Senin, April 12, 2021

Aksi Klithih KPK

Menjamurnya Perda Berbasis Syariat Islam Pasca Reformasi

Momentum reformasi pada 1998 yang diiringi dengan serangkaian aturan terkait desentralisasi, sedikit banyak telah memberikan gairah baru bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. UU Otonomi yang...

Etos Sosial Landasan Gerakan Muhammadiyah: Refleksi Milad ke 106

Etos, menurut pengertian sosiologis tertentu, adalah “sekumpulan ciri-ciri budaya, yang dengannya suatu kelompok membedakan dirinya dan menunjukan jati dirinya yang berbeda dengan kelompok-kelompok lain”. Definisi...

Indonesia yang Tak Mudah

"Men-jadi Indonesia" terdapat dua hal, yakni tentang "luar" dan "dalam". Sedangkan "tak mudah" adalah syarat yang selalu mengikuti kedua hal tersebut. "Luar" di sini maksudnya...

Tragedi, Refleksi atas Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610

“Ketika kita menemui tragedi nyata di dalam hidup, kita bisa bereaksi dalam dua cara; dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan yang menghancurkan,...
Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas

Merajalelanya aksi Klithih beberapa waktu terakhir, menimbulkan keprihatinan dan kekawatiran bagi masyarakat. Aksi Klithih yang dilakukan tidak pandang waktu ini bahkan sudah dalam level meresahkan seluruh lapisan masyarakat.

Istilah Klithih yang awalnya muncul atau ngetren di daerah Yogyakarta ternyata mulai merambah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia yang notabenya menjadi garda terdepan untuk membasmi aksi korupsi di Indonesia. KPK cenderung menampilkan aksi-aksi Klithih yang di pertontonkan dihadapan Publik pada masa-masa awal kepemimpinan KPK Jilid V ini.

Aksi Klithih di Yogyakarta

Akhir tahun 2019 dan Awal tahun 2020 jagat maya Twitter berkali-kali ramai dengan #DIYdaruratklithih. Aksi kejahatan jalanan yang dilakukan oleh para remaja usia sekolah dan kebanyakan dilakukan malam hari mengakibatkan banyak korban. Korban rata-rata mengalami luka-luka bahkan berujung kepada kematian, akibat penganiayaan oleh para pelaku Klithih.

Kamis (9/1/2020) Fathur Nizar Rakadio (16) meninggal dunia setelah menjadi korban klithih di Imogiri Bantul pada Desember 2019 lalu setelah sebelumnya mendapatkan perawatan medis namun tidak tertolong. Afrizal mengalami luka-luka setelah dibacok menggunakan senjata tajam sebanyak empat kali, saat akan membeli pulsa di daerah Deyangan, Mertoyudan.

Pada 1 Februari 2020 seorang driver ojek online menjadi korban klitih di Sleman saat korban mengantarkan penumpang, kejadian sekitar pukul 03.00 WIB. Kasus klitih lainnya yakni para pelaku klitih sempat merusak warung penyetan secara barbar dan pelemparan batu ke kendaraan yang menimpa beberapa pelajar di Sleman.

Arti Klithih

Mengutip dari krjogja.com dan yogyakarta.kompas.com yang Dirangkum dari beragam sumber “Klitih atau Klithih” (klithihan atau nglithih) merupakan sebuah (kosa) kata dari bahasa Jawa yang bergenre Jogjaan. Kata klitih bentuk kata ulang yaitu klitah-klitih yang bermakna bolak balik agak membingungkan. Hal tersebut berdasarkan Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito yang dijelaskan di Harian Kompas pada 18 Desember 2016.

Pranowo pakar bahasa jawa sekaligus Guru Besar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menjelaskan bahwa klithah-klithih masuk kategori dwilingga salin suara atau kata ulang berubah bunyi seperti pontang-panting dan mondar-mandir. Namun ia mengartikan klithih sebagai keluyuran yang tak jelas arah.

“dulu, klithah-klithih sama sekali tidak ada unsur negatif, tapi sekarang dipakai untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan dan kriminalitas. Katanya pun dipakai hanya sebagian, menjadi klithih atau nglithih yang maknanya cenderung negatif,” ujarnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Klithih adalah sebuah kegiatan atau aktivitas dari seseorang atau sekelompok orang yang keluar “rumah” tanpa tujuan atau hanya sekedar jalan-jalan (bisa disamakan dengan kata Keluyuran).

Aksi Klithih KPK RI

Pimpinan KPK Jilid V mendapatkan sorotan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) dan masyarakat. Sebab gaya kepemimpinan Komjen Firli Bahuri Cs belakangan ini terlalu banyak dan sering melakukan Klithih “Keluyuran” ke Instansi-instansi pemerintah. Tercatat beberapa kali Aksi Klithih yang dilakukan oleh Ketua KPK Cs pada masa-masa awal kepemimpinan.

Pada Senin (6/1/2020) Pimpinan KPK menyambangi Kapolri Jenderal Pol Idham Azis di Mabes Polri. Selasa (7/1/2020) menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kementerian Keuangan dan mendatangi Kantor Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).

Selasa (14/1/2020) menemui Ketua MPR di gedung MPR/DPR senayan. Selasa (28/1/2020) datang ke Kantor BUMN dan ke Kantor Kementerian Agama, Serta pada Jum’at pagi (31/1/2020) menyambangi Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Masyarakat wajar menilai safari yang dilakukan oleh Firli Cs sama halnya dengan Aksi Klithih “Keluyuran” yang tidak penting. Apalagi tercatat datang ke DPR lebih dari dua kali, bahkan sempat memamerkan mengoreng nasi goreng pada saat silaturahmi di rumah Dewan Pengawas (Dewas) KPK.

Apa yang dipertontonkan oleh Firli Cs (Safari “Aksi Klithih/Keluyuran” dan Mengoreng) seharusnya tidak perlu di tampilkan di depan publik, terlebih dengan beberapa kasus yang sedang menjadi sorotan oleh publik pada awal-awal masa kepemimpinan mereka. Salah satunya kasus yang menjadi sorotan yakni terkait kasus Harun Masiku yang tak kunjung ditemukan, pengeledahan Kantor PDI-P yang tak kunjung dilakukan KPK dan pemanggilan saksi, namun berhak menunjuk pihak lain.

Harapan Besar Masyarakat

Publik ingin melihat sepak terjang dari para pimpinan KPK Jilid V yang besar harapnya lebih Garang dari pada priode KPK Jilid 1 sampai IV.  Bukannya membuat pesan dan kesan kemunduran di tubuh KPK dan Bukan lagi Aksi Klithih yang diharapkan oleh masyarakat.

Masyarakat ingin apa yang dilakukan dan dipertontonkan oleh Ketua KPK pada saat menjadi Koki memasak Nasi Goreng dilakukan kepada para Koruptor. Ketua KPK wajib mempertontonkan kepada masyarakat bahwa Ketua KPK Jilid V merupakan Koki Anti Korupsi dengan bukan lagi Mengoreng Nasi Goreng melainkan Mengoreng Para Koruptor.

Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.