OUR NETWORK

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*)

Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh mana orangtua, guru, dan masyarakat memperlakukan anak-anak dengan layak—baik sebagai generasi yang lebih muda, aset bangsa, bahkan sebagai manusia Indonesia.

Sebagai generasi yang lebih muda dan aset bangsa, anak-anak perlu mendapatkan pendidikan yang baik, yang nanti akan memampukannya untuk melanjutkan kehidupan, baik sebagai individu maupun warga negara. Sebagai manusia Indonesia, anak-anak perlu belajar dari lingkungannya untuk menghargai pluralitas.

Pendidikan Berorientasi Siswa

Yang agak meresahkan dari pendidikan di tanah air beberapa tahun belakangan adalah perubahan kebijakan yang bersifat umum, sekaligus mendadak. “Ganti menteri, ganti kebijakan”—empat kata itu sepertinya sudah menjadi slogan yang sering diucapkan para guru sambil berkeluh-kesah.

Saya masih ingat saat Kurikulum 2013 mulai diberlakukan. Para guru kelabakan. Perubahan kurikulum saat itu meliputi banyak aspek. Salah satu aspek menonjol adalah penilaian terhadap ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa di semua mata pelajaran. Bayangkan saja, guru Matematika yang selama ini banyak mengajarkan rumus—yang notabene adalah pengetahuan—juga perlu menilai sikap siswa.

Sebelum 2013, kegiatan pembelajaran di kelas memang lebih mengedepankan penilaian terhadap pengetahuan saja. Persoalannya, penilaian terhadap sikap dan keterampilan siswa tak semudah yang dibayangkan. Begitu banyak berkas yang perlu disiapkan dan diolah guru agar nilai di tiga ranah itu bisa dipertanggungjawabkan. Dalam menilai sikap dan keterampilan, guru perlu memikirkan instrumen penilaian dan indikator pencapaian agar nilainya representatif, tidak hanya lahir dari sebatas pengamatan yang sangat rawan subjektivitas.

Memang, menilai sikap dan keterampilan siswa penting. Pendidikan memang bertujuan untuk meningkatkan tiga ranah itu. Tapi memberlakukannya di semua mata pelajaran jelaslah membuat beban guru bertambah. Dan kalau guru jadi lebih disibukkan dengan berkas-berkas penilaian, siswa pun menjadi korban.

Karena itu, pemerintah bersama praktisi dan pemerhati pendidikan perlu mengidentifikasi, apa saja persoalan pendidikan yang perlu ditangani dan dibenahi secara parsial, spesifik, temporer, atau bahkan lokal; bukan yang umum, atau mengubah banyak hal secara revolusioner sekaligus mendadak. Contoh perubahan lain—selain kurikulum—yang revolusioner sekaligus mendadak yang baru-baru ini diributkan adalah kebijakan Full Day School (FDS).

Kalau saja FDS di tahun ajaran ini (2017/2018) jadi dilaksanakan, akan sangat banyak sekolah yang tidak siap. Sekolah di kota-kota besar mungkin lebih siap karena fasilitas yang lebih memadai, tapi yang berada di desa dan pedalaman akan banyak yang kerepotan.

Kebijakan apa pun semestinya berangkat dari upaya pemenuhan kebutuhan anak sebagai siswa, bukan semata-mata mengejar ketertinggalan atau sekadar meniru gaya dan praktik dari negara tertentu. Upaya pemenuhan kebutuhan siswa semestinya melahirkan langkah-langkah kecil tapi pasti dan berkelanjutan. Misalnya, pemberdayaan guru—sudahkah selama ini kompetensi guru dioptimalkan lewat berbagai pelatihan atau seminar? Atau, contoh lain, program pengenalan Internet untuk anak—saat teknologi informasi berkembang seperti sekarang, anak perlu bimbingan untuk memanfaatkannya dengan optimal dan tak salah arah.

