Senin, April 12, 2021

Al-Quran As A Discourse

Post-Era of Natural Resources Development in East Kalimantan

Written by Muhammad Dudi Hari Saputra MA., The Lecturer at the University of Kutai Kartanegara.In 2014, East Kalimantan province ranks as the fifth largest...

Upah Minimum Regional (UMR), Tidak Berlaku Lagi

Akhir pekan ini upah minimum regional jogja menjadi trending topik di twitter. Banyak cuitan-cuitan dengan tagar #UMRJogja. Padahal sejak terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja...

Mari Cerita Secangkir Kopi…

Minum kopi menjadi budaya yang tak terbantahkan, tua-muda, laki-perempuan, kaya-miskin, semuanya mempunyai hak yang sama untuk menikmati kopi. Dari kopi sachet di warung seharga...

Ke Mana Muara SK Pembubaran HTI

Pemerintah melalui Menkumham telah resmi membubarkan HTI sebagai salah satu ormas yang dinggap mengancam keutuhan NKRI, Keutuhan NKRI menjadi salah satu pilar dalam kehidupan...
Ihsan Nursidik
Mahasiswa Ushuluddin

Al-Quran menyimpan konsekuensi untuk di telaah sebagai produk keilmuan. Apakah sembrono bila Al-Quran kita anggap sebagai satu tatanan wacana yang mungkin ditelaah dan dikonstruksi sebagai sebuah produk keilmuan. Perlakuan ini kiranya banyak disalah artikan, dengan sikap yang men-desakralisasi Al-Quran. Namun perlu ditinjau ulang sikap penolakan realitas Al-Quran sebagai sebuah wacana ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Quran didekati sebagai satu epistemik keilmuan yang kaya.

Alih-alih sebuah desakralisasi Al-Quran, hemat penulis, sikap penolakan Al-Quran sebagai tatanan nilai yang mengandung keterangan teoritis yang kaya, justru mempersempit kesempatan Al-Quran membuka dirinya lebih luas. Upaya ini mencoba memberi pandangan atas sikap seseorang dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Penempatan Al-Quran sebagai kitab yang kaya akan hikmah jadi satu penghormatan lebih serta sikap yang menunjukan pengakuan keagungannya.

Al-Quran harus dibaca sebagai realitasnya dalam dimensi yang memungkinkan darinya tercipta diskursus. Meminjam istilah Muhammad Arkoun dalam mengenalkan kemungkinan konstruksi keilmuan melalui pesan-pesan ketuhanan, Arkoun mengasumsikan keharusan atas realitas Al-Quran sebagai diskursus (Al-Quran as a Discourse). (Arkoun, 1994: 36)

Pembacaan Al-Quran sebagai discourse ini memberi konsekuensi-konsekuensi logis atas keharusan Al-Quran dibaca dalam konteks modernitas. Saat tagline keilmuan dewasa ini diliputi multidimensi yang saling terkait satu sama lain, maka Al-Quran pun akan mampu di baca dalam kualitasnya sebagai disiplin yang mampu dikaitkan satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam dewasa ini begitu gencarnya berdialog dengan Al-Quran. Diantara dialog-dialog inilah Al-Quran sebagai bagian dari alternatif wacana yang menghidupkan disiplin-disiplin keilmuan tersebut . Telah begitu lama kiblat keilmuan tersentral di barat atau western-center menjadi konsentrasi pandangan dunia selama hampir 5 abad lamanya.

Namun setelah memasuki babak baru, meliputi progresifitas keilmuan yang semakin luas, keberanian para sarjanawan muslim belajar dari barat, kini giat untuk melangkahi sejarah baru di dunia muslim mulai terbuka. Para sarjanawan muslim kian membuka kunci Al-Quran yang telah lama tertutup. Dimulai dari Mesir dengan penggerak utamanya Muhammad Abduh, Jalalludin Al-Afgahi serta Rasyid Ridha-lah ketakutan dan dogma akan sakralitas yang membelenggu umat muslim sedikit demi sedikit terbelalak.

