Kamis, Maret 4, 2021

Aksi Klithih KPK

Timnas Kita Kalah Adu Strategi

Tim sepak bola Nasional Indonesia U-23 bertanding kembali dengan tim Nasional Vietnam dalam babak final di ajang SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial,...

Buruh “Yang Salah” dalam Wacana Kesetaraan Demokrasi

Seakan tidak pernah lepas perselisihan antara buruh dan demokrasi di Indonesia. Problematika Omnibus Law yang terus menarik pita suara para aktivis dan buruh untuk...

Salah Kaprah Memperjuangkan Identitas Agama

Di banyak tempat, agama cukup sensitif untuk dibahas. Tidak hanya antar agama, bahkan perbedaan pandangan di dalam agama itu sendiri. Banyak di antaranya mencoba...

Tentang Makan, Dulu, Kini, dan Nanti

Di periode awal peradaban manusia, makan dimaknai sederhana, sekadar pemenuhan kebutuhan bertahan hidup. Sumber makanan diperoleh dari apapun yang bisa diperoleh dari alam. Lalu...
Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas

Merajalelanya aksi Klithih beberapa waktu terakhir, menimbulkan keprihatinan dan kekawatiran bagi masyarakat. Aksi Klithih yang dilakukan tidak pandang waktu ini bahkan sudah dalam level meresahkan seluruh lapisan masyarakat.

Istilah Klithih yang awalnya muncul atau ngetren di daerah Yogyakarta ternyata mulai merambah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia yang notabenya menjadi garda terdepan untuk membasmi aksi korupsi di Indonesia. KPK cenderung menampilkan aksi-aksi Klithih yang di pertontonkan dihadapan Publik pada masa-masa awal kepemimpinan KPK Jilid V ini.

Aksi Klithih di Yogyakarta

Akhir tahun 2019 dan Awal tahun 2020 jagat maya Twitter berkali-kali ramai dengan #DIYdaruratklithih. Aksi kejahatan jalanan yang dilakukan oleh para remaja usia sekolah dan kebanyakan dilakukan malam hari mengakibatkan banyak korban. Korban rata-rata mengalami luka-luka bahkan berujung kepada kematian, akibat penganiayaan oleh para pelaku Klithih.

Kamis (9/1/2020) Fathur Nizar Rakadio (16) meninggal dunia setelah menjadi korban klithih di Imogiri Bantul pada Desember 2019 lalu setelah sebelumnya mendapatkan perawatan medis namun tidak tertolong. Afrizal mengalami luka-luka setelah dibacok menggunakan senjata tajam sebanyak empat kali, saat akan membeli pulsa di daerah Deyangan, Mertoyudan.

Pada 1 Februari 2020 seorang driver ojek online menjadi korban klitih di Sleman saat korban mengantarkan penumpang, kejadian sekitar pukul 03.00 WIB. Kasus klitih lainnya yakni para pelaku klitih sempat merusak warung penyetan secara barbar dan pelemparan batu ke kendaraan yang menimpa beberapa pelajar di Sleman.

Arti Klithih

Mengutip dari krjogja.com dan yogyakarta.kompas.com yang Dirangkum dari beragam sumber “Klitih atau Klithih” (klithihan atau nglithih) merupakan sebuah (kosa) kata dari bahasa Jawa yang bergenre Jogjaan. Kata klitih bentuk kata ulang yaitu klitah-klitih yang bermakna bolak balik agak membingungkan. Hal tersebut berdasarkan Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito yang dijelaskan di Harian Kompas pada 18 Desember 2016.

Pranowo pakar bahasa jawa sekaligus Guru Besar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menjelaskan bahwa klithah-klithih masuk kategori dwilingga salin suara atau kata ulang berubah bunyi seperti pontang-panting dan mondar-mandir. Namun ia mengartikan klithih sebagai keluyuran yang tak jelas arah.

“dulu, klithah-klithih sama sekali tidak ada unsur negatif, tapi sekarang dipakai untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan dan kriminalitas. Katanya pun dipakai hanya sebagian, menjadi klithih atau nglithih yang maknanya cenderung negatif,” ujarnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Klithih adalah sebuah kegiatan atau aktivitas dari seseorang atau sekelompok orang yang keluar “rumah” tanpa tujuan atau hanya sekedar jalan-jalan (bisa disamakan dengan kata Keluyuran).

Aksi Klithih KPK RI

Pimpinan KPK Jilid V mendapatkan sorotan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) dan masyarakat. Sebab gaya kepemimpinan Komjen Firli Bahuri Cs belakangan ini terlalu banyak dan sering melakukan Klithih “Keluyuran” ke Instansi-instansi pemerintah. Tercatat beberapa kali Aksi Klithih yang dilakukan oleh Ketua KPK Cs pada masa-masa awal kepemimpinan.

Pada Senin (6/1/2020) Pimpinan KPK menyambangi Kapolri Jenderal Pol Idham Azis di Mabes Polri. Selasa (7/1/2020) menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kementerian Keuangan dan mendatangi Kantor Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).

Selasa (14/1/2020) menemui Ketua MPR di gedung MPR/DPR senayan. Selasa (28/1/2020) datang ke Kantor BUMN dan ke Kantor Kementerian Agama, Serta pada Jum’at pagi (31/1/2020) menyambangi Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Masyarakat wajar menilai safari yang dilakukan oleh Firli Cs sama halnya dengan Aksi Klithih “Keluyuran” yang tidak penting. Apalagi tercatat datang ke DPR lebih dari dua kali, bahkan sempat memamerkan mengoreng nasi goreng pada saat silaturahmi di rumah Dewan Pengawas (Dewas) KPK.

Apa yang dipertontonkan oleh Firli Cs (Safari “Aksi Klithih/Keluyuran” dan Mengoreng) seharusnya tidak perlu di tampilkan di depan publik, terlebih dengan beberapa kasus yang sedang menjadi sorotan oleh publik pada awal-awal masa kepemimpinan mereka. Salah satunya kasus yang menjadi sorotan yakni terkait kasus Harun Masiku yang tak kunjung ditemukan, pengeledahan Kantor PDI-P yang tak kunjung dilakukan KPK dan pemanggilan saksi, namun berhak menunjuk pihak lain.

Harapan Besar Masyarakat

Publik ingin melihat sepak terjang dari para pimpinan KPK Jilid V yang besar harapnya lebih Garang dari pada priode KPK Jilid 1 sampai IV.  Bukannya membuat pesan dan kesan kemunduran di tubuh KPK dan Bukan lagi Aksi Klithih yang diharapkan oleh masyarakat.

Masyarakat ingin apa yang dilakukan dan dipertontonkan oleh Ketua KPK pada saat menjadi Koki memasak Nasi Goreng dilakukan kepada para Koruptor. Ketua KPK wajib mempertontonkan kepada masyarakat bahwa Ketua KPK Jilid V merupakan Koki Anti Korupsi dengan bukan lagi Mengoreng Nasi Goreng melainkan Mengoreng Para Koruptor.

Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.