Selasa, Maret 9, 2021

Andaikan Saya Orang Papua

Corona dan Nasionalisme Kita

Berbagai penyakit menular pada manusia yang bersumber dari hewan telah banyak mewabah di dunia, mulai dari pandemi influenza, ebola, flu burung, sars, mers dan...

Gagal Paham Papua dan Kepentingannya (Bagian 2)

Selain itu jika diperhatikan ada persoalan proses integrasi yang lambat dan cenderung stagnan. Tanggung jawab integrasi sosial-politik dan budaya tidak bisa dituntut sebagai hanya...

Pekerja Informal di Tengah Gegap Gempita May Day

Pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya kita dan pekerja sejagad memperingati hari buruh atau May Day. Dalam perjalanan sejarahnya, gerakan buruh dan kesadaran berserikat...

Kampus di Tengah Pusaran Perpolitikan Negeri

Beberapa hari yang lalu, ketua Drone Emprit Indonesia, Ismail Fahmi menuliskan sebuah postingan menarik di laman facebook miliknya. Dalam ulasan postingannya tersebut, ia menjabarkan...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Saat sebagian rakyat Papua marah dan tersinggung dengan sebuatan “Monyet”, saya langsung bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana seandainya jika saya menjadi salah satu bagian dari warga asli Papua?”

Begitulah cara pertama saya memahami ketersinggungan saudara-saudara saya di Papua. Ternyata, setelah saya renungi dalam-dalam, ketersinggungan warga Papua itu adalah sebuah hal yang sangat wajar meskipun juga berlebihan ketika sampai turun ke jalan dan berujung kerusuhan.

Perlu disadari dan dipahami bahwa bisa jadi, saya ataupun Anda, pernah memiliki pemikiran bahwa saudara kita di Papua memang berbeda, terutama dalam hal fisiknya. Bahkan, disadari atau tidak, saat kita bertemu dengan orang dengan rambut gimbal dan kulit hitam, akan buru-buru mengamini bahwa orang itu adalah orang Papua. Padahal, bisa jadi orang itu bukan orang Papua.

Saya yang hidup di Yogyakarta dan pernah mengenyam bangku kuliah di salah satu Universitas di Kota Pelajar itu, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana saudara-saudara di Papua yang kuliah di Yogyakarta dikucilkan, terlebih sejak meletusnya kasus penyerbuan oknum TNI di Lapas Cebongan beberapa tahun lalu.

Pada taraf nasional, rakyat Papua juga harus menelan pil pahit saat kekayaan alamnya dikeruk. Sama seperti daerah lain yang warganya memprotes beberapa tambang yang membuat lingkungannya rusak dan berujung kerusuhan. Sebabnya sama, ada rasa ketidakadilan. Begitulah yang dirasakan saudara-saudara kita di Papua.

Semua itu diperparah dengan adanya media sosial yang menjadi api dalam sekam. Sejak kemajuan media sosial, otomatis ujaran kebencian SARA semakin liar dan tidak terkontrol.

Ketika sebagian warga Papua merasa tertindas, merasa dikucilkan serta merasa menjadi orang asing di negeri sendiri, tentu tidaklah bijak serta merta menyalahkan mereka. Bisa jadi, saya atupun Anda pernah secara langsung atau tidak langsung memperlihatkan kebencian kepada mereka. Mencaci mereka karena fisiknya yang berbeda. Bisa jadi pula, bangsa ini sendiri yang belum memahami benar apa itu Pancasila dan apa itu Bhineka Tunggal Ika.

Menjaga keutuhan, kerukunan serta persatuan bangsa ini menjadi tugas seluruh rakyat Indonesia, termasuk saya dan Anda. Maka sangat tepat apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer berikut ini:

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1975.)

Fenomena fallacy (kekeliruan berfikir) harus dihilangkan. Jangan sampai ada pikiran saya lebih baik dari orang Papua, orang Jawa lebih baik dari orang Papua, atau lainnya. Jika pemikiran seperti itu masih ada di benak rakyat dan pemerintah, maka Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika hanya menjadi kata tiada bermakna, begitu juga teriakan Saya Pancasila, NKRI harga mati, hanya sebatas teriakan kosong saja.

Maka pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, “Apakah kita sudah adil dengan saudara-saudara kita asal Papua, dan apakah kita benar-benar menganggap mereka sebagai saudara sebangsa dan setanah air?”

Tidak mudah menjadi berbeda, tidak mudah pula menjadi orang yang terasing, itulah yang saya rasa menjadi beban tersendiri bagi saudara-saudara kita di Papua yang seringkali dianggap beda dan asing ketika berada di daerah lain.

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.