Jumat, Maret 5, 2021

Analisis Kasus Novel Baswedan: Hukum Indonesia Bertuan

Refleksi Idul Fitri dan Solidaritas Kemanusiaan

Momen perayaan Idul Fitri patutlah dijadikan kesempatan guna merengkuh kemenangan bagi seluruh umat Islam. Kemenangan itu baru kita rasakan, setelah melaksanakan bulan puasa dengan...

Problem Sampah Tak Pernah Melihat Akarnya

Problem sampah menjadi persoalan yang berlarut-larut hingga kini, jika melihat secara empirik, di mana-mana kita menjumpai sampah yang berceceran. Tidak di jalan, sungai, tetapi...

Covid-19 dan Nafsu Ibu Kota Baru

Sebelum dilantik sebagai Presiden Indonesia untuk periode keduanya, Joko Widodo sudah meyakinkan seluruh elemen masyarakat tentang rencananya memindahkan ibu kota negara (IKN). Segala persiapan...

Scholar-Activist Sebagai Paradigma, Sebuah Refleksi

Peran akademisi di masyarakat selalu menjadi objek yang diperdebatkan. Banyak yang mengkritik Universitas sebagai menara gading dengan ilmu pengetahuan yang bergerak lamban dalam pusaran...
Novianto Topit
Akrap di sapah Novry, Usia 26 Tahun, asli Kota Bitung, Sulawesi Utara, Lulusan IAIN Manado, Fakultas Tarbiyah, Jurusan PAI, Wakil Bendahara DPP IMM.

Hukum dan adil layaknya dua hal yang tidak terpisahkan. Namun, realita menunjukan bahwa dalam beberapa kasus persidangan di Indonesia, justru hukuman yang diberikan kepada terdakwa tidak memperlihatkan adanya keadilan. Katakanlah, kasus penyiraman Novel Baswedan yang sedang hangat diperbincangkan publik belakangan ini.

Cerita panjang penelusuran kasus penyiraman air keras pada Novel Baswedan yang merupakan salah satu penyidik senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), setelah kurang lebih Tiga Tahun Enam Bulan, akhirnya berakhir dengan menuai kritikan. Karenanya, putusan hakim dan dakwaan JPU  (Jaksa Penuntut Umum) dianggap memihak kepada terdakwa.

Novel Baswedan Penghianat?

Pada saat proses sidang, kedua tersangka menyampaikan bahwa alasan mereka melakukan kejahatan tersebuat karena tidak suka dengan Novel Baswedan, dalam pandangan mereka Novel Baswedan adalah penghianat. Pertanyaannya, pada siapa Novel Baswedan berkhianat?

Jika di tarik simpul dari kedua tersangka yang berstatus anggota Polri, dan Novel Baswedan yang merupakan anggota Polri, bisa di ambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksutkan mereka adalah Novel Baswedan berhianat pada Polri.

Dalam biografi Novel Baswedan, kita bisa mengetahui bahwa Novel Baswedan merupakan anggota Polri yang mengundurkan diri demi tugasnya sebagai penyidik di KPK, sekiranya kegiatan itu terjadi pada Tahun 2014.

Selain itu Novel Baswedan juga pernah terlibat penyelidikan dugaan kasus korupsi yang menjerat Djoko Susilo, dan juga Budi Gunawan, yang keduanya merupakan elite Polri. Apakah ini yang dinamakan penghianatan?

Dalam konteks pengabdian kepada Polri mungkin Novel Baswedan bisa dikatakan penghianat, namun dalam konteks pengabdian pada bangsa dan negara Novel Baswedan masih setia mengabdi, berkontribusi, memberikan diri untuk menuntaskan kasus – kasus korupsi di Indonesia.

Meski begitu,  melakukan kejahatan kepada orang lain karena menganggap dia penghianat, atau alasan apapun, bukanlah cara yang dibenarkan di hadapan hukum. Apalagi yang melakukan tindak kejahatan adalah anggota Polri yang merupakan bagian dari penegak hukum di Indonesia.

Lantas, apa perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anggota Polri, bukan suatu penghianatan terhadap isntitusi Polri itu sendiri?

