OUR NETWORK

Akankah yang “Pribumi” punah?

Mungkin dalam judul di atas, kita tak tahu apa yang ingin disampaikan melalui tulisan ini. Namun, memang ada kaitannya dengan pidato pak Anies Baswedan.

Isi pidato pak Anies Baswedan dapat dipastikan menyebut “pribumi” sebagai korban. Ini dapat dilihat dari penekanan katanya juga terhadap kata “kolonialisme”. Kedua kata tersebut pasti berlawanan, dan tidak bisa dipersatukan. Inilah salah satu cara beliau mempersatukan kita.

Mungkin sebagian dari kita merupakan sesuatu yang sudah pasti tak lepas dari politik, dan mungkin sebagian dari kita memandang hal itu sebagai sesuatu yang positif. Namun, kedua hal tersebut itu tak sepatutnya kita abaikan. Kita harus menimbangnya, dan melihatnya dari pada sekedar tahu belaka.

Sebagaimana juga diketahui kalau salah satu cara untuk mempertahankan budaya yaitu melalui bahasa. Misalnya mengapa sampai sekarang kaum Yahudi masih bisa bertahan, itu disebabkan karena adanya bahasa tersendiri mereka yang menjadi pemersatu mereka, sehingga sampai sekarang pun mereka tetap ada. Begitu juga dengan kaum Muslimin, sampai sekarang mereka bisa ekses, karena bahasa Arab yang tetap mempertahankannya.

Ini pernah diungkapkan oleh satu pemikir Timur yang penulis tak bosan-bosannya menyebutkannya. Dia juga menambahkan ketika bahasa menjadi pemersatu kita malah isu agama yang mencuat, dan begitu juga sebaliknya, ketika agama menjadi pemersatu kita malah isu bahasa yang justru mencuat.

Kemarin kita sudah melihat dari aksi damai kaum Muslimin 212, yang memang berusaha menindak kasus yang tidak adil. Tak dapat dipungkiri kaum muslimin bukan hanya kalangan minoritas, tapi sudah menjadi mayoritas yang ada di Indonesia. Jumlahnya tak bisa lagi dihitung dengan jari-jari yang kita miliki. Mengapa mereka bisa bersatu dapat dilihat dari bahasanya, ada berapa banyak yang mengungkapkan ayat-ayat untuk menyatukan kaum Muslimin. Ayat-ayat sama halnya pengungkapan bahasa. Dan inti dari bahasa tersebut bukan termasuk jumlahnya, melainkan sifat kepemilikan yang dihasilkan dari bahasa itu.

Sifat kepemilikan inilah yang menyatukan umat Muslim, sebagai simbol pemersatu. DI sisi lain, ketika kita merasa damai dengan hal tersebut, justru lahirlah bahasa yang bisa dikatakan baru tapi sudah lama ada, yaitu kata “pribumi”.  

Ketika bahasa menjadi pemersatu kita malah isu agama yang mencuat, dan begitu juga sebaliknya, ketika agama menjadi pemersatu kita malah isu bahasa yang justru mencuat.

Beberapa dari kita mungkin sepakat dengan hal itu, tapi itu merupakan ungkapan bahasa, atau lebih tepatnya keberadaan kita. Pribumi adalah sesuatu yang bersifat bersejarah dan asali. Tak ada negara mana pun yang tak pernah tak mengalami masa-masa yang menjadi pribumi.

Akankah pribumi akan punah?

Pertanyaan ini mungkin harus kita tekankan dalam pemikiran kita. Kata sebagaimana ia dalam bahasa, tak akan pernah utuh dalam mengungkapkan diri kita. Dia akan selalu lahir kembali dan bahkan berlawanan, dan tak pernah damai.

Ada yang memakainya sebagai alat politik. Misalnya menggunakan kesempatan ini untuk mengumbarkannya dari segi moral, dan membangkitkan kita melawan kolonialisme yang secara tak langsung merupakan hal yang berhubungan dengan darah dan kulit, ada juga yang menggunakannya sebagai alat bisnis, sehingga tulisannya menjadi alat penghasil uang.

Namun, tak sepatutnya kita menyebut satu per satu alasan personal itu di dalam tulisan ini. Yang menjadi patut yang diperhatikan adalah rasa kekacauan yang dihasilkan dari kata-kata tersebut.

Sebenarnya ada beberapa yang menganalisis hal serupa, pengungkapan diri melalui kata-kata. Derrida, salah satu tokoh semiotik, mengatakan bahwa pengungkapan diri melalui kata-kata ini tak bakalan pernah usai. Misalnya dapat dilihat dalam ungkapan sebuah keadilan. Apakah keadilan itu bagi kita? Apakah keadilan hanya ada di dalam hukum? Sedangkan di luar hukum itu bukan hal yang adil? Misalnya saja jika kita mempraktikkannya dalam membaca buku. Apakah perspektif kita sama dengan perspektif sang penulis? Dan bahkan bukan hanya itu, apa yang tidak diungkapkan oleh penulis dalam tulisannya juga merupakan sesuatu yang bukan adil.

Di dalam sebuah analogi maling kundang sebagai contoh, dapat kita lihat bahwa yang durhaka itu adalah anaknya dan bukan ibunya, tapi jika kita melihat konsep kedurhakaan masa kini, itu justru sebaliknya. Anak bisa durhaka karena ibunya sendiri tak mampu mendidiknya dengan baik. Apa yang tak diungkapkan dalam sebuah tulisan malah bukanlah sesuatu yang adil, dan itu selalu terabaikan.

Namun itu cara khas dari seorang Derrida mengungkapkan keberadaan melalui kata-kata. Jika kita mengkaji pribumi, sebaiknya kita tidak mengabaikan yang tak terungkap itu.

Kekacauan kata-kata dalam diri juga pernah diulas oleh salah satu pemikir Marxisme, Slavoj Žižek. Selama kita hidup kata-kata akan tak pernah berdamai dalam mengungkapkan diri kita. Itu akan saling menghancurkan satu sama lain, dan solusinya adalah dorongan kematian.

Metode Zizek bisa dikatakan sangat menarik dan itu juga terjadi di dalam agama Islam. Itu karena ada ungkapan dalam sebuah hadist, sabda Nabi Muhammad. “Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok,” ungkapan inilah yang bisa memperdamaikan kita dengan ungkapan diri yang tak bisa didamaikan oleh kata-kata.

Punah atau tidaknya kata pribumi itu tak sebaiknya kita berpikir negatif terhadapnya, tapi lebih baik berpikir bijak, dan positif dalam ungkapan pak Anies Baswedan itu. Lagi pula, toh, itu membuang banyak waktu dan menguras banyak energi kita untuk mengulasnya lebih dalam.

Penulis Misantropis

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…