekolah kami waktu itu. Performance-nya secara akademik dan kepemimpinan memang bagus.

Sebagai guru PKn saya sering berdiskusi mengenai politik dan kebangsaan dengannya, baik di kelas maupun di luar. Saya tak paham mengapa siswa berdarah Minang ini suka berdiskusi dengan saya. Kadang capek juga melayani siswa yang keingintahuannya tinggi, apalagi menyangkut nama atau sebuah peristiwa sejarah bangsa, yang kontroversial. Tapi sudah menjadi panggilan saya sebagai pendidik.

Bahkan dalam suatu momen di kelas X. Setelah menjelaskan materi tentang sistem politik Indonesia, dalam diskusi dia bertanya, “Pak, jika saya ingin menjadi pemimpin, sebagai pemula, buku apakah yang bisa saya baca, sebagai modal dasar menjadi pemimpin?” pintanya ke saya. Saya jawab singkat, “Kamu wajib baca buku berjudul Retorika karya Aristoteles!” Lantas dia mengangguk dan saya perhatikan sorot matanya yang optimis dan ambisius.

Kembali pada pertanyaan kepo tadi. Saya bilang, “Kalau saya sih kagum sama para founding fathers kayak Tan Malaka, M. Natsir, Soekarno, HOS Tjokroaminoto, Hatta dan Agus Salim.” Sembari menguraikan secara umum karakter & nilai kepemimpinan yang bisa ditiru dari enam bapak bangsa di atas. Seperti kecerdasan, kesederhanaan, berwatak tegas & berpendirian, kesalihan dan komitmen kebangsaan tentunya.

Kemudian saya berucap lagi, “Nah, nanti kalau kamu ditanya penyiarnya siapa tokoh favorit, kamu jawab saja nama kayak Tan Malaka itu. Kan biasanya anak muda suka sama figur kontroversial, revolusioner plus anti-mainstream. Pasti penyiarnya senang dan kaget ada siswa kagum pada nama ini. Tan Malaka itu kan belum terlalu diketahui masyarakat. Jadi, kamu bilang saja Tan Malaka!”, demikian “hasutan” saya.

Mendengar “hasutan” tersebut dia menimpali, “Pak Satriwan maaf, saya jujur kalau ditanya siapa sosok pemimpin yang saya kagumi. Saya sebenarnya menghormati dan terkesan dengan Pak Harto. Soeharto adalah orang yang juga sangat berjasa pada repuplik ini.”

Belum panjang dia menguraikan alasannya mengidolakan Bapak Pembangunan ini saya memotong. “Hah, serius kamu mengidolakan Soeharto? Yang benar ah jangan bercanda nih. Mau masuk tv nasional lho.” Saya kaget dan terheran-heran mendengar ada anak muda zaman now mengidolakan sosok yang dipersepsikan otoriter dan korup sekaligus pelanggar HAM. Setidaknya demikian tertulis dalam buku pelajaran.

Di luar dugaan, ada anak berusia 16 tahun mengidolakan figur yang paling dibenci pada Reformasi 98. Kenyataan yang sulit saya terima. Tapi saya tak bisa membantahnya, karena itu pilihan (mungkin politis atau ideologis) anak didik yang suka membaca ini.

Kenapa kamu suka dengan Soeharto?” pungkas saya. Dia jawab kurang lebih, “Saya baru membaca buku tentang Soeharto Pak” (seingat saya kalau tak salah dia menyebutkan judul buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”), demikian jawab siswa yang hari itu mengenakan batik sekolah.

Saya membaca jika sebenarnya Soeharto adalah sosok pemimpin berwibawa, tegas dan berjasa terhadap Indonesia, Pak! Kalau tak ada beliau kita tak akan menikmati pembangunan jalan, tol, listrik, irigasi yang bagus bahkan kita pernah swasembada pangan. Beliau juga ikut dalam perang kemerdekaan. Banyak lagi jasa yang lainnya, Pak. Kita sekarang kebanyakan memandang hanya sisi buruk Soeharto. Kalau ditimbang secara adil, Soekarno pun punya keburukan dan dosa dalam kepemimpinannya dulu. Mungkin karena sekarang di era reformasi, makanya Soeharto selalu dinilai negatif di mata anak muda. Tapi saya melihatnya berbeda, Pak!” Demikian jawabnya yakin.

