Kamis, Januari 28, 2021

Anomali Prilaku Politik

The Fallacy of Reification

Dalam suatu kesempatan saya pernah menyaksikan dialog panas antara Rocky Gerung dengan sejumlah politisi di salah satu channel televisi swasta. Tema utama dalam debat...

Kepemimpinan Perempuan Tak Sekadar Perebutan Kekuasaan

Bicara peran dan kepemimpinan perempuan bukan hanya pada teksnya, tapi juga praktik-praktik sosial yang telah dilakukannya di masyarakat. Publik kita masih sibuk menyoal bagaimana seorang...

Ajaran Agama Menghormati Tokoh Agama

Akhir-akhir ini tenun kebangsaan sedang berusaha dikoyak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Salah satu sendi terpenting berdirinya bangsa ini, kehidupan beragama, mendapat serangan bertubi-tubi....

Pelajaran dari Ratna Sarumpaet

Kebohongan aktivis perempuan yang dikenal galak dan garang terhadap pemerintahan Jokowi, Ratna Sarumpaet, beberapa hari yang lalu telah menghebohkan seluruh penduduk negeri ini. Dia...
Desi Amalia
Alumni Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

Sejatinya perjalanan demokrasi tidak selalu mulus akan banyak berbagai tantangan dalam perjalanan menuju kedewasaan berdekomrasi, seperti kondisi politik yang tidak stabil, korupsi yang merajalela, krisis kepercayaan oleh masyarakat, dan semakin kompleks dengan gerakan radikalisme yang belakangan ini semakin marak, dalam tubuh radikalisme ada dua bentuk pertama: Kesukaran untuk menerima kelompok yang berbeda (lunak), kedua: Aksi kekerasan dan terorisme (ekstrim), seperti pemboman Gereja di Samarinda 14 November kemarin mengakibatkan seorang anak berusia dua tahun meninggal dunia.

Radikalisme sangat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, penyebarluasan gerakan radikalime sudah sampai diberbagai pelosok negeri, doktrinisasi menghalakan kekerasan dalam berjihatpun dilakukan serta iming-iming surga yang digambarkan sedemikian rupa jika mati dalam berjihad. Kondisi bangsa sangat rentan terhadap paham radikalisme, penduduk Indonesia mayoritas Muslim menjadi sasaran empuk bagi gerakan radikalisme berbasis agama. Minimnya pemahaman agama serta faktor ekonomi juga dijadikan alat dalam memperlancar gerakan ini, yang melelahirkan hubungan simbiosis mutualisme antar keduanya.

Sesungguhnya radikalisme merupakan prilaku politik namun, prilaku seperti ini adalah prilaku politik yang menyimpang. Wajar saja jika masyarakat keceewa pada negara, dalam kehidupan berdemokrasi telah ada ruang-ruang yang diberikan oleh negara untuk menyampaikan kekecewaan masyarakat seperti kebebasan dalam mengelurkan pendapat yang dijamin UUD 1945 pasal 28. Akan tetapi prilaku politik yang menyimpang seperti kekerasan dan terorisme tetap saja harus ditumpas sebelum menjalar dan semakin ganas, radikalisme dapat mengancam keselamatan bahkan menghilangkan nyawa.

Menghadapi perkembangan radikalisme yang semakin marak belakangan ini maka negara dituntut lebih “Responsive”. Jika negara belum mampu mewujudkan keadilan (injustice), membiarkan praktik korupsi (corruption), dan tetap mempertontonkan kekerasan (violance), maka gerakan radikalisme merasa diberi ruang dan dibenarkan dalam keadaan ini, menimbulkan keadaan Eksesif (melampaui kebiasaan).

