Kamis, Januari 21, 2021

Aktivis atau Ratu Dramaturgi?

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Tumbangnya Politik Emak-Emak di Pilpres 2019

Emak-emak menjadi idola baru di panggung politik kita dewasa ini. Ia yang selama ini nyaris tidak pernah diperhitungkan dalam konstelasi perpolitikan kita, kini ia...

Dalil Eksistensialisme Sartre untuk Islam Jabariyah

Agama Islam dalam perkembangannya banyak ditafsirkan sesuai dengan pikiran dan pemahaman para pemeluknya. Apalagi pasca meninggalnya Rasul, interpretasi baru dalam memahami Islam pun bermunculan...

Respon Otak terhadap Komunikasi Publik Pemerintah

Beberapa hari belakangan ramai diberitakan pemblokiran Telegram oleh Pemerintah Indonesia. Selain Whatsapp, Telegram memang merupakan salah satu pilihan utama oleh kebanyakan masyarakat Indonesia untuk...
Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

Indonesia merupakan Negara yang dipenuhi oleh beberapa aktivis yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Negara yang menganut sistem politik demokrasi, kehadiran seorang aktivis tentunya merupakan sebuah oase yang benar-benar bisa menyembuhkan kehausan intelektual yang berada di masyarakat.

Aktivis merupakan salah satu komunikator politik yang selalu menjadi delegasi masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah yang berasal dari jeritan rakyat kecil, sehingga perannya pun tidak dapat diremehkan.

Menjadi seorang aktivis memang tidak semudah mengedipkan mata, aktivis selalu dihadapi oleh persoalan-persoalan status quo yang tak pernah usai, aktivis selalu diklaim sebagai kumpulan orang yang beraliran kiri, dan anti pemerintahan. Begitu pun dengan saat ini, menjadi seorang aktivis tentunya tidak hanya menguasai satu bidang saja. Pada saat ini seorang aktivis harus dibekali rasionalitas dan kemampuan analisis yang mendalam untuk melihat situasi seperti apa yang dapat mendehumanisasi masyarakat.

Aktivis pada saat ini harus mempunyai kemampuan polimorfik (serba bisa) yang sangat baik. Karena semakin berkembangnya zaman, maka pembodohan publik pun semakin berbeda bentuknya.

Misalnya pada saat sebelum merdeka, kita dihadapi oleh pemerintahan yang sangat diktator, sehingga kediktatoran tersebut dapat di identifikasi sebagai kekerasan fisik yang sangat kejam. Tetapi pada saat ini bentuk kediktatoran bukan hanya dari segi kekerasan fisik saja, tetapi bentuk kediktatoran bisa merambah ke dalam informasi yang seringkali dimanipulasi sangat begitu hebat, sehingga sangat sulit untuk menemukan mana yang benar dan mana yang salah.

Misalnya saja pada saat ini, masyarakat seringkali di bohongi oleh Opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) yang juga sering diklaim sebagai keberhasilan suatu kepemimpinan, padahal hakikatnya Opini WTP merupakan sebuah kesalahan kepemimpinan. Begitu pun dengan data-data statistik yang awalnya dikira benar dan objektif, padahal data tersebut sangat politis sekali, sehingga fakta yang ada di dalamnya bisa diubah tanpa diketahui oleh masyarakat luas.

Jadi memahami situasi pada saat ini, tidak semudah memahami situasi politik saat orde baru, atau orde lama. Ketika reformasi telah berjalan selama bertahun-tahun, pembodohan publik pun semakin kompleks.

Bahkan terkadang seorang atkivis pun bisa saja membelok untuk melakukan hal yang juga membodohi masyarakat. Lebih nahasnya lagi, pada saat ini juga masyarakat bukan hanya dibodohi oleh para oknum politisi ataupun oknum pemerintahan, tetapi juga masyarakat seringkali dibodohi oleh oknum aktivis yang selalu mengatasnamakan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) dan oknum aktivis yang selalu menari dalam pentas yang bernama dramaturgi.

