Selasa, Maret 2, 2021

Anak Remaja Target Radikalisme

Berlindung di Balik Kriminalisasi Minoritas Seksual

Pernyataan Ketua MPR, Zulkifli Hasan, bahwa ada beberapa faksi di parlemen yang mendukung pernikahan sesama jenis, menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Partai-partai politik sontak...

Rekonstruksi Rekrutmen Hakim

Indonesia secara konstitusional menjujung tinggi konsepsi negara hukum yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945. Hal ini merupakan tombak utama untuk...

Terorisme dan Solidaritas Kemanusiaan

Pasca insiden teror penembakan ugal-ugalan yang dilakukan oleh Brenton Tarrant dan rekan-rekannya, sebanyak 50 korban jiwa tak berdosa melayang saat umat Islam akan menunaikan...

Penguatan Pendidikan Karakter : Masyarakat Berbuat Apa ?

“Dengan lima hari sekolah, ada kesempatan bagi keluarga, termasuk guru, untuk terlibat mendidik anak secara aktif. Peran sekolah menyinergikan keluarga dan masyarakat untuk berperan...
Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI

Keterlibatan kaum muda terlebih anak-anak dalam pusaran ideologi radikalisme dan terorisme keagamaan merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Selalu ada sekelompok anak remaja yang secara aktif terlibat dalam setiap peristiwa kekerasan atau terorisme keagamaan, baik di tanah air maupun di belahan dunia lain.

Memperhatikan kenyataan itu, diperlukan sebuah kebijakan dan program deradikalisasi yang secara spesifik menempatkan anak remaja sebagai target utama, bukan lagi kebijakan biasa yang berlaku umum.

Di Indonesia, sejumlah peristiwa radikalisme dan terorisme selalu melibatkan anak remaja. Sekalipun bukan dalam kapasitas sebagai ideolog atau mentor spiritual, para pelaku aktif selalu didominasi anak remaja. Lihat saja nama-nama di balik serangkaian peristiwa terorisme seperti yang baru saja terjadi di beberapa tempat di Surabaya dan Sidoarjo. Semua peristiwa tersebut digerakkan dan dilakukan oleh satu keluarga termasuk anak-anak.

Keterlibatan kaum muda di balik fenomena ISIS bahkan lebih mencengangkan. Sebagaimana yang dapat kita saksikan kejadian tiga gereja yang menjadi sasaran aksi terorisme yaitu, Gereja Santa maria Tak Bercela Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosa Pusat Surabaya Jalan Arjuna dengan selang 30 menit bom meledak (13/05/2018) dan terjadi kembali pukul 08.50 WIB di Polrestabes Surabaya.

Serangan bom dibeberapa tempat tersebut ternyata adalah satu keluar dan terdapat anak-anak berusia 10 tahun ke bawah yang menjadi pelaku kekerasan dan bom bunuh diri. Artinya, anak-anak telah menjadi korban radikalisasi ideologi keagamaan oleh para orang tua yang seharusnya menjadi penjaga ideologi bagi anak-anaknya.

Kepenganutan kaum muda terhadap ideologi radikalisme merupakan isu yang harus dicermati di tengah bonus demografi yang tengah berlangsung di negeri ini. Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas memperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada 2045 mencapai 321 juta jiwa. Adapun jumlah penduduk dengan usia produktif, diperkirakan mencapai 209 juta jiwa.

Jika ledakan usia angkatan kerja produktif tidak dikelola secara baik, bonus demografi dapat menjadi musibah daripada berkah. Pada gilirannya, ledakan penduduk bisa menimbulkan berbagai bentuk patologi sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, ketimpangan sosial, dan semacamnya. Dalam kondisi semacam ini, paham radikalisme keagamaan rawan menjangkiti para remaja.

Pertanyaannya, mengapa anak remaja? Bagi para tokoh radikal, usia remaja menjadi potential recruit yang mudah dibujuk ’’narasi tipis’’ ideologi radikalisme. Anak remaja adalah segmen usia yang rentan terhadap keterpaparan paham keagamaan radikal. Kebanyakan pakar radikalisme dan terorisme (J.M. Venhaus, 1995: 21) menunjuk pada faktor psikologis-sosial sebagai pemicu keterlibatan anak muda dalam fenomena radikalisme seperti (1) krisis psikologis, (2) identifikasi sosial, (3) pencarian status, dan (4) balas dendam terhadap ’’musuh’’.

Dalam rangka mengantisipasi semakin maraknya keterlibatan remaja dalam pusaran ideologi radikalisme, negara perlu mempertimbangkan hal-hal berikut. Pertama, mendesain materi dan metode deradikalisasi yang relevan dengan karakteristik psikologis para remaja. Harus diakui, program deradikalisasi di negeri ini kurang mengakomodasi metode serta materi yang menggugah, inspiratif, dan relevan dengan kebutuhan psikologis-intelektual remaj. Sebab, target program deradikalisasi selama ini adalah kelompok usia dewasa.

Kedua, perluasan jangkauan program deradikalisasi ke wilayah-wilayah yang selama ini dianggap privat seperti keluarga. Program deradikalisasi oleh BNPT selama ini hanya menyentuh ormas-ormas keagamaan dewasa yang jumlahnya terbatas. Dalam konteks ini, jumlah remaja yang tidak terlibat dalam program deradikalisasi jauh lebih banyak.

Ketiga, mengatasi dislokasi dan deprivasi sosial para remaja melalui program pelibatan sosial (social inclusion). Selama ini, proses kognitif dan psikologis remaja kurang terawasi dengan baik oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka menjadi radikal karena komunikasi sosial mereka dengan orang-orang terdekat terputus. Solusinya, baik anak-anak maupun harus sesering-seringnya diajak berdialog dan berkomunikasi dengan orang dewasa.

Keempat, penanaman wawasan keagamaan yang terintegrasi dengan wawasan kebangsaan. Harus diakui, wawasan keagamaan anak muda selama ini lebih banyak terceraikan dari wawasan kebangsaan. Akibatnya, wawasan keagamaan mereka menjadi kering, harfiah, dan antisosial. Dalam kondisi semacam ini, pemahaman keagamaan bisa menimbulkan loyalitas yang terbelah (split loyalty) di kalangan remaja. Loyalitas terhadap nilai-nilai keagamaan berkorelasi negatif terhadap loyalitas kenegaraan dan kebangsaan.

Kelima, perlu penciptaan role model yang bisa dijadikan rujukan dan panutan dalam kehidupan keagamaan para remaja. Namun, anak-anak remaja kita mengalami krisis keteladanan di kalangan orang dewasa karena kehidupan bangsa ini lebih banyak dijejali figur ’’pendosa’’ yang tidak patut dicontoh. Bagi anak muda kita, menemukan figur orang dewasa yang patut dicontoh ibarat menemukan sebuah jarum di tengah onggokan jerami kering.

Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.