OUR NETWORK

Alasan Kenapa Kita Harus Golput Pada Pemilu 2019

Mawar itu merah, violet itu biru, apa mending pilih putih (golput) sebagai pilihan?

Duduk di pojok teras sambil menyeruput kopi hitam di tangan kiri dan menscroll timeline Geotimes di tangan kanan. Masih memantau kondisi perpolitikan di Indonesia yang semakin lucu ini.

Saling berbalas, mengancam, berdebat, bahkan mencari popularitas instan dapat dilakukan para politisi di twitter. Mengapa kalian masih beradu mulut sedangkan Tuhan menciptakan kedua tangan untuk baku hantam? Hanya bercanda.

Siapa yang tak kenal Presiden Amerika yang sangat kontroversial Donald Trump? Presiden yang diramalkan akan menjadi Presiden di serial TV The Simpson pada 2002 ini terbukti pada pemilu 2016 kemarin, Trump berhasil mengalahkan Hillary Clinton yang mendapat banyak dukungan dan digadang-gadang akan menjadi perempuan No.1 pertama di Amerika tersebut.

Faktanya, terpilihnya orang nomor satu di Amerika yang sempat mempermasalahkan tentang kaum muslim yang berada di negara adidaya tersebut, seperti dilansir oleh bbc.com, menduduki peringkat ke-6 dari 10 peringkat resiko bahaya di dunia, mengalahkan kenaikan harga minyak bumi akibat ambruknya investasi di sektor perminyakan.

Tak sedikit masyarakat Amerika yang sangat menyayangkan terpilihnya Trump menjadi presiden, yang pastinya bukan para pendukung Trump. Ya para pendukungnya sih seneng-seneng aja doi terpilih. Trump yang dikenal kontroversial yang dikeluarkan memang sempat membuat geger dunia dengan segala kebijakannya. Kalo udah gini? Siapa yang harus disalahkan? Para pemilih yang memilih dia, atau yang golput karena tidak memberikan hak suara mereka?

Sebentar lagi, tinggal menghitung bulan, tampuk kekuasaan pemerintahan Indonesia akan berpindah tangan. Kepada orang lama atau orang baru? Entahlah. Masing-masing timses yakin calon yang diusungnya akan memenangkan pesta demokrasi 17 April nanti.

Indonesia, sebenarnya butuh yang seperti apa, sih presidennya? Yang merakyat, yang tegas, yang lemah lembut, yang punya image ‘sangar’, atau yang bagaimana, ya? Semua pilihan itu ada pada tangan teman-teman semua yang sedang membaca tulisan ini.

Pada pemilu mendatang, Kemendagri mencatat bahwa ada sekitar 196,5 juta jiwa yang akan memberikan hak konstitusional mereka. Dari sekian ratus juta pemilih, ternyata menurut Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SRMC), Djayadi Hanon, suara didominasi oleh kaum milenial. Menurutnya, milenial itu pemilih yang berada di rentang usia 17-38 tahun, yaitu sekitar 54 persen. Ngga heran dong, kedua paslon saling beradu gaya ‘milenial’ mereka supaya hati para milenial dapat digenggam.

Dari semua drama perpolitikan di Indonesia yang sangat lucu dan unik, masyarakat kian jenuh dengan alur yang tidak jelas. Sebenarnya, Indonesia ini mau dibawa kemana? Kejenuhan menjelang pemilu 2019 ini ditunjukan salah satunya oleh kemunculan pasangan calon nomor urut 10, Nurhadi – Aldo.

Mungkin emang cuman buat lucu-lucuan ajasih, tapi kemunculan pasangan virtual ini bukan tanpa sebab kok. Sebagimana masyarakat menilai kemunculan mereka ini sebagai bentuk ‘tamparan’ dan ketidakpercayaan akan kondisi perpolitikan jelang pemilu saat ini yang membuat sebagian orang enggan peduli dengan pemilu.

