Jumat, Februari 26, 2021

Antara Siswaku dan Soeharto

Kisah Raden Joyo Si Setan Kuburan, Akhir Sebuah Ketamakan

Urip ki mung mampir ngombe. bondo, donya mung titipan. Bechik eling bondo donya mung titipan, gawe urip urip bareng bebrayan marang liyan.Contoh baik mengenai...

Politik Maslahah: Upaya Menjaga Persatuan Bangsa di Era Medsos

Nampaknya, dunia politik menjadi perbincangan yang sangat ramai di era media sosial ini. Tanpa perlu menonton televisi, atau mendengar radio, atau juga membaca koran,...

Pilgub Jabar: Kontestasi Politik dan Optimisme Kultural

Beberapa bulan ke depan kita akan merayakan, merasakan, meresapi dan mengamati salah satu pesta demokrasi terbesar di Indonesia. Ya, pesta demokrasi itu adalah Pilkada...

Soal Hari Pendidikan Nasional yang Sudah Tepat Tanpa Dilan

Saya antara menyesal dan tidak dalam menulis artikel jawaban atas artikel Mas Iqbal Adji Daryono di kolom Pendidikan Geotimes dengan jusul “Hari Pendidikan Nasional...
Satriwan Salim
Penulis adalah guru di SMA Labschool Jakarta. Organisasi: Saat ini sebagai Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G); Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia/FSGI (2017-2020); Plt. Ketua Umum Serikat Guru Indonesia/SEGI Jakarta (2017-2020); Pengurus Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI); dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Guru PPKn Indonesia/AGPPKnI (2019-2024). Karya Buku: 1. Judul: Guru Menggugat! (Penerbit Indie Publishing, 2013) 2. Judul: Guru untuk Republik, Refleksi Kritis tentang Isu-isu Pendidikan, Kebangsaan dan Kewarganegaraan (Penerbit Indie Publishing, 2017)

Tulisan singkat ini saya tulis karena teringat salah seorang mantan anak didik saya sekitar  5 (lima) tahun lalu. Sosok yang menginspirasi bagi adik kelasnya. Sebuah obrolan di jalan, memenuhi undangan stasiun televisi swasta di Kedoya, Jakarta Barat. Setelah pihak tv swasta menelepon, saya mendampinginya ke acara dialog pagi bertemakan kepemimpinan.

Berikut dialog kurang lebihnya yang saya masih ingat. Diskusi bermula ketika dia bertanya, “Pak, nanti pas siaran dialog tv itu kira-kira saya ditanya apa yah?” Saya jawab, “Ya, paling kamu ditanya sama penyiarnya tentang siapa contoh figur pemimpin yang menjadi favorit kamu.” Respon saya kepadanya seraya memerhatikan kemacetan.

Wah kalo begitu bagusnya saya jawab bagaimana ya, Pak?” Lalu saya menimpali, “Itu terserah kamu mau pilih siapa sebagai sosok yang kamu kagumi. Bisa tokoh nasional atau dunia. Bisa juga nama pahlawan atau pemimpin negara kita. Siapa saja sih.”

Kalau Bapak, kira-kira siapa sosok figur pemimpin bangsa yang dikagumi?”, tukas siswa ini secara cepat menimpali jawaban saya. Sepertinya dia penasaran alias kepo dengan jawab saya. Kebetulan dia menjabat sebagai ketua umum OSIS di sekolah kami waktu itu. Performance-nya secara akademik dan kepemimpinan memang bagus.

Sebagai guru PKn saya sering berdiskusi mengenai politik dan kebangsaan dengannya, baik di kelas maupun di luar. Saya tak paham mengapa siswa berdarah Minang ini suka berdiskusi dengan saya. Kadang capek juga melayani siswa yang keingintahuannya tinggi, apalagi menyangkut nama atau sebuah peristiwa sejarah bangsa, yang kontroversial. Tapi sudah menjadi panggilan saya sebagai pendidik.

Bahkan dalam suatu momen di kelas X. Setelah menjelaskan materi tentang sistem politik Indonesia, dalam diskusi dia bertanya, “Pak, jika saya ingin menjadi pemimpin, sebagai pemula, buku apakah yang bisa saya baca, sebagai modal dasar menjadi pemimpin?” pintanya ke saya. Saya jawab singkat, “Kamu wajib baca buku berjudul Retorika karya Aristoteles!” Lantas dia mengangguk dan saya perhatikan sorot matanya yang optimis dan ambisius.

Kembali pada pertanyaan kepo tadi. Saya bilang, “Kalau saya sih kagum sama para founding fathers kayak Tan Malaka, M. Natsir, Soekarno, HOS Tjokroaminoto, Hatta dan Agus Salim.” Sembari menguraikan secara umum karakter & nilai kepemimpinan yang bisa ditiru dari enam bapak bangsa di atas. Seperti kecerdasan, kesederhanaan, berwatak tegas & berpendirian, kesalihan dan komitmen kebangsaan tentunya.

Kemudian saya berucap lagi, “Nah, nanti kalau kamu ditanya penyiarnya siapa tokoh favorit, kamu jawab saja nama kayak Tan Malaka itu. Kan biasanya anak muda suka sama figur kontroversial, revolusioner plus anti-mainstream. Pasti penyiarnya senang dan kaget ada siswa kagum pada nama ini. Tan Malaka itu kan belum terlalu diketahui masyarakat. Jadi, kamu bilang saja Tan Malaka!”, demikian “hasutan” saya.

Mendengar “hasutan” tersebut dia menimpali, “Pak Satriwan maaf, saya jujur kalau ditanya siapa sosok pemimpin yang saya kagumi. Saya sebenarnya menghormati dan terkesan dengan Pak Harto. Soeharto adalah orang yang juga sangat berjasa pada repuplik ini.”

