OUR NETWORK

Aku Cantik Maka Aku Ada?

Rasanya, mata-mata itu merundung karena berjerawat. Jerawat itu bagaikan aib yang terpampang nyata di wajahnya. Akhirnya, ia pun mencoba beragam perawatan. Sayangnya, keadaan makin memburuk. Dompet semakin dalam terkeruk. Ia tambah terpuruk.
Empat remaja Manggarai (NTT) tampak cantik dalam balutan busana adat.

“Kamu itu emang nggak cantik sih, tapi setidaknya kamu bisa melakukan….”

Selama 23 tahun saya hidup, kalimat senada di atas sudah sering hinggap di telinga. Jika dicermati dari struktur kalimatnya, ia bisa disebut kalimat majemuk. Kata “tapi” dan “cuma” digunakan untuk menunjukkan gagasan yang kontras dengan kalimat sebelumnya.

Umumnya kalimat yang dimulai dengan dua kata itu akan berisi kata-kata positif seperti pintar, dewasa, baik, dan sebagainya. Tapi terus terang saja, kata-kata positif yang diletakkan di kalimat kedua seketika menguap di udara akibat kalimat pertamanya (yang merupakan ide pokok). Bagi saya pribadi, ketika kalimat pertama itu menghampiri telinga ini, ia serta-merta memecahkan gendangnya, dan membuat saya tak mampu mendengarkan kalimat berikutnya.

Saya bukanlah satu-satunya wanita di dunia ini yang pernah mendapatkan kalimat tersebut. Dua rekan kerja saya juga pernah mengalaminya. Meski kalimat yang mereka dapatkan tidak segamblang dan setajam yang saya dapatkan, tetapi cukup membuat mereka stress. Salah satunya mengaku pernah ditolak oleh seorang murid privat hanya karena ia jerawatan. Murid itu berkata bahwa ia tidak mau diajari oleh guru yang jerawatan.

Alhasil, setiap bulan, ia mengaku menghabiskan uang hampir 500K untuk mengobatinya. Belum lagi cerita teman saya yang lain. Ia mengaku sering tidak percaya diri karena jerawat yang tanpa rasa bersalah menghinggapi wajah mulusnya. Setiap berdiri di depan kelas, ia merasa tertekan dengan seluruh mata yang memandang.

Jerawat

Rasanya, mata-mata itu merundung karena berjerawat. Jerawat itu bagaikan aib yang terpampang nyata di wajahnya. Akhirnya, ia pun mencoba beragam perawatan. Sayangnya, keadaan makin memburuk. Dompet semakin dalam terkeruk. Ia tambah terpuruk.

Ketika saya bertanya, mengapa mereka rela menginvestasikan banyak uang untuk melakukan hal tersebut, jawaban mereka senada, yakni “Agar terlihat cantik dan sehat, karena bagiku jerawat itu penyakit yang harus disembuhkan”.  Saya semakin mengejar mereka dengan pertanyaan “Mengapa ingin menjadi cantik?”

Jawabannya luar biasa, “Biar dapat jodoh, biar dapat kerja yang bagus, biar tidak dikucilkan orang lain. Itu naluri semua wanita.” Jika dicermati lebih jauh, jawaban ini sungguh menyimpan makna yang mendalam. Nampak terjadi persekongkolan antara keberuntungan dan wanita cantik. Seakan hanya yang cantik yang bisa dapat jodoh. Seakan posisi dan pekerjaan yang bagus hanya untuk wanita cantik. Seakan keberadaan seorang wanita hanya akan diperhitungkan jika ia cantik.

Cantik

Memangnya cantik itu apa? Citra berkata putih itu cantik. Veet berkata cantik itu kulit mulus bebas bulu’. Hi-lo dan WRP sama-sama sepakat mendefinisikan bahwa cantik itu ‘tumbuhnya ke atas, bukan ke samping dan langsing. Wardah pecaya bahwa cantik itu harus memakai produk yang ‘halal’, dengan kata lain, harus syar’i.

Nah, untungnya Clean and Clear memberikan warna cantik yang berbeda, tidak harus putih tetapi memancarkan warna alami kulitmu. Definisi menurut Fair and Lovely lebih bijaksana lagi, cantik itu dewasa menentukan pilihan, antara nikah atau S2.’

Sadarkah anda bahwa selama ini kita diperdaya oleh iklan produk kecantikan di TV? Semua produk itu mendikte kita untuk mencapai standar kecantikan secara fisik. Hal ini tentu bisa dipahami, mengingat tujuan iklan untuk keuntungan komersial. Munculah persepsi kalau cantik itu harus putih, langsing, tinggi, tangan dan kaki mulus tanpa bulu, tidak ada flek hitam dan bekas jerawat. Iklan itu dengan kejamnya membius otak kita, menautkan tali belati di leher kita, menyeret kita membeli produknya, tak peduli setinggi apa harganya dan apa efek sampingnya.

