OUR NETWORK

Antara Jokowi, Tol Laut dan Poros Maritim Dunia

Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi samudra, memunggungi selat serta teluk. Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe – dilaut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek moyang kita dimasa lalu, bisa kembali membahana.” Joko Widodo (2014)

Program tol laut menjadi jargon Jokowi ketika melakukan kampanye pemilihan presiden (pilpres) pada tahun 2014 lalu. Di penghujung akhir 2015, salah satu program utama Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut akhirnya diluncurkan, yakni program tol laut yang harapannya dapat menjadikan Indonesia menjadi negara poros maritim dunia.

Tentunya harus kita akui bahwa negara kepulauan besar seperti Indonesia, merupakan negara yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan daerah perairan, terutama laut. Setiap kepulauan memiliki karakteristik tersendiri untuk wilayahnya, yang terintegrasi dan terus berkembang.

Untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah tersebut serta menjamin pemerataan maupun perpindahan barang maupun penduduk, konektivitas serta optimalisasi sarana prasarana transportasi memiliki peran yang sangat penting.

Pelabuhan laut sebagai salah satu unsur penting dalam program tol laut, harus dapat mendukung kegiatan transportasi atau pengangkutan manusia dan barang dari suatu tempat (hinterland) ke tempat lainnya (foreland). Pemilihan pelabuhan yang memberikan pelayanan terbaik merupakan satu permasalahan keputusan penting yang nantinya memberikan dampak baik bagi perekonomian wilayah sekitar pelabuhan pada khususnya dan negara pada umumnya.

Melihat trend perkembangan pelabuhan di dunia, ada beberapa faktor kunci yang menjadi dasar untuk pengembangan program tol laut di masa yang akan datang, yaitu Kontainerisasi, Infrastruktur yang memadai, Peningkatan keamanan pelabuhan, serta Perkembangan teknologi.

Jika kita melihat potret perkembangan potensi dan kontribusi pelabuhan regional 5 hingga 10 tahun lalu dalam kancah pembangunan dan pertumbuhan perekonomian di kawasan perairan Indonesia belum nampak optimal. Bagaimana kebijakan pengelolaannya serta existing model pelabuhan yang ada hingga saat ini pun dapat dikatakan mostly masih cenderung tradisional dan konvensional.

Untuk mengetahui strategi kebijakan dan potensi pelabuhan regional di Indonesia dalam pembangunan perekonomian maka perlu dilakukan revitalisasi sistem terkait skenario kebijakan pelabuhan berdasarkan existing model yang sudah ada dengan harapan dapat memberikan gambaran kepada Pemerintah Pusat maupun Propinsi diseluruh Indonesia dan stakeholder untuk lebih mengetahui tentang kebijakan dalam pengembangan program tol laut, potensi, dan kondisi pelabuhan regional.

Harus diakui pula kompleksitas interaksi antar stakeholders dalam sistem pelabuhan laut tersebut membutuhkan suatu pendekatan sistem yang bersifat dinamis.

Bila diamati secara seksama tidak optimalnya pengembangan sistem pelabuhan di Indonesia, disebabkan inefisiensi pada proses bongkar muat pelabuhan dan sistem pelayaran yang telah berlangsung puluhan tahun.

Seperti yang diungkapkan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) RJ Lino, sudah banyak kesalahan dalam sistem pelabuhan. Dosa orang pelabuhan sehingga pengangkutan laut kita seperti ini. Persoalannya, dengan segala benang kusut di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, dari sisi manakah memulai pembenahan?

Jika kita mencoba mencermati dengan pendekatan dinamis, dengan tujuan utama yaitu meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, secara langsung ada beberapa faktor yang menjadi perhatian khusus dalam pembenahan sistem pelabuhan dalam mendukung program Tol Laut, antara lain Biaya Operasional pelabuhan yang selama ini banyak dikeluhkan oleh pengguna jasa pelabuhan, dimana belum adanya standarisasi ditambah ‘pungli’ yang berkeliaran dimana-mana.

Keamanan Pelabuhan, menjadi faktor penting bagi pengguna jasa pelabuhan terutama dalam proses bongkar muat container yang selama ini banyak mengalami tindakan kriminalitas pelabuhan. Tingkat pelayanan jasa pelabuhan, selama ini banyak dikeluhkan pengguna jasa pelabuhan terutama para penumpang kapal motor penyeberangan antar pulau di Indonesia, dimana standarisasi sistem pelayanan yang dapat dikatakan ‘buruk’.

Pajak/Retribusi, penarikan pajak/retribusi di setiap pelabuhan yang dirasakan para pengguna jasa khususnya proses bongkar muat container yang semakin melambung tinggi, tidak diiringi dengan peningkatan kualitas jasa pelayanan pelabuhan tersebut.

Teknologi Proses Bongkar Muat pelabuhan yang selama ini masih banyak pelabuhan di Indonesia dengan sistem konvensional, sehingga waktu tunggu setiap kapal yang akan melakukan proses bongkar muat lama. Kapasitas Gudang/ Area Penyimpanan, tidak meratanya kapasitas area penyimpanan pelabuhan di Indonesia, mengakibatkan antrian kapal semakin ‘membludak’ di dermaga, dan truck container pengangkut pun ikut antri.

Jumlah kedatangan/ keberangkatan kapal, di Indonesia ada 2 pelabuhan utama yang menjadi ‘sasaran utama’ pengguna jasa pelabuhan khususnya peti kemas yaitu pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak dengan tingkat pengguna jasa yang tinggi, mengakibatkan pertumbuhan perekonomian terpusat hanya disekitar kawasan itu saja, sehingga perlunya pemerataan ke beberapa pelabuhan pendukung sekitarnya.

Dari beberapa faktor yang disebutkan diatas, perlu diingat dan mungkin selama ini kurang diperhatikan Pemerintah dalam menentukan kebijakan pengembangan pelabuhan di Indonesia, yaitu faktor komoditi yang di ekspor/impor melalui pelabuhan di setiap wilayah Indonesia.

Dimana Komoditi tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang bersifat dinamis, sebagai contoh Komoditi pertanian (sayur-sayuran dan buah-buahan) yang sangat dipengaruhi oleh iklim/cuaca diwilayah masing-masing yang tak menentu. Sehingga nantinya dalam merancang skenario kebijakan pengembangan pelabuhan di Indonesia dalam mendukung program Tol Laut tentunya perlu memperhatikan fakto-faktor non teknis yang bersifat dinamis.

L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Ketua PPI Taiwan 2017/2018 | Dosen di Univ. Brawijaya | Founder of Marine Highway Tech | Peneliti di IEEE Intelligent Transportation System Society |

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…