Paham radikalisme dan tindakan terorisme sejak dulu sudah mendarah daging bukan merupakan hal baru dimata publik. Jika dahulu pelakuanya adalah mereka yang miskin dan tidak berpendidkan namun sekarang pelakunya adalah mereka yang berkecukupan dan memiliki keahlian tertentu. Dalam prosese rekrutmen atau pengkaderan yang dilakukan biasanya melakukan pendekatan pendekatan primordialisme, mengatasnamanakan kepercayaan sehingga perlu diperjuangkan, pembenaran tindakan memakai trik-trik tertentu seperti pembernaran dari ayat-ayat kitab suci, kemudian dicekoki jangji-janji hidup bahagia dan masuk surga.

Solidaritas Kelompok

Solidaritas adalah dimanan kondisi individu mulai memiliki rasa kebersamaa, rasa simpati terhadap keadan tertentu kemudian ikut terjun dan berkontribusi dalam kelompok yang dibentuk karena memiliki tujuan yang sama. Pada kelompok radikalisme solidaritas kelompoknya sangat tinggi. Aksi-aksi yang mereka lakukan adalah salah satu bukti solidaritas kelompok yang coba mereka buktikan. Namun aksi-aksi yang dapat mengancam keselamatan haruslah ditinggalkan karena masyarakan Indonesia melekat dengan citranya yang ramah, akan tetapi belakangan ini citra seolah hilang dan muncul image negatif karena kekeras yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang tidak bertanggungkan dan mengtas namakan agama.

Sejatinya rasa aman adalah tanggungjawab negara untuk memberikan rasa aman pada rakyatnya, karena belakangan ini masyarakat waswas akan keselamatannya karena ulah kelompok yang melakukan pemboman dibeberapa tempat tertentu. Aksi-aksi seperti ini harus cepat diselesaikan oleh negara. Ada benyak hal yang dapat dilakukan seperti merevisi Undang-undang teroris, memperketat keamanan dititik-tik tertentu yang dianggap target pemboman, selanjuya masyrakat juga hars lebih berhati-hati dalan setiap aktivitas yang dilakukan. Ada jalan yang bisa ditempuh untuk menangani radikalisme seperti Deradikalisme yang digunakan sebagai alat penyadaran serta penegmbalian logika atau rasionalisme, shok teraphy hebat juga bisa sebagai taktis yang digunakan serta menanamkan nilai-nilai humanis kepad jiwa-jiwa radikal yang telah lama dibelenggu rasa kebencian.

Bangkitnya gerakan radikalsme diakibatkan kemajemukan suku bangsa yang diindikasikan sebagai salah satu lahirnya radikalisme. Gerakan radikalisme akan semakin subur dinegra yang demokratis, karena sejauh ini gerakan radikalisme disebabkan kekecewaan pada negara, sistem politik yang tidak adil, elit yang korup, penolakan agama atau suku bangsa yang berbeda selalu dijadikan dalih untuk melakukan kekerasan. Tindakan kekerasan yang sekarang dipertontonkan sipil kepada elit seharusnya menjadi refleksi, karena bangsa Indonesia membutuhkan kehidupan politik yang bermoral serta beretika, bukan seperti membabi buta menghalalkan sengala cara untuk memperoleh Kursi Empuknya kekuasaan. Berpolitik tanpa etika akan mengakibatkan kehancuran. Saya teringat kata penyair Syauqi “ Yang Disebut Bangsa Itu Ahlaknya Apabila Itu Telah Tiada Bangsa Akan Hancur”.

Semakin terlihat jelas bahwa Ideologi bangsa semakin tergerus, kesaktian Pancasila tidak lagi melekat dalam kehiduan berbangsa dan bernegara, sila demi sila sudah kehilangan maknanya, kini kekerasan dan terorisme ada dimanan-mana sungguh prihatin bangsa ini. Gagasan Pancasila sangat terkenal sampai ke mancanegara dulunya namun, sekarang hanya nostalgia belaka nilai-nilai Pancasila sedang mengalami krisis ditengah-tengan masyarakat.

Desi Amalia
Alumni Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.