Minggu, November 1, 2020

Aksi Teror Makin Akut, Trust Kepada Pemerintah Harus Dikuatkan

UU MD3 dan Tantangan Demokrasi

"Dengan demikian, masalah pokok yang kita hadapi adalah bagaimana membatasi para pemegang kekuasaan, baik waktu maupun wewenangnya. Tanpa ada kepastian dalam hal itu, maka...

Iuran Anggota dan Mahar Politik

Awal tahun 2018, sebagai tahun politik, ditandai dengan mencuatnya isu ikatan politik yang lazim disebut sebagai mahar politik --kesepakatan antara pimpinan elite partai dengan...

MAARIF Institute Mencegah Bullying

Kasus bullying di kalangan pelajar terus saja terjadi meskipun sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya. Yang tengah hangat menjadi perbincangan publik dan viral di...

Cak Nur, Gus Dur, Kuntowijoyo, dan Tradisi Intelektual Islam

“Cobalah kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini: Ketika Imam Al- Ghazali menulis karya yang ditujukan untuk mengkritik  para filsuf muslim, khususnya Ibn...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Belakangan ini aksi teror semakin merajalela. Atau bisa dikatakan semakin akut. Hal ini sungguh memprihatinkan sekaligus meresahkan masyarakat. Kareana dengan adanya sederet peristiwa ini otomatis akan menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat.

Masyarakat akan takut untuk berkegiatan, bekerja, beraktivitas sehari-hari, dan terutama bepergian ke tempat yang ramai. Seperti mall, pasar, tempat pariwisata, dan terutama tempat ibadah dimana belakangan ini adalah sasaran utama para teroris untuk melancarkan aksinya.

Di belakang itu, kalau tidak segera di tuntaskan, tentunya akan menimbulkan dampak-dampak lainnya. Pihak internasional akan melarang warganya melancong ke Indonesia. Hingga akhirnya perekonomian akan melambat.

Transaksi yang dilakukan masyarakat Indonesia sendiri akan menurun, lalu dengan berkurangnya pelancong yang datang ke Indonesia obyek pariwisata akan makin sepi, dan tentu akan menghalangi masuknya uang ke dalam negeri. Dan banyak lagi dampak yang terjadi dalam aspek-aspek lain.

Dengan perhitungan kerugian yang akan diterima oleh Indonesia, tiada lain pemerintah harus segera bertindak tegas dengan para terduga maupun yang sudah pasti teroris beserta sel jaringan yang ada di seluruh Indonesia.

Semua yang Dilakukan Pemerintah Dianggap Salah

Namun jadi persoalan ketika belakangan ini sedang menjadi tren apapun yang dilakukan pemerintah semua salah! Apakah dalam kondisi genting ini, tren seperti ini masih akan berlanjut? Kalau iya, tentu secara psikologis akan menghambat pemerintah untuk menuntaskan aksi radikalis ini.

Dan yang benar saja, pasca pengeboman yang dilakukan oleh teroris di Surabaya, politisi senayan yang juga Wakil Ketua DPR yang gemar menyalahkan Pemerintah Fadli Zon justru mengkambing hitamkan Pemerintah. Bagi saya dalam kondisi seperti ini tidak etis melontarkan komentar yang tendensius seperti itu. Berikut cuitan Fadli di akun twitternya yang saya kutip dari news.detik.com (14/05).

“Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata,” cuit Fadli.

Seharusnya masyarakat bersatu-padu mendukung Pemerintah untuk memberantas teroris sampai ke akar-akarnya. Bukan malah memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan politik yang sangat tendensius.

Trust Kepada Pemerintah

Praktisi Pendidikan lulusan S2 Universitas Negeri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Mukhrodi, M.Pd, mengatakan bahwa trust kepada Pemerintah sangat penting. Karena kalau dis trust kepada Pemerintah menjadi tren, bisa berujung pada dis integrasi bangsa.

Trust kepada Pemerintah sangat penting, apalagi ketika Indonesia dalam di bawah ancaman terorisme seperti sekarang ini. Karena dis trust yang tak terkendali akan berdampak pada dis abilion, dan setelah itu dampak yang terbesar adalah dis integrasi bangsa”, tuturnya dalam diskusi di warung kopi Lembayung Yogyakarta.

Mukhrodi juga menuturkan bahwa Pemerintah harus segera memutus sel-sel teroris di daerah sejak dini, jangan sampai kecolongan dan deretan pengeboman terus terjadi. Karena hal itu adalah diantara cara paling efektif untuk mengatasi kondisi yang makin parah ini.

Memang benar tindakan radikal berawal dari pengaruh ideologi. Namun katakanlah misalnya urusan ini kita kembalikan pada lembaga pendidikan, tak akan serta merta menyelesaikan persoalan.

Lembaga pendidikan sebagai wahana pendidikan, yang salah satunya punya tugas mendidik menwahana pendidikang counter ideologi ekstremis adalah langkah yang bersifat jangka panjang. Hal itu sangat penting, namun untuk segera menyelesaikan persoalan yang genting ini tidaklah tepat untuk berbcara bagaimana peran lembaga pendidikan.

Yang harus dilakukan saat ini adalah Pemerintah dan semua lapisan masyarakat bersatu memerangi terorisme ini. Jangan ada distrust kepada pemerintah, apalagi memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan politik praktis.

Dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, secara psikologis Pemerintah akan lebih bisa melakukan langkah-langkah persuasif, memutus dan memberantas sel-sel teroris yang ada di seluruh daerah di Negeri ini.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.