Fenomena Dramaturgi di Era Milenial

Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul “The Presentational of Self in everyday Life” pertama kali memperkenalkan konsep dramaturgi. Menurut Goffman, perilaku orang dalam interaksi sosial selalu melakukan permainan informasi, agar orang lain mempunyai kesan yang lebih baik.

Sehingga penting untuk menganalisis perilaku non verbal yang ditampilkan, mengingat kebenaran informasi lebih banyak terletak pada perilaku non verbal. Goffman berpendapat bahwa perilaku yang umum ditampilkan oleh individu merupakan perilaku yang diatur oleh kehidupan sosial (Engkus Kuswarno, 2011: 24).

Fenomena dramaturgi di era milenial ini sangat begitu digandrungi oleh para politisi. Tak pelak jika hingga saat ini, semua politisi saling berdesak-desakan untuk berebut hati kaum milenial. Dramaturgi merupakan cara politisi untuk berupaya menciptakan persepsi positif di mata publik, sehingga publik pun semakin melupakan hal-hal negatif yang berada di dalam diri politisi tersebut.

Strategi komunikasi yang di tularkan oleh para politisi juga menjadi sangat penting untuk memengaruhi pemikiran kaum milenial, sehingga para kaum milenial juga mempunyai peluang yang besar untuk memilih politisi yang selalu melakukan pentas dramaturgi tersebut. Tidak kalah dengan para politisi, aktivis yang berada di Indonesia pun selalu mengikuti trend dramaturgi yang semakin menjamur. Sehingga hal itu menjadi strategi untuk membodohi masyarakat, bukan mencerdaskan masyarakat.

Aktivis tersebut bernama Ratna Sarumpaet, dengan bermodal wajah yang dipenuhi dengan bekas operasi plastik yang gagal, Ratna mengaku bahwa ia telah mengalami pemukulan pada wajahnya, beberapa politisi seperti Prabowo, Amien Rais, Rachel Maryam dan para jurnalis pun sempat menjadi korban hoax dari Ratna, sehingga dramaturgi yang diciptakan oleh Ratna Sarumpaet berhasil memukau masyarakat Indonesia. Tetapi sangat disayangkan, akhirnya kebohongan yang dilakukan oleh Ratna terkuak begitu saja. Ratna Sarumpaet pun mengakui bahwa dirinya adalah penyebar hoaks terbaik, sehingga pada akhirnya Prabowo pun memecat Ratna dari tim suksesnya, dan akhirnya Ratna pun menjadi tersangka.

Sangat disayangkan memang jika seorang yang mengaku dirinya aktivis, tetapi pada akhirnya dia menjadi penyebar hoax terbaik di Negara yang sedang ramai dengan perang adu tagar di media sosial maupun di dunia nyata ini. Bukannya mencerdaskan bangsa, tetapi justru menyebarkan berita yang tidak benar.

Oleh karenanya, Ratna Sarumpaet bukan lagi seorang aktivis yang bisa membantu untuk membuat masyarakat menjadi cerdas, tetapi Ratna Sarumpaet sangat pantas diberikan gelar sebagai “Ratu Dramaturgi”.

Maka dari itu, memahami situasi politik saat ini bukan hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin, politisi, ataupun para aktivis. Masyarakat juga harus mempunyai inisiatif untuk melindungi diri dari pembodohan publik yang semakin rumit, dan semakin sulit untuk menemukan bentuknya. Jika para pemimpin, politisi, dan para aktivis sibuk bermain dalam pentas dramaturginya, maka masyarakat harus sibuk juga untuk berpikir secara proaktif ataupun mengkritisi dramaturgi yang seringkali dimainkan oleh orang-orang yang selalu menyebarkan kebodohan.

DAFTAR PUSTAKA
Kuswarno, Engkus. 2011. Etnografi Komunikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.

Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.