Hukum Indonesia Memiliki Tuan

Saya merasa takjub dengan kehebatan terdakwa kasus penyiraman air keras yang mengakibatkan salah satu mata Novel Baswedan mengalami cacat permanaen ini. Dua orang anggota Polri yang tidak begitu dikenal publik, mampu mendapatkan pertimbangan hukum dengan vonis yang rendah dari Jaksa Penuntut Umum. Luar biasa bukan?

Rahmat dan Rony mungkin juga memiliki keahlian menghilangkan jejak, yang bahkan melebihi teroris sekelas Amrozi. Dalam waktu, kurang dari 1 Bulan, Amrozi bisa langsung ditangkap oleh Polri.

Namun, Rahmat dan Rony bisa mengelabuhi Polri, Komnas HAM, KPK, Akdemisi dan unsur lainnya yang terlibat dalam Tim Gabungan pengungkap kasus Novel Baswedan, yang di bawah tanggung jawab Tito Karnavian.

Sebenarnya dalam proses penyelidikan ini merupakan hal yang wajar terjadi, karena merupakan opsi terakhir dari suatu lembaga untuk menduga anggotanya melakukan tindak pidana. Layaknya, seorang ibu yang pasti enggan menuduh anaknya ketika terjadi kehilangan di rumahnya sendiri.

Namun ketika publik mendapatkan informasi adanya seseorang yang mendapatkan perlakuan kusus oleh JPU dan Hakim dalam putusan pidana, dengan memilih putusan terendah dengan alibi yang kelihatan aneh dan mencurigakan, tentu merupakan suatu kewajaran jika publik menduga ada dalang dibelakang pelaku.

Saya tidak ingin menelusuri lebih dalam tentamg siapa dalang dibalik tindakan kejahatan yang dilakukan Rahmat dan Rony pada Novel Baswedan, atau menduga bahwa Rahmat dan Rony hanyalah tumbal. Namun yang jelas, indikasi ini jelas menunjukan bahwa hukum di Indonesia adalah hukum yang bertuan.

Seakan, ada seseorang yang dengan mudah dan sewenang – wenang mengendalikan jaksa dan hakim dari balik layar. Lihat saja, bagaimana penanganan hukum di Indonesia, memberikan isyarat bahwa orang tertentu dapat dipidanakan dengan mudah dan mengambil dakwaan paling berat, dan ada orang tertentu yang prosesnya lama, dan mengambil dakwaan yang ringan.

Hal lain, yang memperkuat ini, ketika dalam.beberapa kasus oknum yang memiliki peran penting dalam suatu lembaga hukum negara terjerat kasus korupsi atau suap. Semakin jelas bahwa hukum di Indonesia memiliki tuan, iya kan?

Jika ada yang tanya siapa tuan hukum di Indonesia, yang sewenang–wenang mengendalikan hukum dari balik layar, jawaban sederhanya adalah:

Pertama, politisi, pejabat pemerintahan, atau pengusaha yang memiliki pengaruh atau kekuasaan politik dalam menentukan nasib seseorang atau sekelompok orang yang memainkan peran sebagai pimpinan atau anggota lembaga penegak hukum yang ada di Indonesia.

Kedua, politisi, pejabat pemerintahan, atau pengusahan yang mampu berikan uang dengan jumlah uang yang banyak, untuk mempengaruhi dakwaan Jaksa dan putusan hukum Hakim yang menangani kasus yang dimaksut.

Oleh karenanya, belajar dari kasus Novel  Baswedan, merupakan harapan masyarakat Indonesia, bahwa hukum dapat benar–benar ditegakkan dengan seadil – adilnya. Layaknya, proses hukum bertuan pada keadilan, bukan pada tuan – tuan yang hanya mempedulikan keluarga, dan kolega.

Novianto Topit
Akrap di sapah Novry, Usia 26 Tahun, asli Kota Bitung, Sulawesi Utara, Lulusan IAIN Manado, Fakultas Tarbiyah, Jurusan PAI, Wakil Bendahara DPP IMM.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.