Dinukil dari kompas.com, sebuah lembaga riset kecantikan menyatakan bahwa pada Mei 2017 lalu, dilakukan riset terhadap 1200 orang tentang definisi kecantikan dalam ranah brain, beauty, dan behavior.  Hasilnya, lebih dari 40% mendefinisikan cantik itu dalam ranah beauty (kondisi fisik). 14,8% yang mendefinisikan cantik yang dilihat dari sudut pandang behavior (prilaku dan kepribadian yang menarik). 9,5% menyatakan bahwa seseorang bisa disebut cantik jika ia ramah.

Hanya 6,1% yang menyatakan cantik dari brain, yakni yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Hasil survei ini tentu masuk akal, mengingat kesan pertama memang tertuju pada fisik, sehingga untuk mendapat kesan ‘cantik’, orang akan menilai dari fisik. Setelah mengenal lebih jauh, barulah terlihat bagaimana kepribadian dan kemampuan intelektualnya. Jadi, kembali lagi, perbincangan tentang cantik secara umum pasti tentang fisik.

Sebagai sesama wanita, terkadang saya juga melabeli wanita A itu cantik dan B kurang cantik. Standar penilaian kecantikan yang saya anut tidak terlalu rigid. Bisa saja berubah-ubah seperti arah angin. Putih tidak selalu cantik. Pesek tidak selalu tidak cantik. Gemuk tidak selalu jelek. Tangan berbulu (asal masih wajar) tidak selalu buruk. Standar kecantikan yang disuntikkan oleh iklan tidak selalu benar.

Lantas, bukankah sangat kejam untuk bersikap tidak adil terhadap wanita hanya karena fisiknya tidak sesuai standar kecantikan yang digaungkan iklan? Bukankah sangat tidak manusiawi untuk memangkas kesempatan yang seharusnya bisa didapatkannya hanya karena dia dianggap kurang cantik? Bukankah terlalu jahat untuk mendiskriminasi wanita hanya karena ia dianggap tidak cantik dan berjerawat?

Bayangkan, betapa banyak wanita potensial yang dilepaskan sebuah perusahaan hanya karena ia kurang cantik? Betapa banyak wanita jujur dan penuh integritas yang digugurkan hanya karena ia kurang cantik? Apakah keadilan hanya untuk wanita cantik? Apakah kesempatan emas hanya untuk wanita cantik?

Wanita akan terlihat cantik saat ia percaya diri. Ia merasa nyaman saat memakai sesuatu serta tidak memaksa diri melakukan hal yang tidak disukai. Semuanya berjalan secara alami dan tidak dibuat-buat. Jadi, standar cantik itu tidak melulu perihal pemakaian krim, sabun wajah dan make up. Jangan sampai terlena mempercantik fisik tetapi lupa mempercantik yang ada di dalam (brain and behavior).

Percayalah, tidak ada orang yang membenci wanita cerdas yang akhlaknya baik, tutur katanya santun, dan sikapnya sopan. Meski fisikmu dianggap kurang cantik (apalagi kalau dari sononya sudah cantik), kedua aspek itu akan memancarkan aura kecantikan yang tak kalah bersinarnya.

Orang bilang Beauty is Pain. Eka Kurniawan bilang Cantik Itu Luka, teman saya bilang menjadi cantik itu naluri semua wanita. Semua wanita berhak dipredikati cantik. Mereka juga punya hak yang sama untuk mempercantik diri. Jadi, sah-sah saja mengeluarkan uang untuk merawat diri dan membeli make up.

Semuanya boleh, asal tidak berlebihan dan dipaksakan. Jika anda percaya cantik itu naluri, jangan pernah jadikan ia obsesi, yang akhirnya menyiksa diri anda sendiri. Merawat diri adalah sebuah keharusan. Itu bentuk perwujudan syukur atas nikmat Tuhan.

Saya yakin, tidak semua pria menyukai wanita yang memakai make up, tetapi saya berani bertaruh, semua pria pasti suka wanita yang cantik. Karena cantik itu relatif, maka tak perlu memaksa diri untuk menggapai standar yang digaungkan iklan. Ikuti saja naluri anda. Biar ia menuntun anda menuju kecantikan yang hakiki.

Husnul Athiya merupakan alumni UIN Antasari Banjarmasin. Gadis kelahiran 21 Oktober 1994 ini sekarang sedang melanjutkan study pascasarjana di UGM jurusan Ilmu Linguistik. Gemar menulis essay dalam berbagai topik. Pecinta hujan dan aroma buku baru, Bisa ditemui di instagram @yaya_athiya

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.