Kurang lebih seperti itulah argumentasi siswa yang pretasinya bejibun bahkan sampai di level internasional ini. Yang lulus dengan predikat cum laude, menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas di salah satu kampus ternama di Yogyakarta.

Saya terpaksa berpikir dan merefleksikan jawabannya. Ternyata yang kita sampaikan di kelas, belum tentu akan menjadi “keyakinan” bagi siswa. Siswa pun memiliki sumber pembelajaran sendiri, dia membaca buku selain buku paket wajib. Punya penilaian personal terhadap sosok pemimpin bangsa. Pilihan rasional yang saya sebagai guru tak bisa merubahnya secara radikal. Atau setidaknya memengaruhinya untuk jangan lagi mengidolakan “The smiling general”. Saya menghormati pilihannya.

Siswa itu ibarat mutiara di lautan. Tugas utama guru adalah menyelami ke dasar lautan, mengambil dan mengangkat mutiara tersebut ke permukaan. Sehingga mahal harganya. Mutiara itu berharga, karena diselami dan dibawa ke permukaan.

Begitulah kurang lebih tugas guru. Seperti kata HOS Tjokroaminoto (1882-1934), “Mendidik itu memupuk serta mengembangkan pemikiran dan potensi murid, bukan menanamkan pemikiran dan kemauan guru.” Dibuktikan kemudian hari oleh Pak Tjokro. Inilah prinsip inspiratif yang sampai kini terus saya coba pakaikan di kelas.

Diskusi perihal kepemimpinan yang seru itu, akhirnya berhenti ketika kami sampai di studio tv. Sempat berbasa-basi dengan pihak tv dan penyiar. Kemudian di-makeup sedikit. Lanjut live dialog tentang kepemimpinan. Tepatnya membedah buku tentang kepemimpinan di sekolah. Kalau tak salah judul bukunya: “The Damn Leader”. Mendialogkan buku bersama penulisnya. Sampai acara usai, ternyata pertanyaan seperti yang kami duga tak satu kalimatpun keluar dari mulut news anchor. Prediksi kami keliru.

Tapi ingatan cerita kepemimpinan Soeharto yang keluar dari mulut anak didik saya waktu itu, muncul kembali sekarang. Tepat di bulan Mei, sebab bulan adalah waktu bersejarah dalam narasi kebangsaan kita. Puncaknya 21 Mei, ketika sosok pemimpin yang diidolakan siswa saya tadi menyatakan mengundurkan diri.

Sekejap berubahlah takdir sejarah kita. Nama besar Soeharto pun tercoreng di buku pelajaran (sejarah). Tapi tidak bagi mantan delegasi Harvard National Model United Nations, yang saat ini telah menyandang gelar ST, pun sudah menerbitkan buku kepemimpinan: “Youth Leadership Kiat Pemuda dalam Menanam Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini” (2016).

“Apakah bekas anak didik saya tersebut masih mengidolakan Soeharto sampai sekarang?”. Jika jumpa, saya akan tanyakan.

Satriwan Salim
Penulis adalah guru di SMA Labschool Jakarta. Organisasi: Saat ini sebagai Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G); Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia/FSGI (2017-2020); Plt. Ketua Umum Serikat Guru Indonesia/SEGI Jakarta (2017-2020); Pengurus Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI); dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Guru PPKn Indonesia/AGPPKnI (2019-2024). Karya Buku: 1. Judul: Guru Menggugat! (Penerbit Indie Publishing, 2013) 2. Judul: Guru untuk Republik, Refleksi Kritis tentang Isu-isu Pendidikan, Kebangsaan dan Kewarganegaraan (Penerbit Indie Publishing, 2017)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.