OUR NETWORK

Aksi Corbuzier: Dari Agresivitas Daring hingga Luring

Terhitung sudah beberapa kali mantan pesulap itu mempidanakan haters yang menyudutkannya dengan ujaran kebencian.

Menilik perkembangan ranah maya akhir-akhir ini, tidak berlebihan rasanya ketika saya mengibaratkan internet sebagai kandang yang tepat untuk menternak-biakkan ujaran kebencian. Beragam drama miris, amoral, hingga yang memalukan dipertontonkan di ranah maya, dan aneka polah dan ucapan tak senonoh bertebaran di Internet tanpa bisa dibendung lagi.

Tak usah jauh-jauh melihat, dengan sekali ketukan layar gawai, media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Telegram, dan lain sebagainya banyak memuat konten dan komentar negatif dari warganet. Namun di sini, saya hanya akan mengulik aksi Deddy Corbuzier yang kerap menjadi sorotan karena memburu haters yang menyerangnya di media sosial.

Terhitung sudah beberapa kali mantan pesulap itu mempidanakan haters yang menyudutkannya dengan ujaran kebencian. Misalnya Aril Elda (2015), Anton Nugroho (2016), dan banyak lagi orang-orang yang tak disebutkan namanya telah ditangkap karena melancarkan agresi verbal kepada Corbuzier.

Aksi Corbuzier memburu haters-nya yang mengeluarkan ujaran kebencian memang tak salah, kendati menuai pro-kontra. Apalagi terdapat payung hukum UU ITE yang menaungi tindakannya sehingga Corbuzier bisa dikatakan –nyaris– selalu berhasil menangkap orang-orang yang menantang atau menyerukan ujaran kebencian kepadanya.

Sebut saja Anton Nugroho yang melancarkan agresi verbal kepada Deddy Corbuzier sekaligus Chika Jessica, yang saat itu berstatus sebagai pacar Corbuzier. Ujaran kebenciannya yang menyinggung SARA menjadikan Corbuzier berang. Adapun verbatim ucapan Anton: “Ngapain pergi umroh kalau kamu masih ngent*t dengan si Kristen Deddy Corbuzier, dasar per*k,” ujarnya yang ditulis di salah satu kolom komentar postingan foto Instagram Chika.

Menilik pada faktor-faktor dan alasan ujaran kebencian dilontarkan, Walters and Brown (2006) menyebutkan bahwa salah satunya disebabkan kekecewaan terhadap tindakan tertentu yang dilakukan objek yang menjadikan si pembuat ujaran kebencian menyatakan hal-hal negatif tentangnya.

Dalam hal ini, sebagaimana yang diakui Anton, ucapan kasar (agresi verbal) yang dia tujukan kepada Chika merupakan kekecewaannya karena Chika berpacaran dengan Corbuzier. Apalagi selama ini, Anton merupakan fans Chika. Dan Sialnya, ucapan yang dia lontarkan di Instagram juga menyinggung Corbuzier sehingga ditindak-lanjuti oleh lelaki plontos ini hingga sampai di ranah hukum.

Aksi Corbuzier menyeret haters-nya merupakan agresi tak langsung yang ditujukan sebagai pembelaan diri. Teori etologis dari agresi (Lorenz, 1966) menyatakan bahwa agresi dilakukan sebagai bentuk bela diri dari gangguan dan ancaman dari orang lain. Tak heran, jika Corbuzier membalas ujaran kebencian dari hatersnya dengan agresi tak langsung dengan jalur hukum.

Sejujurnya, kita pun jika dimaki-maki oleh orang lain atau menjadi objek ujaran kebencian, secara naluriah (tentu akan) merasa tersinggung. Dan tindakan agresi pun dilakukan sebagai upaya penyesuaian diri sehingga memiliki nilai survival bagi manusia, sekecil apapun itu.

Referensi

Lorenz, K. 1966. On Aggression. Methuen: London

Walters, M.A. & Brown, R. 2006. Causes dan Motivations of Hate Crime. Equality and Human Rights Commission Research Report, 102, July 2016

Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…