Kamis, Januari 28, 2021

Alumni Bergerak Hadang Demoralisasi Politik

Menyoal Diskursus Matinya Gerakan Mahasiswa Millenial

Jika anda adalah generasi millenial yang saat ini sedang menyandang status sebagai mahasiswa pastinya sering mendapat atau mendengar pertanyaan seperti  ini, mahasiswa kok tidak...

Fatamorgana Upah Minimum Provinsi

Upah Minimum Provinsi (UMP) 2020 di Jawa Timur (Jatim) akhirnya ditetapkan. Jika dibandingkan dengan tahun ini, nilainya naik 8,51 persen. Kota Surabaya masih menjadi...

Covid-19, Masih Tentang Teori Yuval

Apapun penerapan aturan dalam melawan pandemik, semua bergantung pada sistem pengendalian dan pencegahan penyebaran virus, serta keterbukaan informasi dan pengetahuan dasar kesehatan pada masyarakat...

Satu Kota, Seribu Doa

Do’a selalu menjadi bagian paling intim dari beragama. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, do’a menjadi ritual wajib sebelum memulai aktifitas. Di Manado, ritual “do’a Bersama”...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Kelompok Intelektual menyeruak menampakkan dukungan kepada pasangan Jokowi – Kiai Ma’ruf di Pilpres 2019. Ya, ini adalah wujud tangung jawab moral ancaman demoralisasi politik.

Apa yang dilakukan para alumni perguruan tinggi beberapa kampus negeri ternama di Indonesia adalah sebuah akumulasi keresahaan sosial mereka terhadap situasi politik kekinian. Politik yang tanpa mengedepankan moralitas dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Fitnah, Penyebaran berita bohong,  caci-maki dan ujaran kebencian. Dianggap sebagai sebuah kelayakaan.

Miris,  melihat iklim politik hari ini. Publik dipertontonkan dengan kampanye politik yang jauh dari semangat demokrasi. Tiap hari disajikan hasutan-hasutan yang provokatif. Yang isinya,  mengaduk-aduk heterogenitas tatanan sosial masyakarakat kita.  Perbedaan yang selama ini menjadi kekayaan sistem sosial Indonesia.  Sekarang menjadi ancaman yang menakutkan.  Suatu saat akan berbenturan yang berakibat terjadinya konflik di akar rumput.

Itulah,  yang membuat kaum intelektual merasa terpanggil.  Gerakan mengatasnamakan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Ternama,  berkumpul memberikan dukungan kepada Jokowi – KH. Ma’ruf Amin.  Diawali Alumni Universitas Indonesia yang berkumpul di Parkir Gelora Bung Karno.  Dan dilanjutkan dengan dengan gerakan serupa di kampus-kampus negeri lainnya di daerah.

Ini adalah tangung jawab moral kaum intelektual.  Mereka yang memiliki tingkat pengetahuan dan pendidikan diatas rata-rata, merasa terpanggil dengan kondisi tersebut.  Tentu saja tujuannya ingin menyelamatkan perjalan demokrasi Indonesia dari ancaman perpecahaan.

Kendati,  dalam pandangan kesataraan gerakan Alumni ini terkesan ada dikotomi kelas sosial.  Tapi ini adalah cara yang harus dilakukan guna melawan serbuan politik perpecahaan.  Pesan yang ingin disampaikan para Alumni tersebut sebenarnya sebuah peringatan.  Agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.  Dan tetap mengedapankan moral dalam politik.

Kenapa Harus Jokowi

Dengan kemampuan rasionalitas dan objektifitas akademis.  Para alumni kampus perguruan negeri ini,  menentukan arah dukungannya kepada pasangan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin.  Pasalnya,  Jokowi lebih mengedepankan kampanye lebih dialogis. Menawarkan progam kerja kepada masyarakat. Bukan caci-maki,  fitnah, berita bohong. Semua yang dilakukan Jokowi dalam batas kewajaran kampanye.

Situasi carut-marut saat ini,  tidak lain efek dari strategi politik yang digunakan Prabowo-Sandi.  Politisasi agama,  Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. Semua yang dilakukan mempunyai implikasi negatif dalam pembangunan sumber daya manusia kedepannya.

Politisasi agama,  akan menganggu toleransi antar umat beragama.  Yang selama ini terjalin harmonis di masyarakat.  Politisasi agama hanya menimbulkan fanatisme saja. Persoalan ketuhanaan telah diatur dalam Pancasila.

Lalu,  penyebaraan berita bohong.  Catatan besar penyebaraan berita bohong adalah kasus Ratna Sarumpaet.  Yang mengaku dianiayi tetapi ternyata tidak. Apapun alibinya,  Ratna Sarumpaet adalah bagian dari tim pemenagan Prabowo.  Yang tidak kalah hebob,  kasus 7 kontainer surat suara terjoblos. Kasus ini jelas,  memiliki motif melegitimasi proses pemilu.  Seolah-olah penyelengara pemilu tidak kredibel.  Dan masih banyak lagi perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan pendidikan politik bagi masyarakat.

Ya,  apa yang dilakukan Prabowo-Sandi bukan faktor ketidak sengajaan.  Melainkan sebuah strategi politik yang sedang dimainkan.  Mereka memainkan skenario politik seperti diketahui dibelakang Prabowo adalab Rob Allyn.  Seorang konsultan politik yang disewa Prabowo sejak 2009 lalu.

Dia Warga Negara Amerika Serikat yang lahir 18 Oktober 1959. Profesinya selain konsultan politik juga penulis dan producer film. Orang ini terkenal sebagai Raja Plintir Tingkat Dewa, Master Rekayasa dan JagoanPemutarbalikan Fakta. Kebenaran pun bisa diplintir menjadi suatu kesalahan dengan cara-cara yang keji dan menghalalkan segala cara. Rob Allyn tidak peduli kerusakan yang ditimbulkan akibat ulahnya, dia hanya peduli dengan kemenangan orang yang membayarnya.

Berbagai propaganda hitam, HOAX dan ujaran kebencian setiap saat diproduksi oleh Rob Allyn terus menerus secara masif dan sistematis untuk menyudutkan lawannya. Dan penyebaran dilakukan dengan berbagai cara sehingga sebuah fitnah yang keji dan biadab “seolah-olah” menjadi kebenaran dan dianut oleh kaum pekok yang nalar dan akal sehatnya sudah tertutup kebencian dan kebodohan. http://redaksiindonesia.com/read/rob-allyn-sang-master-rekayasa-konsultan-politik-kubu-lawan-jokowi.html

Alasan inilah,  yang membuat kaum intelektual bergerak.  Mereka melihat demoralisasi politik Indonesia dalam pilpres 2019. Sebagai kaum intelektual,  mereka merasa terpanggil.  Untuk membentengi kontruksi sosial yang penuh toleransi,  kerukunan, gotong-royong ini.  Dukungan kepada Jokowi hanyalah sebagai bentuk kekhawatiran saja.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.