Melalui tradisi intelektual inilah umat muslim membuka kotak pandora-nya. Menyingkirkan dogma aus yang menghentikan laju ijtihad serta menggerakkan kembali spirit iqra yang lama tertimbun oleh fanatisme buta dan dogma salah kaprah.

 Pewacanaan Al-Quran

Butuh kesedian yang matang dalam menerima Al-Quran sebagai diskursus pewacanaan. Sebab jika tidak diterima dengan sepenuhnya, maka usaha ijtihad ini akan kembali pada penuturan dogma belaka. Perlu keterbukaan, kelewogooan dan keikhlasan membincangkan Al-Quran sebagai keharusannya menjadi wacana yang mampu dikritisi dan dibantah argumennya– interpretasi dari Al-Quran.

Oleh sebab itu, perlu pendasaran yang lebih memadai dalam memposisikan Al-Quran ini sebagai wahyu sekaligus kitab undang-undang Tuhan mengenai realitas. Memposisikan Al-Quran pada posisi ini sebagai Undang-undang yang meliputi hukum semata. Serta menelusuri rangkaian penjelasan logis dari setiap achievement bersamaan dengan punishment bagi setiap tindakan yang dilakukan manusia.

Ada sebuah diktat yang diterangkan oleh Arkoun mengenai Islam dalam sebuah pergumulan wacana. Menurut dia peran ortodoksi sangatlah penting dalam pemikiran Islam. Sebab konstruksi wacana Islam dibangun oleh sejarah dan tatanan imaginer yang berdasar pada ortodoksi dalam Islam, yaitu Al-Quran dan Sunnah. (Schonberger, 2010: 8)

Arkoun menambahkan keterangan tentang pentingnya pendekatan deskontruksi dalam menelisik basis ortodoksi melalui keterangan historis dalam kaitannya dengan wacana Islam (Weltanshaung), Arkoun berkata :

“For centuries religions have dominated the construction of different, intricate Weltanschauungen [world views] through which all realities were perceived, judged, classified, accepted, and rejected without the possibility of looking back at the mental-historical process which led to each Weltanschauung [world view]. The strategy of deconstruction is possible only with modern critical epistemology.” (Arkoun,1998: 207)

Maka dalam mengimplementasikan strategi deskontruksi ini, Arkoun menjelaskan tentang pentingnya mengkonstruksi makna imaginaire Menurutnya persepsi dominan yang dimiliki masyarakat itu merupakan kombinasi dari image (sifatnya objektif) dan imagination (subjektif).  Maka pada keterangan tersebut, Arkoun membagi imaginaire kedalam tiga pembagian. Pertama, imaginaire religius yaitu ortodoksi yang meliputi perihal keyakinan-keyakinan pasti yang tidak bisa dirubah. Kedua, imaginaire sosial yaitu ortodoksi dari hasil kombinasi idea dengan habitus yang membentuk identitas. Ketiga, imajinaire personal yaitu usaha menghasilkan interpretasi realitas.

Keterangan Arkoun ini telah membuka satu penjelasan mengenai kemungkinan Al-Quran untuk dilibatkan dalam interaksinya sebagai discourse. Strategi deskontruksi yang dilakukan Arkoun ini merupakan upaya rethingking atas dominasi wordview yang menempatkan Al-Quran pada pensucian teks, atau istilah Abdul Mustaqim sebagai ma’bud ala nash. Sehingga telah menaruh satu pengharaman yang halus atas cara-cara yang menempatkan Al-Quran diluar kesucian yang telah dimaksud.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Disebabkan oleh tertutupnya fungsi teoritis (hati dan akal) dalam tubuh manusialah, maka pesan Al-Quran tidak mampu dilihat secara keseluruhan. Kalangan muslim dewasa ini disibukkan oleh kapling-kapling yang memagari keluasan dari al-Quran itu sendiri. Sehingga yang tersisa hanyalah fanatisme.

Waallahu ‘Alamu bin Shawab

Ihsan Nursidik
Mahasiswa Ushuluddin
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.