Rabu, Januari 20, 2021

Antara Jokowi, Tol Laut dan Poros Maritim Dunia

Pandemi di Hari Pendidikan Nasional

Hari pendidikan nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei. Peringatan hari pendidikan nasional telah ditetapkan sejak 28 November 1959 silam yakni melalui surat  keputusan Presiden...

Tatanan Dunia Baru Menuju Neoproteksionisme

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra, MA.Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Direktur Eksekutif Moderate Institute.A. Ide Global Village dan TantangannyaSekitar 50 tahun yang...

Guru dan Kesadaran Politik

Tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru. Tiap sekolah dari berbagai jenjang melaksanakan upacara peringatan. Semua guru memakai seragam PGRI. Bisa diprediksi, warganet akan...

Mengenalkan Spiritualitas Jawa

Melalui karya berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness, Paviliun Indonesia hadir dalam seminar berjudul The Tale of The Void, yang dilaksanakan Minggu (8/7), di...
L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |

Program tol laut menjadi jargon Jokowi ketika melakukan kampanye pemilihan presiden (pilpres) pada tahun 2014 lalu. Di penghujung akhir 2015, salah satu program utama Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut akhirnya diluncurkan, yakni program tol laut yang harapannya dapat menjadikan Indonesia menjadi negara poros maritim dunia.

Tentunya harus kita akui bahwa negara kepulauan besar seperti Indonesia, merupakan negara yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan daerah perairan, terutama laut. Setiap kepulauan memiliki karakteristik tersendiri untuk wilayahnya, yang terintegrasi dan terus berkembang.

Untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah tersebut serta menjamin pemerataan maupun perpindahan barang maupun penduduk, konektivitas serta optimalisasi sarana prasarana transportasi memiliki peran yang sangat penting.

Pelabuhan laut sebagai salah satu unsur penting dalam program tol laut, harus dapat mendukung kegiatan transportasi atau pengangkutan manusia dan barang dari suatu tempat (hinterland) ke tempat lainnya (foreland). Pemilihan pelabuhan yang memberikan pelayanan terbaik merupakan satu permasalahan keputusan penting yang nantinya memberikan dampak baik bagi perekonomian wilayah sekitar pelabuhan pada khususnya dan negara pada umumnya.

Melihat trend perkembangan pelabuhan di dunia, ada beberapa faktor kunci yang menjadi dasar untuk pengembangan program tol laut di masa yang akan datang, yaitu Kontainerisasi, Infrastruktur yang memadai, Peningkatan keamanan pelabuhan, serta Perkembangan teknologi.

Jika kita melihat potret perkembangan potensi dan kontribusi pelabuhan regional 5 hingga 10 tahun lalu dalam kancah pembangunan dan pertumbuhan perekonomian di kawasan perairan Indonesia belum nampak optimal. Bagaimana kebijakan pengelolaannya serta existing model pelabuhan yang ada hingga saat ini pun dapat dikatakan mostly masih cenderung tradisional dan konvensional.

Untuk mengetahui strategi kebijakan dan potensi pelabuhan regional di Indonesia dalam pembangunan perekonomian maka perlu dilakukan revitalisasi sistem terkait skenario kebijakan pelabuhan berdasarkan existing model yang sudah ada dengan harapan dapat memberikan gambaran kepada Pemerintah Pusat maupun Propinsi diseluruh Indonesia dan stakeholder untuk lebih mengetahui tentang kebijakan dalam pengembangan program tol laut, potensi, dan kondisi pelabuhan regional.

Harus diakui pula kompleksitas interaksi antar stakeholders dalam sistem pelabuhan laut tersebut membutuhkan suatu pendekatan sistem yang bersifat dinamis.

Bila diamati secara seksama tidak optimalnya pengembangan sistem pelabuhan di Indonesia, disebabkan inefisiensi pada proses bongkar muat pelabuhan dan sistem pelayaran yang telah berlangsung puluhan tahun.

Seperti yang diungkapkan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) RJ Lino, sudah banyak kesalahan dalam sistem pelabuhan. Dosa orang pelabuhan sehingga pengangkutan laut kita seperti ini. Persoalannya, dengan segala benang kusut di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, dari sisi manakah memulai pembenahan?

Jika kita mencoba mencermati dengan pendekatan dinamis, dengan tujuan utama yaitu meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, secara langsung ada beberapa faktor yang menjadi perhatian khusus dalam pembenahan sistem pelabuhan dalam mendukung program Tol Laut, antara lain Biaya Operasional pelabuhan yang selama ini banyak dikeluhkan oleh pengguna jasa pelabuhan, dimana belum adanya standarisasi ditambah ‘pungli’ yang berkeliaran dimana-mana.

Keamanan Pelabuhan, menjadi faktor penting bagi pengguna jasa pelabuhan terutama dalam proses bongkar muat container yang selama ini banyak mengalami tindakan kriminalitas pelabuhan. Tingkat pelayanan jasa pelabuhan, selama ini banyak dikeluhkan pengguna jasa pelabuhan terutama para penumpang kapal motor penyeberangan antar pulau di Indonesia, dimana standarisasi sistem pelayanan yang dapat dikatakan ‘buruk’.

Pajak/Retribusi, penarikan pajak/retribusi di setiap pelabuhan yang dirasakan para pengguna jasa khususnya proses bongkar muat container yang semakin melambung tinggi, tidak diiringi dengan peningkatan kualitas jasa pelayanan pelabuhan tersebut.

Teknologi Proses Bongkar Muat pelabuhan yang selama ini masih banyak pelabuhan di Indonesia dengan sistem konvensional, sehingga waktu tunggu setiap kapal yang akan melakukan proses bongkar muat lama. Kapasitas Gudang/ Area Penyimpanan, tidak meratanya kapasitas area penyimpanan pelabuhan di Indonesia, mengakibatkan antrian kapal semakin ‘membludak’ di dermaga, dan truck container pengangkut pun ikut antri.

Jumlah kedatangan/ keberangkatan kapal, di Indonesia ada 2 pelabuhan utama yang menjadi ‘sasaran utama’ pengguna jasa pelabuhan khususnya peti kemas yaitu pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak dengan tingkat pengguna jasa yang tinggi, mengakibatkan pertumbuhan perekonomian terpusat hanya disekitar kawasan itu saja, sehingga perlunya pemerataan ke beberapa pelabuhan pendukung sekitarnya.

Dari beberapa faktor yang disebutkan diatas, perlu diingat dan mungkin selama ini kurang diperhatikan Pemerintah dalam menentukan kebijakan pengembangan pelabuhan di Indonesia, yaitu faktor komoditi yang di ekspor/impor melalui pelabuhan di setiap wilayah Indonesia.

Dimana Komoditi tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang bersifat dinamis, sebagai contoh Komoditi pertanian (sayur-sayuran dan buah-buahan) yang sangat dipengaruhi oleh iklim/cuaca diwilayah masing-masing yang tak menentu. Sehingga nantinya dalam merancang skenario kebijakan pengembangan pelabuhan di Indonesia dalam mendukung program Tol Laut tentunya perlu memperhatikan fakto-faktor non teknis yang bersifat dinamis.

L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.