Kalo masyarakat udah dibuat jenuh kaya gini nih, ngga bisa dipungkiri angka mereka yang ingin golput semakin bertambah. Menilik sejarahnya, Indonesia pernah mencapai angka 29,3 persen peserta yang memilih golput pada pemilu 2009. Sebenernya apa sih alasan orang-orang buat golput?

Beberapa kejadian saat datang ke TPS lalu membuka surat suara, banyak dari kita yang sama sekali enggak tau siapa mba dan masnya ini siapa (untuk caleg). Siapasih mereka? Mana muka yang kira-kira ngga akan korupsi ya? Ah, pilih yang paling ganteng ajadeh. Huft. Kalau masyarakatnya aja gatau siapa yang bakal mewakili suara mereka, gimana mereka bisa percaya? Bisa dibilang hal ini disebabkan oleh dua hal. Para caleg yang tidak gencar mengampanyekan diri atau masyarakat yang kurang kritis mencari informasi mengenai calon-calon ini.

Selain tidak mengenali calon, masyarakat yang masih mempunyai stigma buruk tentang partai politik tertentu dan cenderung menyamaratakan bahwa semua partai dan kader-kadernya itu pasti korupsi. Jadi, siapapun yang mereka pilih, mereka merasa bahwa pada akhirnya korupsi tidak akan terelakkan.

Nah, setelah mempunyai stigma yang cenderung menyamaratakan bahwa setiap partai dan kadernya itu korupsi, akan berlanjut pada pemikiran bahwa, siapapun yang mereka pilih itu tidak akan mengubah apapun. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa “ah kalo gue ngga milih siapapun toh ngga ada pengaruh apapun”. Kalo satu, coba kalo yang punya pemikiran kaya gini ada ratusan di setiap kota?

Berkaca pada kemenangan Trump pemilu sebelumnya, bahwa menurut satumedia.net menyatakan kemenangan Trump atas Clinton karena jumlah golput di Amerika pada saat itu sebesar 43,2 persen. Dari 231.556.622 juta pemilih, jumlah partisipasinya adalah 131.741.000 yang berarti ada 99.815.622 orang yang tidak menentukan pilihannya. Padahal, 99 juta suara dapat mengubah suatu hasil dan tujuan dan masa depan. Bahkan, hasil voting 50:50 tidak akan menghasilkan sesuatu jika tidak ditentukan oleh satu suara terakhir.

Dari kasus diatas mungkin bukan faktor utama kasus tersebut. Tapi, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa golput bukan solusinya. Memilih dalam pemilu itu merupakan hak konstitusional setiap orang. Menggunakan hak suara ataupun golput, pemimpin akan tetap terpilih. Kalau begitu kenapa tidak kita gunakan hak suara kita untuk menentukan nasib Indonesia kedepannya?

Pemilih milenial diprediksi akan mencapai angka 54 persen. Wah, saya tidak setuju dan tidak mau jika para milenial hanya dijadikan objek penambahan suara tanpa mengetahui siapa yang mereka pilih dan apa value para aktor politik sehingga layak untuk dipilih?

Tidak memberikan hak suara tidak akan membuat hutang Indonesia menjadi 0 atau menghapuskan kemiskinan di bumi ibu pertiwi. Justru, kosongnya surat suara akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan suatu kecurangan. Dengan memberikan satu suara kita, setidaknya kita telah berkontribusi dalam pesta demokrasi di Indonesia nanti. Dan untuk masalah korupsi ngga korupsi, yah kita berdoa aja kepada Tuhan semoga para aktor yang lucu-lucu ini dapat melaksanakan amanat yang telah diberikan kepada rakyat.

Satu pesan terakhir untuk yang enggan berpolitik karena menganggap politik itu kotor, sampai kapan pun politik ngga akan jadi bersih kalau bukan kita, generasi muda yang berani mengubah itu semua menjadi bersih. Jadi, ayo gunakan hak suaramu dengan bijak!

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…