Program-program seperti itu—yang bersifat parsial, spesifik, temporer, atau bahkan lokal—tampaknya akan lebih berperan signifikan untuk mengembangkan kompetensi anak daripada perubahan-perubahan besar yang terlalu mendadak. Faktanya, kurikulum 2013 sampai sekarang berjalan setengah hati. Tidak sedikit sekolah yang masih menggunakan kurikulum lama, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Tantangan Kebinekaan

William Stern dalam Soetopo (1982) menyatakan bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh hereditas (penurunan sifat genetik dari orangtua) dan lingkungan di mana ia berada. Tampaknya, ke depan, tantangan yang akan dihadapi anak-anak adalah lingkungan sosial yang mempersoalkan kebinekaan.

Gejala masyarakat untuk berkelompok—bahkan tinggal—dengan orang yang seagama tampaknya makin besar akhir-akhir ini. Beberapa waktu lalu, saat mencarikan rumah atau tanah untuk salah satu keluarga saya yang berencana tinggal di Pontianak, saya mendapati ada pengembang properti yang memasang keterangan bahwa perumahannya diagendakan sebagai lingkungan homogen dari penganut agama tertentu. Saya jadi bertanya-tanya, apakah pluralitas menjadi ancaman?

Dalam tulisan Engkau Tidak Sendiri di Dunia Ini, Nak (Detik.com, 27-06-2017), Iqbal Aji Daryono menyampaikan keprihatinannya tentang pluralitas dan kehidupan sosial anaknya. Di tulisan itu ia berencana menyekolahkan anaknya ke sekolah umum suatu hari nanti. Sebabnya, selama ini anaknya hanya mengenal orang-orang muslim, baik di keluarga maupun pergaulan, sehingga Iqbal bertanya “dari mana dia akan paham… bahwa ada banyak orang yang tidak sama dengan dia, bahwa ada sekian juta orang yang tidak percaya dengan apa yang ia percaya?”

Menanamkan pemahaman kebinekaan kepada anak-anak adalah tugas orangtua dan guru. Orangtua dan guru yang menanamkan pemahaman yang keliru tentang orang bersuku, beragama, dan berlatar belakang lain berarti sudah membatasi pilihan anak untuk mengenal orang lain dengan pikirannya, bahkan imajinasinya. Pikiran dan imajinasi anak-anak adalah kegembiraan, permainan, dan daya hidup yang penuh suka cita—dengan siapa pun mereka bergaul. Sayang sekali bila orangtua dan guru menggantikannya dengan jarak, diskriminasi, dan prasangka.

Seorang anak buta, Mohammed, dalam film The Color of Paradise (sutradara Majid Majidi, 1999) dikisahkan menggambarkan tangan neneknya “putih dan lembut”, padahal tangan itu hitam dan berkeriput. Mohammed “melihat” apa yang tak terlihat. Ia sayang kepada neneknya, menggunakan kata “putih dan lembut” untuk menunjukkan kasihnya kepada si nenek, walaupun pada kenyataannya tidak demikian.

Adegan dalam film itu pun menyisakan tanya bagi yang tak buta: apakah mata batinnya kesulitan “melihat” hal-hal yang baik dan indah pada diri orang lain yang terlihat berbeda dengannya, karena terhalang oleh sekat kebencian? Kita pun akan rabun secara sosial, ketika prasangka dan diskriminasi menguasai pemikiran. Di titik inilah tampaknya kita justru perlu kembali (lagi) belajar dari anak-anak.

Semoga anak-anak Indonesia, seperti lagu karya A.T. Mahmud “Aku Anak Indonesia” terus bangga dengan tanah airnya, menyanyi dengan lantang dan gembira:

Ribu pulaunya
Ragam sukunya
Satu jiwa raganya

*) Guru dan penulis lepas

Sidik Nugroho -- menulis fiksi dan nonfiksi, panjang dan pendek, apa saja yang masih dalam jangkauan pengetahuan, minat, dan profesinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…