Belum panjang dia menguraikan alasannya mengidolakan Bapak Pembangunan ini saya memotong. “Hah, serius kamu mengidolakan Soeharto? Yang benar ah jangan bercanda nih. Mau masuk tv nasional lho.” Saya kaget dan terheran-heran mendengar ada anak muda zaman now mengidolakan sosok yang dipersepsikan otoriter dan korup sekaligus pelanggar HAM. Setidaknya demikian tertulis dalam buku pelajaran.

Di luar dugaan, ada anak berusia 16 tahun mengidolakan figur yang paling dibenci pada Reformasi 98. Kenyataan yang sulit saya terima. Tapi saya tak bisa membantahnya, karena itu pilihan (mungkin politis atau ideologis) anak didik yang suka membaca ini.

Kenapa kamu suka dengan Soeharto?” pungkas saya. Dia jawab kurang lebih, “Saya baru membaca buku tentang Soeharto Pak” (seingat saya kalau tak salah dia menyebutkan judul buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”), demikian jawab siswa yang hari itu mengenakan batik sekolah.

Saya membaca jika sebenarnya Soeharto adalah sosok pemimpin berwibawa, tegas dan berjasa terhadap Indonesia, Pak! Kalau tak ada beliau kita tak akan menikmati pembangunan jalan, tol, listrik, irigasi yang bagus bahkan kita pernah swasembada pangan. Beliau juga ikut dalam perang kemerdekaan. Banyak lagi jasa yang lainnya, Pak. Kita sekarang kebanyakan memandang hanya sisi buruk Soeharto. Kalau ditimbang secara adil, Soekarno pun punya keburukan dan dosa dalam kepemimpinannya dulu. Mungkin karena sekarang di era reformasi, makanya Soeharto selalu dinilai negatif di mata anak muda. Tapi saya melihatnya berbeda, Pak!” Demikian jawabnya yakin.

Kurang lebih seperti itulah argumentasi siswa yang pretasinya bejibun bahkan sampai di level internasional ini. Yang lulus dengan predikat cum laude, menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas di salah satu kampus ternama di Yogyakarta.

Saya terpaksa berpikir dan merefleksikan jawabannya. Ternyata yang kita sampaikan di kelas, belum tentu akan menjadi “keyakinan” bagi siswa. Siswa pun memiliki sumber pembelajaran sendiri, dia membaca buku selain buku paket wajib. Punya penilaian personal terhadap sosok pemimpin bangsa. Pilihan rasional yang saya sebagai guru tak bisa merubahnya secara radikal. Atau setidaknya memengaruhinya untuk jangan lagi mengidolakan “The smiling general”. Saya menghormati pilihannya.

Siswa itu ibarat mutiara di lautan. Tugas utama guru adalah menyelami ke dasar lautan, mengambil dan mengangkat mutiara tersebut ke permukaan. Sehingga mahal harganya. Mutiara itu berharga, karena diselami dan dibawa ke permukaan.

Begitulah kurang lebih tugas guru. Seperti kata HOS Tjokroaminoto (1882-1934), “Mendidik itu memupuk serta mengembangkan pemikiran dan potensi murid, bukan menanamkan pemikiran dan kemauan guru.” Dibuktikan kemudian hari oleh Pak Tjokro. Inilah prinsip inspiratif yang sampai kini terus saya coba pakaikan di kelas.

Diskusi perihal kepemimpinan yang seru itu, akhirnya berhenti ketika kami sampai di studio tv. Sempat berbasa-basi dengan pihak tv dan penyiar. Kemudian di-makeup sedikit. Lanjut live dialog tentang kepemimpinan. Tepatnya membedah buku tentang kepemimpinan di sekolah. Kalau tak salah judul bukunya: “The Damn Leader”. Mendialogkan buku bersama penulisnya. Sampai acara usai, ternyata pertanyaan seperti yang kami duga tak satu kalimatpun keluar dari mulut news anchor. Prediksi kami keliru.

Tapi ingatan cerita kepemimpinan Soeharto yang keluar dari mulut anak didik saya waktu itu, muncul kembali sekarang. Tepat di bulan Mei, sebab bulan adalah waktu bersejarah dalam narasi kebangsaan kita. Puncaknya 21 Mei, ketika sosok pemimpin yang diidolakan siswa saya tadi menyatakan mengundurkan diri.

Sekejap berubahlah takdir sejarah kita. Nama besar Soeharto pun tercoreng di buku pelajaran (sejarah). Tapi tidak bagi mantan delegasi Harvard National Model United Nations, yang saat ini telah menyandang gelar ST, pun sudah menerbitkan buku kepemimpinan: “Youth Leadership Kiat Pemuda dalam Menanam Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini” (2016).

“Apakah bekas anak didik saya tersebut masih mengidolakan Soeharto sampai sekarang?”. Jika jumpa, saya akan tanyakan.

Satriwan Salim
Penulis adalah guru di SMA Labschool Jakarta. Organisasi: Saat ini sebagai Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G); Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia/FSGI (2017-2020); Plt. Ketua Umum Serikat Guru Indonesia/SEGI Jakarta (2017-2020); Pengurus Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI); dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Guru PPKn Indonesia/AGPPKnI (2019-2024). Karya Buku: 1. Judul: Guru Menggugat! (Penerbit Indie Publishing, 2013) 2. Judul: Guru untuk Republik, Refleksi Kritis tentang Isu-isu Pendidikan, Kebangsaan dan Kewarganegaraan (Penerbit Indie Publishing, 2017)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.