Minggu, Februari 28, 2021

Aksi Teror Makin Akut, Trust Kepada Pemerintah Harus Dikuatkan

Demokrasi Kambing Hitam

Dua puluh tahun lalu gebrakan besar menerpa Indonesia, kala rezim orde baru Soeharto terjungkal dengan demonstrasi besar besaran di istana negara. Hingga disambut lahirnya...

Inkonsistensi Larangan Mudik

Kejadian timbulnya antrean panjang terjadi di Terminal 2 Bandara Udara Soekarno-Hatta buntut dari pelonggaran kebijakan larangan mudik. Antrean diisi oleh banyaknya orang yang sudah...

Menyingkap Misteri dalam Agama

Mahfud MD, yang kini mendapat amanah sebagai Menkopolhukam (Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum & Keamanan), sekali waktu pernah mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara agama...

Data Statistik di Tengah Hiruk Pikuk Tahun Politik

Tahun politik sudah datang. Hiruk pikuk persiapannya mulai lalu lalang di setiap lini kehidupan. Televisi, koran, kanal berita online, bahkan baliho-baliho di pinggir jalan mulai...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Belakangan ini aksi teror semakin merajalela. Atau bisa dikatakan semakin akut. Hal ini sungguh memprihatinkan sekaligus meresahkan masyarakat. Kareana dengan adanya sederet peristiwa ini otomatis akan menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat.

Masyarakat akan takut untuk berkegiatan, bekerja, beraktivitas sehari-hari, dan terutama bepergian ke tempat yang ramai. Seperti mall, pasar, tempat pariwisata, dan terutama tempat ibadah dimana belakangan ini adalah sasaran utama para teroris untuk melancarkan aksinya.

Di belakang itu, kalau tidak segera di tuntaskan, tentunya akan menimbulkan dampak-dampak lainnya. Pihak internasional akan melarang warganya melancong ke Indonesia. Hingga akhirnya perekonomian akan melambat.

Transaksi yang dilakukan masyarakat Indonesia sendiri akan menurun, lalu dengan berkurangnya pelancong yang datang ke Indonesia obyek pariwisata akan makin sepi, dan tentu akan menghalangi masuknya uang ke dalam negeri. Dan banyak lagi dampak yang terjadi dalam aspek-aspek lain.

Dengan perhitungan kerugian yang akan diterima oleh Indonesia, tiada lain pemerintah harus segera bertindak tegas dengan para terduga maupun yang sudah pasti teroris beserta sel jaringan yang ada di seluruh Indonesia.

Semua yang Dilakukan Pemerintah Dianggap Salah

Namun jadi persoalan ketika belakangan ini sedang menjadi tren apapun yang dilakukan pemerintah semua salah! Apakah dalam kondisi genting ini, tren seperti ini masih akan berlanjut? Kalau iya, tentu secara psikologis akan menghambat pemerintah untuk menuntaskan aksi radikalis ini.

Dan yang benar saja, pasca pengeboman yang dilakukan oleh teroris di Surabaya, politisi senayan yang juga Wakil Ketua DPR yang gemar menyalahkan Pemerintah Fadli Zon justru mengkambing hitamkan Pemerintah. Bagi saya dalam kondisi seperti ini tidak etis melontarkan komentar yang tendensius seperti itu. Berikut cuitan Fadli di akun twitternya yang saya kutip dari news.detik.com (14/05).

“Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata,” cuit Fadli.

Seharusnya masyarakat bersatu-padu mendukung Pemerintah untuk memberantas teroris sampai ke akar-akarnya. Bukan malah memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan politik yang sangat tendensius.

Trust Kepada Pemerintah

Praktisi Pendidikan lulusan S2 Universitas Negeri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Mukhrodi, M.Pd, mengatakan bahwa trust kepada Pemerintah sangat penting. Karena kalau dis trust kepada Pemerintah menjadi tren, bisa berujung pada dis integrasi bangsa.

Trust kepada Pemerintah sangat penting, apalagi ketika Indonesia dalam di bawah ancaman terorisme seperti sekarang ini. Karena dis trust yang tak terkendali akan berdampak pada dis abilion, dan setelah itu dampak yang terbesar adalah dis integrasi bangsa”, tuturnya dalam diskusi di warung kopi Lembayung Yogyakarta.

Mukhrodi juga menuturkan bahwa Pemerintah harus segera memutus sel-sel teroris di daerah sejak dini, jangan sampai kecolongan dan deretan pengeboman terus terjadi. Karena hal itu adalah diantara cara paling efektif untuk mengatasi kondisi yang makin parah ini.

Memang benar tindakan radikal berawal dari pengaruh ideologi. Namun katakanlah misalnya urusan ini kita kembalikan pada lembaga pendidikan, tak akan serta merta menyelesaikan persoalan.

Lembaga pendidikan sebagai wahana pendidikan, yang salah satunya punya tugas mendidik menwahana pendidikang counter ideologi ekstremis adalah langkah yang bersifat jangka panjang. Hal itu sangat penting, namun untuk segera menyelesaikan persoalan yang genting ini tidaklah tepat untuk berbcara bagaimana peran lembaga pendidikan.

Yang harus dilakukan saat ini adalah Pemerintah dan semua lapisan masyarakat bersatu memerangi terorisme ini. Jangan ada distrust kepada pemerintah, apalagi memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan politik praktis.

Dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, secara psikologis Pemerintah akan lebih bisa melakukan langkah-langkah persuasif, memutus dan memberantas sel-sel teroris yang ada di seluruh daerah di Negeri ini.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.