Minggu, April 11, 2021

Anarki, Mengapa Ditakuti?

Tanggal 30 September dan Kelahiran Rumi yang Terlupakan

Ada hubungan apa antara Jalaluddin Rumi dengan tanggal 30 September? Di tanggal itulah seorang sufi besar, yakni Jalaluddin Rumi lahir ke dunia. Sayangnya, hiruk...

Sebuah Permohonan Maaf

Saya perna menulis dan memuat artikel di GeoTimes yang berjudul "Kebebasan Berpendapat Dan Masyarakat Kita Yang Belum Dewasa" (yang sudah saya ganti judulnya dengan...

Menjelang Pemilu 2019, Majukah Akal Budi Kita?

Menjelang Pemilu serentak 2019 mendatang berbagai macam persiapan dilakukan oleh banyak partai politik (Parpol) dalam usaha memenangkan pertandingan final menuju kursi kekuasaan sebagai Presiden...

Estetika Islam

Jika ini boleh disebut konsep, maka belum ada konsep yang baku dalam estetika Islam. Estetika Islam seringkali lebih menunjukkan kontinuitas terhadap ekspresi agama ketimbang...
Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta

Aksi yang dilakukan oleh kelompok “Anarko Sindikalisme” di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya, pada peringatan May Day (Hari Buruh) tahun 2019 ini cukup mengejutkan.

Meski di tahun 2018 lalu di Yogyakarta, tepatnya di jalan utama sekitar kampus UIN Kalijaga, aksi serupa juga terjadi dengan gaya yang serupa. Berpakaian hitam-hitam, kebanyakan berumur di bawah 20 tahun, dan beraksi secara individual meski ada dalam sebuah kelompok.

Bagi Benedict Anderson (Di Bawah Tiga Bendera. Anarkisme dan Imajinasi Antikolonial, Marjin Kiri, 2015), aksi seperti itu sesungguhnya memiliki sejarah yang cukup panjang dan biasanya berujung pada kekerasan, bahkan kematian.

Hal itu disebabkan karena aksi yang bergerak kalap terus-menerus seperti hubungan antar bintang di langit terlanjur dipandang meresahkan, mengganggu, bahkan mengancam, ketenangan dan kenyamanan dalam hidup sehari-hari.

Maka tak heran jika pada konvensi Partai Republik tahun 2004 di New York, kepolisian metropolis menyatakan bahwa ancamannya bukan berasal dari orang-orang komunis, bukan pula dari fanatikus Muslim, melainkan dari kaum anarkis.

Pernyataan yang sebenarnya agak tendensius itu tampak mau mewariskan suatu “ketakutan” yang sebelumnya telah distigmakan, baik pada orang-orang komunis maupun fanatikus Muslim.

Dengan stigma itu, masyarakat pun dengan mudah dibuat tunduk dan patuh tanpa mampu melakukan perlawanan apapun. Maka tak heran jika tuduhan, seperti komunis, teroris, dan/atau radikalis, begitu dihindari dan dijauhi agar tidak terkena “tulah/kutukan” daripadanya.

Penting untuk diketahui bahwa anarki adalah gerakan yang khas bentuknya dan beraneka ragamnya di akhir abad ke-19 dengan prinsip “berorganisasi tanpa pemimpin”. Dengan prinsip itu, kaum anarkis dengan bebas bergerak secara individual untuk melawan imperialisme dan/atau kolonialisme yang telah berganti wajah dalam globalisasi mutakhir.

Penemuan teknologi modern, seperti telegraf, percetakan, kapal uap, atau kereta api, justru semakin memperluas gerakan perlawanan kaum anarkis yang dengan cepat memanfaatkan migrasi lintas samudra untuk berjejaring dengan siapa saja dan di mana saja. Petani dan buruh di luar Eropa, termasuk penulis dan seniman “borjuis”, serta gerakan nasionalis “kecil” dan “ahistoris”, dirangkul sebagai sesama aktivis politik yang bukan lagi berpaham Marxis, melainkan anarkis migran.

Salah satu tokohnya adalah José Rizal dari Filipina yang adalah novelis jenius di Asia. Rizal yang dikenal juga sebagai bapak nasionalisme di Filipina telah dieksekusi mati di hadapan regu tembak di ruang terbuka bernama Bagumbayan (Taman Luneta) pada 30 Desember 1896.

Padahal sebagai novelis, Rizal telah menerbitkan dua karya termahsyur, masing-masing dengan judul Noli me tangere (Jangan Sentuh Aku) dan El Filibusterismo (Merajalelanya Keserakahan). Dua karya yang telah menciptakan sebuah imajinasi tentang “masyarakat” di Filipina yang utuh dan kontemporer serta “tanpa kelas”.

Hanya sayangnya, Rizal terlampau tergoda untuk menjadi guru politik bangsanya dengan mengandalkan pada kekuatan pidato atau artikel kritis, sebagaimana kaum terpelajar Filipina pada umumnya, lebih daripada novel-novelnya. Itulah mengapa Rizal yang baru berumur 36 tahun dengan segera diadili dengan dakwaan penghasutan dan pengkhianatan di hadapan mahkamah militer.

Meski tanpa dihadiri oleh para juri, sidang yang berlangsung hanya satu hari menjatuhkan vonis hukuman mati pada Rizal di tempat di mana seperempat abad sebelumnya tiga orang pastor sekuler dihukum cekik dengan gelang besi.

Tragis, memang. Namun, kematian Rizal yang dianggap sebagai martir nasional telah menyulut api pemberontakan di Filipina. Jalan lapang menuju cita-cita kemerdekaan dari imperium Spanyol pun terbuka bagi bangsa Filipina.

Hanya sayangnya, proyeksi novel ketiga yang “indah” dan “artistik” tak membuahkan apa pun juga. Bahkan dua novel sebelumnya hanya tinggal menjadi kenang-kenangan yang sudah berada di luar cita-cita gerakan revolusionernya yang bertumpu pada anarkisme.

Inilah wajah anarki yang telah kehilangan imajinasi dan dengan mudah diberantas, bahkan distigmakan setara atau lebih daripada komunis dan/atau teroris. Anarki yang pada mulanya merupakan suatu gerakan kritik sosial baru dengan prinsip di atas selalu dianggap sebagai bahaya besar justru karena dikerjakan tidak dengan serius dan militan.

Artinya, para anarkis yang sesungguhnya anti imperialisme, kolonialisme, dan bahkan globalisme, seakan-akan mustahil untuk menciptakan “kegelisahan”, sebagaimana dibayangkan oleh Sutan Sjahrir pada akhir tahun 1945, jika tanpa ada yang merekayasakannya.

Faktanya, pada peristiwa Haymarket Martyrs di Chicago, akhirnya diketahui bahwa yang membuat kericuhan dengan melempar bom ke tengah pasukan polisi dalam demonstrasi damai kaum buruh adalah para agen polisi sendiri.

Maka, adilkah jika memandang anarkisme sebagai bahaya besar yang lucunya di tempat cikal bakalnya Hari Buruh 1 Mei (May Day) dinobatkan hanya diperingati dengan sebuah monumen?

Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.